Rabu, 17 Januari 2018 12:18 WIB

Hukum

Empat Aktor Setnov Dicegah ke Luar Negeri

Editor:

Fredrich Yunadi (kiri) dan Hilman usai diperiksa KPK, Jakarta, Selasa (9/1).

INDOPOS.CO.ID - Penyelidikan dugaan menghalang-halangi penyidikan atau obstruction of justice penanganan perkara e-KTP yang menjerat Setya Novanto (Setnov) bakal segera rampung. KPK Selasa (9/1) kembali memeriksa aktor kunci dalam kasus tersebut, yakni mantan kontributor Metro TV Hilman Mattauch. Pemeriksaan itu untuk mematangkan alat bukti yang diperoleh penyelidik.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Hilman memang masuk dalam daftar deretan pihak yang dinilai memiliki peran penting dalam konstruksi perkara pelanggaran pasal 21 UU Pemberantasan Tipikor tersebut. Itu menyusul dugaan keterlibatan Hilman saat insiden kecelakaan Setnov di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan pada 16 November 2017.

Bahkan, yang menarik, Hilman kini berstatus sebagai saksi yang dicegah bepergian ke luar negeri oleh Ditjen Imigrasi sejak 8 Desember lalu. Pencegahan itu diumumkan KPK kemarin. Selain Hilman, lembaga superbodi itu juga memohonkan pencegahan terhadap mantan pengacara Setnov, Fredrich Yunadi dan dua ajudan Setnov, Reza Pahlevi serta Achmad Rudyansah. ”Dicegah ke luar negeri selama enam bulan terhitung sejak 8 Desember 2017,” ujar Febri di gedung KPK.

Pencegahan dilakukan untuk memudahkan proses penyelidikan obstruction of justice tersebut. ”Jadi saat dibutuhkan keterangannya dan saat dipanggil, mereka berada di Indonesia,” ujar mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) itu.

Pencegahan Hilman, Fredrich dan dua ajudan Setnov kian mematangkan konstruksi penyelidikan itu. Proses pencarian dua alat bukti untuk naik ke penyidikan dan menetapkan tersangka pun bakal semakin terang. Hanya, sampai kemarin, KPK belum mau membocorkan siapa pihak yang berpotensi menjadi tersangka. ”Kami belum bicara siapa pelakunya siapa,” terangnya.

Sumber di internal KPK menyebutkan, pihak yang paling berpotensi menjadi tersangka adalah Hilman. Sebab, dia diduga membantu pelarian Setnov dari penangkapan KPK pada 15 November lalu. ”(Membantu Setnov saat, Red) malam (penangkapan, Red) sekeluar rumah menuju ke Bogor,” ujar sumber itu.

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (Maki) Boyamin Saiman menyatakan, keterlibatan Hilman dalam pelarian Setnov memang sulit disangkal. Apalagi, Hilman diketahui sudah bersama Setnov sejak di gedung DPR pada siang hingga insiden kecelakaan kontroversial terjadi petang. ”Itu (Hilman, Red) bisa jadi calon tersangka,” tutur pengacara yang pernah membuka sayembara untuk membantu KPK menangkap Setnov itu.

Sayang, Hilman tidak mau memberikan komentar usai diperiksa KPK kemarin. Dia hanya menyalami beberapa awak media yang berada di pelataran gedung 16 lantai itu. Sementara saat ditanya soal pemeriksaan perkara, dia menolak memberikan jawaban. ”Ayo sambil ngopi saja,” tuturnya sambil meninggalkan wartawan.

Di sisi lain, KPK sampai kemarin terus melakukan pemeriksaan kasus e-KTP dengan tersangka Markus Nari dan Anang Sugiana Sudihardjo. Ini di antaranya memeriksa sejumlah mantan anggota DPR seperti Olly Dondokambey yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) dan Jafar Hapsah. ”Pekan ini kami memang mendalami kluster politik,” tambah Febri.

Untuk perkara Markus Nari, penyidik KPK sudah memeriksa 30 saksi yang terdiri dari pengacara, anggota dan mantan anggota DPR, PNS Kemendagri, dan swasta. Sementara untuk Anang Sugiana Sudihardjo, total 57 saksi yang dipanggil KPK sampai saat ini. Mereka berlatar belakang pejabat PT Quadra Solution, anggota dan mantan anggota DPR dan swasta lain.

Olly Dondokambey usai diperiksa mengatakan, pihaknya kemarin diperiksa untuk dua tersangka e-KTP yakni, Markus Nari dan Anang. Dia dimintai klarifikasi tentang beberapa hal. Ini di antaranya soal hubungan dengan kedua tersangka. ”Pertanyaannya tidak banyak, cuma empat atau lima. Jadi dua BAP (berita acara pemeriksaan, Red),” ucap politisi PDI Perjuangan tersebut. (tyo)

Berita Terkait