Jumat, 19 Januari 2018 11:17 WIB

Moneter

Rupiah Dihajar Dolar, Emas pun Meredup

Editor: Wahyu Sakti Awan

FAKTOR SUKU BUNGA AS: Emas mengalami tekanan pada sesi perdagangan hari Selasa. Foto: financial

INDOPOS.CO.ID-Rupiah melemah terhadap Dolar pada perdagangan hari Selasa kemarin. USDIDR bergerak menuju 13435. Walaupun rendahnya inflasi memperlemah Dolar, namun prospek kenaikan suku bunga AS di 2018 dapat menekan mata uang pasar berkembang termasuk Rupiah.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, kekhawatiran bahwa bangkitnya Dolar AS dapat memicu arus keluar modal semakin memperkuat USDIDR. Dari aspek teknis, pantulan teknikal saat ini dapat membuat kurs bergerak menuju 13460. 

Menurut Lukman, Dolar melonjak ke level tertinggi dua pekan vs sejumlah mata uang utama pada hari Selasa karena optimisme pasar bahwa Fed dapat meningkatkan suku bunga setidaknya dua kali di tahun 2018. 

”Ada kecurigaan bahwa investor bullish Dolar mulai melupakan data NFP umum bulan Desember yang mengecewakan dan membidik pertumbuhan upah yang saat ini bertahan di 2.5 persen guna mendukung Indeks Dolar. Kalender ekonomi hari ini relatif kosong dan tidak ada perubahan signifikan terhadap berbagai faktor penggerak fundamental USD semalam, jadi aksi harga sepertinya akan menentukan arah Indeks Dolar,” katanya.

”Dari sudut pandang teknis, Indeks Dolar tetap tertekan di grafik harian. Bears mungkin memanfaatkan pantulan teknikal saat ini menuju wilayah 92.80 dan menekan harga menuju 92.00. Pada skenario alternatif, breakouttegas di atas 93.00 akan mengancam kondisi bearish saat ini dengan level target berikutnya di 93.40,” tambah Lukman.

Menurut Lukman, Euro terus melemah karena Dolar menguat pada sesi perdagangan hari Selasa. Harga merosot ke level terendah mingguan baru yaitu 1.1920. Walaupun EURUSD mungkin semakin tergelincir apabila Dolar terus menguat, namun penurunan ini sepertinya akan dibatasi oleh Euro yang kuat.

Keadaan ekonomi Eropa membaik sehingga mendukung Euro sedangkan prospek Dolar masih agak rapuh karena masalah inflasi rendah di AS. Karena itu, EURUSD tetap bullish secara fundamental. Dari aspek teknis, EURUSD mungkin sedang dalam proses membentuk higher low baru dengan level 1.1920 sebagai lini pertahanan pertama untukbulls. 

”Apabila 1.1920 terlampaui, maka EURUSD bulls mendapat kesempatan terakhir untuk mengangkat harga di sekitar level pivot 1.1850. Jika bulls kehilangan kendali di atas 1.1850 maka situasi bullish saat ini akan terancam dan bears akan kembali beraksi,” katanya.

Emas mengalami tekanan pada sesi perdagangan hari Selasa karena ekspektasi pasar bahwa suku bunga AS akan ditingkatkan tahun ini. Dolar yang menguat juga berkontribusi pada turunnya harga emas. Harga emas berada di kisaran USD1315.77.

”Walaupun emas mungkin semakin tergelincir di jangka pendek karena ekspektasi kenaikan suku bunga AS, emas masih tetap bullish di grafik harian yaitu di atas USD1300. Penutupan mingguan di atas USD1320 dapat menjadi sinyal peningkatan lebih lanjut dengan USD1333 sebagai level target berikutnya,” katanya. (wsa)

Berita Terkait

Rupiah Diprediksi Belum Beranjak dari Zona Merah

Indobisnis

Data Makro Sokong Rupiah

Indobisnis

Rupiah 2018 Makin Fluktuatif

Indobisnis

Hati-Hati, Penguatan Rupiah Masih Bisa Terhambat

Moneter

Hati-Hati, Penguatan Rupiah Masih Bisa Terhambat

Moneter