Selasa, 16 Januari 2018 06:42 WIB

Internasional

Eksodus di Syria Terus Melonjak

Editor:

INDOPOS.CO.ID – Setelah kelompok militan radikal ISIS kalah di Syria, perhatian dunia terhadap perang sipil di republik tepi Laut Mediterania itu berkurang. Padahal, setiap hari pertempuran masih terjadi. Kota Idlib, ibu kota Provinsi Idlib, menjadi panggung anyar perebutan kekuasaan antara oposisi dan rezim Presiden Bashar Al Assad.

Pada Minggu (7/1) malam waktu setempat, ledakan bom mengguncang kawasan Ajnad Al Qawqaz, Idlib. Sedikitnya 23 nyawa melayang. Pada hari yang sama, pasukan pemerintah dan militer Rusia melancarkan serangan maut di beberapa titik di Idlib. Tidak kurang dari 21 warga sipil tewas. Empat di antaranya adalah anak-anak dan sebelas lainnya perempuan.

”Ini bukan serangan udara biasa. Rezim (Assad, Red) mulai berusaha menguasai Idlib. Tujuan (serangan udara, Red) kali ini tidaklah sama,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlut Cavusoglu sebagaimana dikutip Al Jazeera, Kamis (11/1). Sebagai salah satu kekuatan militer di Idlib, Turki mengecam serangan yang merenggut nyawa lebih dari 40 warga sipil tersebut.

Pada Rabu (10/1) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Turki memanggil Philip Kosnett, charge d’affaires Amerika Serikat (AS), untuk melayangkan protes. Menurut Ankara, dukungan AS terhadap pejuang Kurdi di Syria menjadi salah satu penyebab langgengnya konflik di negara tersebut. Sebab, AS tidak hanya memberikan dukungan moral, tapi juga senjata terhadap kelompok anti-pemerintah tersebut.

”Ankara menyampaikan langsung kritik tersebut kepada diplomat tertinggi AS di Turki itu,” ungkap salah seorang pejabat Kemenlu Turki. Sejak Duta Besar (Dubes) AS untuk Turki John Bass meninggalkan Ankara pada 2017, segala urusan diplomatik ditangani Kosnett. Saat ini dia adalah diplomat tertinggi AS di Turki. Sebab, Washington belum juga mengirimkan pengganti Bass.

Sebelum memanggil Kosnett, Kemenlu Turki memanggil Dubes Rusia dan Iran. Kepada dua dubes itu, Ankara memprotes serangan di Idlib. ”Rusia dan Iran harus ikut bertanggung jawab. Sebab, kalian adalah pendukung sekaligus penjamin rezim (Assad, Red),” tegas Cavusoglu di hadapan Dubes Rusia Alexei Yerkhov dan Dubes Iran Mohammad Ebrahim Taherian Fard.

Cavusoglu lantas mendesak Rusia dan Iran untuk menghentikan kebrutalan rezim Assad. Dia juga menyayangkan partisipasi militer Rusia dalam serangan udara di Pangkalan Udara Abu Al Duhur, Khan Sheikoun, Al Tamanaa, Maarat Al Numan, dan Jarjanaz pada Minggu.

Menurut dia, 95 persen serangan yang menewaskan banyak warga sipil dilancarkan rezim Assad dan militer-militer pendukungnya. Kemarin, Associated Press (AP) melaporkan bahwa eksodus warga sipil Idlib menuai keprihatinan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sejak akhir tahun, jumlahnya mencapai 100.000 orang.

Komisioner Tinggi HAM PBB Zeid Raad Al Hussein mengecam semua pihak yang dianggap tak berupaya meredam konflik di Syria. Data terbaru PBB mencatat 85 warga sipil tewas dan 183 lainnya terluka sejak 31 Desember. Itu hanya di Idlib dan Eastern Ghoutta.

CNN melaporkan bahwa saat ini separo penduduk Idlib telantar di dalam negeri. Mereka menjadi pengungsi di kota atau provinsi lain demi menghindari pertempuran di wilayahnya. Demikian juga para pengungsi dari kota lain yang sebelumnya berpikir bakal aman di Idlib. Kini sebagian besar di antara mereka terpaksa bertahan di kamp-kamp penampungan yang penghuninya sudah terlalu padat. (hep/c10)

Perebutan Kota Idlib

Maret 2011: Idlib jadi basis oposisi pada masa awal pecahnya perang sipil di Syria.

April 2012: Pasukan pemerintah melancarkan operasi besar-besaran untuk merebut Idlib. Pertempuran diakhiri dengan gencatan senjata.

Maret 2015      : Oposisi di bawah komando Army of Conquest (Al Nusra Front dan Ahrar Al Sham) merebut Idlib dari tangan pemerintah. Saat itu oposisi juga menguasai Kota Alfu'ah dan Kota Kafriya.

April 2015: Oposisi membentuk pemerintahan sementara dengan ibu kota sementara di Idlib.

23 Juli 2017: Tahrir Al Sham (penerus Al Nusra Front) mengusir Ahrar Al Sham dari Idlib dan menjadi penguasa tunggal kota tersebut.

Tentang Kota Idlib

Populasi: 2,6 juta jiwa

Yang mengungsi: 1,1 juta jiwa

Arti Penting Kota Idlib di Provinsi Idlib

  • Menjadi jalur darat utama penghubung Provinsi Aleppo dan Provinsi Damaskus

 

  • Punya Pangkalan Udara Abu Al Duhur yang penting bagi militer

Sumber: Graphicsnews, Syriadirect, Wikipedia

Berita Terkait

Tiga Bom ISIS Tewaskan 41 Orang

Internasional

Terancam ISIS, Kopassus Jaga KBRI Kabul

Internasional

Pelaku Bom New York Simpatisan ISIS Asal Bangladesh

Internasional

Polisi: Kematian Bahrun Naim Masih Misterius

Nasional

ISIS Serang Masjid di Mesir, 305 Jiwa jadi Korban

Internasional

Serangan Brutal di Masjid, MUI: Perbuatan Biadab

Internasional