Rabu, 17 Januari 2018 06:21 WIB

UMKM

Bukalapak Jadi Start-up Unicorn Ke-4 Indonesia

Editor: Wahyu Sakti Awan

SERIBU PELAPAK: CEO Bukalapak Ahmad Zaky saat perayaan ulang tahun ke delapan Bukalapak di Ciputra Artpreneur, Jakarta yang dihadiri seribu pelapak. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID-Memasuki usianya yang ke delapan tahun, layanan marketplace Bukalapak mengumumkan posisinya sebagai 'Unicorn' ke-empat di Indonesia. Istilah 'Unicorn' sendiri merujuk pada startup dengan valuasi mencapai 1 miliar dollar AS atau setara Rp 14,2 triliun.

''Ya, kami sekarang sudah menjadi Unicorn,'' ujar CEO Bukalapak, Achmad Zaky, disela perayaan ulang tahun Bukalapak di Jakarta.

Namun Zaky tak mau mengumbar secara detil, kapan pastinya Bukalapak resmi menjadi Unicorn. Investor yang melambungkan nilai valuasi Bukalapak pun tak diungkap. ''Investornya kami nggak publish,'' kata pria berkacamata itu.

Informasi soal pencapaian Bukalapak ini sebenarnya sudah terendus sejak beberapa saat lalu. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, juga sempat menyinggung hal ini di sebuah acara pada akhir 2017.

Dengan ini, Bukalapak menjadi Unicorn ke-empat di Indonesia selain Go-Jek, Traveloka, dan Tokopedia. Target pemerintah untuk mencetak lima Unicorn hingga 2020 mendatang pun punya peluang besar untuk tercapai.

 Ke depan, Bukalapak ingin terus mendorong UKM di Indonesia untuk naik kelas dan berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi nasional. Salah satunya dengan peningkatan layanan yang sama-sama menguntungkan bagi pelapak dan konsumen.

Tak hanya itu, Bukalapak juga menargetkan pembangunan pusat riset dan pengembangan alias research and development center (RnD) di Bandung. Belum diumbar lokasi pastinya, yang jelas RnD itu akan berdiri di atas lahan seluas 5 ribu meter persegi dan mulai efektif beroperasi pada pertengahan tahun ini.

''Sebenarnya saat ini sudah ada 20 engineer kami untuk riset dan pengembangan produk. Kami targetkan dengan dibuka gedung khusus di Bandung, jumlah engineer-nya meningkat jadi 200 orang,'' ulasnya.

Pusat RnD nantinya tak hanya difokuskan pada pengembangan software, tetapi juga hardware. Semuanya semata-mata untuk peningkatan layanan Bukalapak bagi masyarakat modern. ''Semuanya untuk peningkatan produk dan service. Kalau hardware misalnya mengembangkan perangkat Internet of Things seperti drone untuk delivery atau smart speaker yang bisa dipakai belanja,'' ungkapnya.

Bandung sendiri dipilih sebagai kota untuk operasional RnD Bukalapak karena beberapa faktor. Salah satunya, Kota Kembang dinilai banyak mencetak mahasiswa-mahasiswa yang fokus di sektor teknologi, semisal dari ITB dan ITENAS. Selain itu, sedikit banyak ada alasan kedekatan emosional karena Achmad Zaky berasal dari Bandung.

Dirinya ingin pusat RnD Bukalapak benar-benar menyerap tenaga kerja lokal. Ia mengklaim saat ini pegawainya di bidang teknis maupun non-teknis berasal dari Indonesia. ''Menurut saya di Indonesia potensinya masih banyak untuk dikembangkan. Bukalapak so far 100 persen Indonesia. Mereka jago kok pas kami ajarin. Talenta Indonesia punya daya saing sendiri,'' ucapnya.

Memasuki usia sewindu, Bukalapak memiliki 35 juta pengguna aktif bulanan di seluruh Indonesia. Artinya, 30 persen netizen Tanah Air pernah berkunjung ke Bukalapak. Untuk jumlah pelapak, Bukalapak sendiri mengklaim ada sebanyak 2,2 juta.

Di samping itu, Bukalapak setiap harinya melayani sekitar 320 ribu-an transaksi. Tahun ini segenap rencana telah disiapkan. Harapannya Bukalapak ingin jadi aset berharga bagi masyarakat dan negara sesuai dengan konsep ekonomi kerakyatan yang dicanangkan presiden Joko Widodo. ''Kami ingin sebagai pemberi kerja terbesar. Selain itu berkontribusi pemasukan pajak terbesar,'' pungkasnya. (dew)

Berita Terkait

35 Juta Netizen Tongkrongi Bukalapak

UMKM

Tahun Depan Dua Startup IPO

Indobisnis

Bukalapak Raih Award Internasional

Indobisnis

Sediakan Platform Inkubator Start-up

Indobisnis