Rabu, 17 Januari 2018 06:29 WIB

Nasional

Muchlis Arif, Lestarikan Seni Keramik

Editor:

BUTUH KETELITIAN- Muchlis Arif menunjukkan karya hasil kreasinya dari bahan keramik, Senin (1/1).

INDOPOS.CO.ID - TAK banyak seniman keramik di Malang Raya. Selain tingkat kesulitannya tinggi, pemasarannya juga redup. Meski begitu, Muchlis Arif tetap bertahan. Bahkan dia mengumpulkan pemuda dari berbagai daerah, lantas mengajarinya agar seni keramik tidak mati. Apa yang mendasari perjuangannya?

ARIS DWI KUNCORO, Malang

Rumah Arif di Perumahan Batu Permai, Jalan Merak, itu tampak berbeda dari deretan rumah lainnya. Umumnya, teras rumah di kawasan tersebut bersih dan cocok untuk bersantai. Sementara, teras rumah Arif seperti laboratorium. Beberapa alat terlihat berserakan di meja kayu.

Di sekitar cat warna dan kuas lukis yang berserakan itu, tampak dua tungku. Satu tungku yang berdiri kokoh sudah terbentuk dan berhias warna, sementara tungku lain belum berbentuk. Tungku itu masih berupa tanah liat, menandakan belum dibakar.

Namun, setelah masuk ke ruang tamu, beberapa produk tampak sudah tertata rapi. Ada yang berupa guci, patung, hingga bentuk lainnya. Penataannya juga rapi, dan membuat ruangan tersebut menyerupai galeri seni keramik.”Semua karya ini hasil eksperimen saya. Banyak sekali, jadi saya beri kode sebagai penanda,” ujar Arif sambil menunjukkan beberapa karyanya, kemarin (1/1).

Arif bukan sekadar keramikus, sebutan untuk seniman keramik, tapi dia juga pelestari seni keramik. Kegetolannya melestarikan seni keramik itu terlihat dari perjuangannya. Misalnya, menghimpun keramikus-keramikus muda se-Jawa Timur, lalu menjadikannya dalam satu wadah yang bernama komunitas Tanah Liat. ”Saya gandeng anak-anak muda karena mereka punya ide gila tapi terkendala alat, sehingga keseriusannya di dunia seni keramik rendah,” kata alumnus SMAN 1 Batu itu.

Selain itu, Arif juga memasyarakatkan seni keramik di kampus. Setiap mengajar, Arif menularkan kecintaan terhadap seni keramik di kalangan mahasiswa. Dia bahkan memfasilitasinya. ”Rumah saya sekarang jadi galeri dan tempat latihan,” tutur dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Calon seniman keramik yang dididik Arif tidak hanya dari kalangan mahasiswa. Keramikus-keramikus binaannya merata, mulai bocah yang masih mengenyam pendidikan di PAUD (pendidikan anak usia dini) hingga mahasiswa. Ayah dua anak itu melatih tanpa meminta imbalan. Baginya, yang penting ada regenerasi di dunia seni keramik. ”Sekarang kan era kreatif. Ya bagian dari mencerdaskan kehidupan bangsa lah,” kata ayah Raisa Hajar Matahati dan Azizah Mutiara Matahati tersebut.

Arif rela menyumbang tenaga dan mengikhlaskan rumahnya untuk pelatihan. Itu dia lakukan karena dia merasa miris melihat pudarnya seni keramik. Arif sadar, tidak mudah menekuni dunia seni keramik. Tingkat kesulitan seni keramik tergolong tinggi jika dibandingkan seni lain. Membuatnya harus njelimet dan penuh risiko.

Arif memberi contoh proses pewarnaan antara seni keramik dengan seni lukis. Untuk pewarnaan lukisan, barangkali cukup menyesuaikan dengan cat air. Misalnya merah, tinggal dioleskan warna merah. ”Untuk mendapatkan warna oranye misalnya, cukup mencampur cat air warna merah dengan kuning. Jadilah oranye. Tapi, di seni keramik kan tidak bisa seperti itu,” kata dia sambil tertawa.

Dalam seni keramik, ada warna tunggal dari berbagai unsur kimia, lalu dibakar dengan suhu tertentu sehingga menjadi warna yang diinginkan. Risiko lain, jika sudah dibakar, kadang tidak jadi atau pecah. ”Bisa jadi, karena njelimet dan risiko itulah yang membuat tidak banyak seniman menekuni dunia seni keramik. Sehingga, generasi keramikus pun jarang,” katanya.

Selain itu, pemasaran seni keramik juga redup. Arif menceritakan, usahanya dulu bisa disebut berkembang. Sekitar tahun 2000-an, dia mendapatkan pesanan seni keramik dari berbagai negara. Mulai Italia, Singapura, Kanada, Maldives (Maladewa), dan beberapa negara lain. ”Namun, sejak peristiwa bom Bali pada 2002 lalu, semua eskpor langsung terhenti,” kenangnya.

Alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) itu tidak mengetahui secara pasti korelasi peristiwa ledakan bom Bali dengan mandeknya ekspor keramik. Tapi, Arif juga melihat faktor penyebab lain, yakni maraknya keramik cetak dari Tiongkok.

Meski bisnis keramiknya tidak secemerlang dulu, Arif yakin suatu saat nanti akan bangkit lagi. Setiap memberikan pelatihan kepada anak didiknya, Arif juga memberi motivasi. Sebab dia tahu produk handmade berbeda dengan produk pabrikan. ”Makin banyak produk prabrik, maka produk yang manual (handmade) akan semakin mahal,” tuturnya. Keyakinannya itu mengacu pada bisnis lukisan. ”Buktinya, lukisan bisa sampai miliaran meskipun teknologi cetak atau apa pun sudah ada,” terangnya.

Bagi Arif, menekuni dunia seni keramik tidak semata-mata karena bisnis, tapi karena kecintaannya terhadap seni keramik. Sejak kecil, keluarga Arif sudah mengenalkannya terhadap seni. Mulai seni lukis hingga teater. Tapi, setelah remaja, dia beralih menekuni dunia seni keramik. ”Waktu kuliah di UNS, saya pilih jurusan desain keramik,” papar suami Capri Budijati itu. Kini, berbagai pameran pernah diikutinya. Mulai pameran di Solo, Jogjakarta, Surabaya, Jakarta, sampai Malaysia dan Australia. ”Sebentar lagi saya juga akan pameran di Surabaya,” pungkas dia. (*/c1/dan/jpg)

Berita Terkait