Selasa, 16 Januari 2018 06:53 WIB

Hukum

Oknum Polisi Merampok, Uang Miliaran Dikubur di Tanah

Editor:

Foto : istimewa

INDOPOS.CO.ID - Tak sampai 24 jam. Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Selatan (Kalsel) meringkus dua pelaku perampokan uang Bank Mandiri Cabang Tanjung sebanyak Rp 10 miliar, Jumat (5/1) dini hari di dua tempat berbeda. Salah satu pelaku adalah oknum anggota polisi yang bertugas di Polres Tabalong, atas nama Brigadir Jumadi dengan NRP 86030450.

Jumadi dicokok di salah satu rumah saudaranya di Komplek Puritama III Landasan Ulin, Banjarbaru pada pulul 09.00 Wita. Sebelumnya, jajaran Polda Kalsel yang dipimpin Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kombes Pol Sofian Hidayat meringkus terlebih dahulu pelaku lain atas nama Yongki Susanto alias Jawa di Desa Cakung Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong pada pukul 05.00 Wita dini hari.

Di sekitar belakang rumah saudara Jumadi, tak jauh dari septic tank uang hasil rampokan dikubur tersangka. Meski demikian, uang yang ditemukan ketika itu hanya sebesar Rp 4,6 miliar. Padahal, laporan yang masuk ke polisi, uang yang di rampok pelaku totalnya sebesar Rp 10 miliar.

Kapolda Kalsel Brigader Jenderal Rachmat Mulyana saat menggelar jumpa pers hasil pengungkapan kasus ini kemarin menjelaskan, kejadian yang mencoreng nama institusi Polri ini bermula pada Kamis (4/1), pukul 06.30 Wita, salah seorang sopir Bank Mandiri atas nama Gugum menghubungi Jumadi untuk mengawal pengambilan uang di Kantor Bank Mandiri Cabang Banjarmasin.

Jumadi pun mengiyakan. Sekitar pukul 07.30 Wita, dia menghubungi anggota Polres Tabalong untuk pinjam pakai senjata api serta izin tidak melaksanakan apel karena tengah melaksanakan giat pengawalan bank. Sekitar pukul 08.15 Wita, pelaku bersama Gugum dan salah seorang karyawan Bank Mandiri cabang Tabalong bernama Atika berangkat dari Polres Tabalong menuju Banjarmasin dengan menggunakan Toyota Avanza hitam berplat nomor DD 1182 KE.

Ketiganya baru tiba di Bank Mandiri Cabang Banjarmasin di Jalan Pangeran pada pukul 14.00 Wita. Atika dan Gugum masuk ke bank untuk mengambil uang yang terdiri dari pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 6 miliar, pecahan Rp 50 ribu senilai Rp 4 miliar dan pecahan USD 100 sebanyak USD 25 ribu.

Usai mengambil uang tersebut, sekitar pukul 14.30 Wita ketiganya pun kembali ke Tabalong. Di sinilah niat jahat Jumadi dimulai. Ketika itu, mereka bermaksud mampir makan siang di RM Wong Solo sekitar Bundaran Banjarbaru. Namun, Jumadi menyarankan untuk makan siang di Soto Anang Martapura, namun keputusan akhir di RM Wong Solo.

Usai menyantap makan siang. Mereka pun persiapan melanjutkan perjalanan ke Tabalong. Namun tanpa diduga naik laki-laki berkulit hitam, berambut ikan, gempal, berbaju kaos, yang diketahui bernama Yongki alias Jawa. Ikutnya Yongki ini dengan alasan mengambil sesuatu di Martapura, sehingga mobil mengarah ke Polsek Martapura Kota.

Alih alih menuju Tabalong, ternyata mobil menuju ke lokasi sepi di kawasan Jembatan Martapura. Ketika itu Jumadi langsung menodongkan pistol kepada Gugum yang asyik menyetir. Di kursi belakang, Yongki pun tak diam. Dia menjerat Atika dengan lakban. Hingga keluar kalimat ancaman. ”Turuti saja perintah Jumadi, kalo tidak, saya bolongin kamu,” kata pelaku dengan logat Tabalong yang kental.

Kedua korban diikat. Gugum diborgol hingga mata dan mulutnya di lakban. Begitu pula Atika, kedua belah tangan dan kakinya juga diikat dengan lakban. Posisi sopir pun berganti. Gugum diperintahkan pindah ke samping dan yang menjadi sopir adalah Jumadi.

Dibeberkan Rachmat, korban sempat beberapa kali melihat melalui celah lakban dan mengetahui kendaraan berbalik arah menuju Banjarmasin, ini diyakini korban, karena melihat Bandara Syamsudin Noor dan melewati Bundaran Liang Anggang, serta  suara bunyi kendaraan besar yang melintas.

Korban pun beberapa kali mendengar kegiatan para pelaku, di mana sekitar 15 menit setelah bergerak ke arah Banjarmasin, pelaku turun keluar dari mobil. Kemudian, obrolan telepon Jumadi yang beberapa kali menyatakan bahwa tempatnya masih ramai. Pelaku beberapa kali mengeluarkan uang dari bagasi belakang yang diduga dipindah ke kendaraan lain.

Mengibuli agar aparat tak dapat mengendus mereka, pelaku cukup pintar. Para korban ditinggalkan di Jalan Trikora, Banjarbaru. Sedangkan mobil yang membawa mereka dari Tabalong ditinggalkan di Jalan Gubernur Subarjo atau Jalan Lingkar Selatan Banjarmasin.  ”Setelah itu pelaku berpencar, ada yang ke Banjarbaru, ada pula yang ke Tabalong,” terang Rachmat.

Dia terlihat geram dengan kasus ini. Jenderal bintang satu itu dengan tegas meminta untuk tidak diinisialkan pelaku Jumadi ini. ”Biasanya didor, kami juga perintahkan untuk dipecat, tentu setelah perkara utamanya selesai melalui sidang kode etik,” ucapnya.

Dia juga menyayangkan terjadi kesalahan SOP terkait pengawalan yang tak menggunakan surat tertulis. Seharusnya ketika meminta pengawalan untuk pengambilan uang yang besar tak hanya lewat telepon. ”Ini menjadi pembelajaran dan akan saya evaluasi,” tegas Rachmat.

Lalu, kapan sisa uang hasil rampokan tersebut diungkap, ia mengaku masih mengembangkan kasus ini. ”Untuk uang sisanya, ini masih dikembangkan, dan kita masih memang belum periksa lebih mendalam, dan ini akan dikembangkan di mana uang sisanya,” tandasnya.

Sementara itu, pelaku Jumadi rencananya ingin kabur ke Jakarta setelah melakukan aksi jahat. Salah satu manifest keberangkatan penumpang pesawat ke Jakarta, ada namanya dengan menumpang pesawat Lion pukul 14.15 Wita pada Jumat (5/1).

Di sisi lain, Kepala Manager Bank Mandiri Banjarmasin yang juga dihadirkan, Adi Mulya mengapresiasi gerak cepat polisi yang berhasi mengungkap kasus ini kurang dari 1x24 jam. ”Ini tentu menjadi prestise tersendiri dan kami sangat berterima kasih sekali,” ujar Adi. Dia menyatakan, besaran uang yang dirampok pelaku sebesar Rp 10 miliar. ”Uang asing tak ada, semua uang pecahan Rupiah,” imbuhnya. (mof/jpg)

Berita Terkait

Heboh Video Istri Gerebek Suami di Kamar Hotel

Nusantara

Oknum Polisi Terlibat Bisnis Haram

Nusantara