Rabu, 17 Januari 2018 12:02 WIB

Internasional

Tiga Bom ISIS Tewaskan 41 Orang

Editor:

INDOPOS.CO.ID – Bekas kekejian militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tergambar jelas di gedung Pusat Budaya Muslim Syiah itu. Darah menggenang dan potongan tubuh tersebar di berbagai sudut bangunan di Kabul, Afghanistan, tersebut. Di tempat itulah, Kamis (28/12), seorang anggota ISIS meledakkan diri. Sekitar 41 orang lainnya ikut tewas dan 84 lainnya luka-luka. Jumlah korban tewas bisa merangkak naik lantaran banyak korban luka yang kritis.

Kantor berita Reuters mengungkapkan, saat kejadian pada pukul 10.30 waktu setempat, ada sekitar 100 penduduk dan mahasiwa yang tengah meriung di basement gedung tersebut. Mereka berada di sana untuk memperingati 38 tahun invasi Uni Soviet ke Afghanistan.

Sesaat kemudian, dua bom lainnya juga meledak. Tapi, bukan bom bunuh diri. Ada dugaan, serangan susulan itu ditujukan ke orang-orang yang datang menolong. Dengan demikian, korban jiwa lebih masif.

Pengamanan yang lemah di gedung tersebut membuat para pelaku leluasa melakukan aksinya. Belum diketahui jumlah pelaku serangan tersebut yang tewas maupun melarikan diri.

Beberapa jam setelah serangan, media Amaq milik ISIS melansir pernyataan bahwa mereka bertanggung jawab. Mereka menggunakan tiga bom. Salah satunya dipakai pelaku bom bunuh diri.

Pernyataan itu sesuai dengan keterangan para saksi yang menjadi korban luka. Warga Syiah selama ini memang menjadi sasaran serangan ISIS. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pun geram atas kebiadaban ISIS tersebut. ”Teroris telah menyerang masjid-masjid kita, tempat-tempat suci kita, dan kini pusat kebudayaan kita,” katanya.

Ghani berjanji membasmi ISIS agar serangan serupa tidak terulang. ”Ini adalah serangan terhadap Islam dan nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.

Wakil Menteri Kesehatan Afghanistan Feda Mohammad Paikun mengungkapkan, jenazah korban telah dibawa ke Istiqlal Hospital. Rumah sakit itu dipenuhi korban luka maupun tewas.  Mereka memanggil lebih dari 50 dokter dan perawat dari rumah sakit lain untuk membantu para korban. Penduduk juga berdatangan ke RS baik itu untuk mencari keluarganya yang menjadi korban maupun menyumbangkan darah.  ”Setelah ledakan, ada tembakan dan asap dari dalam gedung. Semua orang meminta pertolongan,” ujar Mohammad Hasan Razayee, salah seorang mahasiswa yang termasuk korban luka. Sebagian wajahnya terbakar.

Gedung itu tidak hanya dimanfaatkan untuk pusat budaya. Tapi, juga untuk masjid Syiah dan kantor media Afghan Voice. Sangat mungkin ISIS sebenarnya mau menyerang kantor media di lantai 2 itu.

Selama ini media yang dimiliki Sayed Eissa Hussaini Mazari itu sangat pro-Iran yang mayoritas penduduknya pemeluk Syiah. Seorang jurnalis Afghan Voice ikut menjadi korban tewas. Kaca-kaca jendela di kantor mereka hampir seluruhnya pecah. ”Mazari adalah pendukung kuat Iran dan publikasi di medianya didominasi berita-berita dari Iran,” ujar Mohammad Asif Mesbah, anggota senior dewan ulama Syiah, seperti dilansir Associated Press.

Kematian jurnalis Afghan Voice itu kian menunjukkan bahwa Afghanistan merupakan salah satu negara yang paling berbahaya bagi pekerja media. Posisinya kedua setelah Syria.

Afghan Journalists Safety Committee (AJSC) mengungkapkan bahwa serangan terhadap para pekerja media terus meningkat setiap tahun. Sepanjang 2017 ini ada 73 kasus. Itu naik 35 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.  ”Jurnalis dan penduduk sipil terus menjadi target kelompok bersenjata,” ujar Direktur Amnesty International Wilayah Asia Selatan Biraj Parnaik. (sha/c10/ttg)

 

 

Berita Terkait

Eksodus di Syria Terus Melonjak

Internasional

Terancam ISIS, Kopassus Jaga KBRI Kabul

Internasional

Pelaku Bom New York Simpatisan ISIS Asal Bangladesh

Internasional

Polisi: Kematian Bahrun Naim Masih Misterius

Nasional

ISIS Serang Masjid di Mesir, 305 Jiwa jadi Korban

Internasional

Serangan Brutal di Masjid, MUI: Perbuatan Biadab

Internasional