Selasa, 16 Januari 2018 06:34 WIB

Kesehatan

Pasien Difteri Dewasa Mulai Banyak, Waspadai Penularan via Trompet

Editor:

Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Wabah Difteri saat ini menghantui masyarakat. Sebab penyakit tersebut mudah menular. Selain itu, jika tidak tertangani dengan baik, bisa menyebabkan kematian pada penderitanya.

dr Anis Karuniawati SpMK, spesialis medik mikrobiologi menuturkan, trompet bisa menularkan difteri. ”Selama lembab (bakteri difteri, Red) masih bisa bertahan,” katanya dalam seminar awam yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) di Jakarta, kemarin.

Sementara pada keadaan kering, lanjut dia, bakteri Corynebacterium diphtheria bisa bertahan hingga dua hari sampai akhirnya mati. ”Meskipun kalau keadaan (bakteri difteri, Red) teler, tapi kalau nempel ditenggorokan bisa hidup lagi,” imbuhnya.

Difteri tidak hanya berbahaya bagi anak-anak. Menurut data yang dimiliki dr Nina Dwi Putri SpA(K), dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis FKUI-RSCM, hingga 20 Desember ditemukan 12 pasien difteri yang berusia 20 hingga 50 tahun. Data tersebut hanya di Jakarta saja. ”Difteri dewasa (pasien atau penderita, Red) mulai banyak,” ungkapnya dalam acara yang sama.

Penyakit tersebut, kata Nina, merupakan penyakit yang mudah menular. Dia menyarankan untuk kontak langsung dengan penderita difteri minimal berjarak 1,5 meter. ”Kalau ada suspect, harus diperlakukan seperti pasien difteri. Sampai akhirnya hasil pemeriksaan menyatakan tidak difteri,” ungkapnya.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes)  Elizabeth Jane Soepardi menambahkan, difteri bisa mudah menular ke siapapun. Ini termasuk salah satunya melalui sarana trompet.

Dia menyarankan agar satu trompet diperuntukkan hanya untuk satu orang, tidak untuk di tiup secara bergantian. ”Menularnya paling kalau digunakan berpindah (bergantian dengan orang lain, Red). Ya, itu bisa, karena ludah kita menempel di mulut trompet. Penderita (difteri, Red) kan tidak boleh tukar menukar peralatan makan, sama saja kan salah satu penyebarannya bisa lewat air liur,” ungkap Jane.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah sudah mengantisipasi untuk perawatan pasien difteri, misalnya saja untuk ruang isolasi. Pasien difteri memang harus ditempatkan di ruang khusus dan tidak dicampur dengan pasien lainnya. ”Ruang isolasi untuk difteri ruang biasa saja. Rumah pun bisa dijadikan ruang isolasi,” ujarnya. Dengan demikian, tidak ada kekhawatiran untuk kekurangan ruang isolasi di rumah sakit.

Persiapan lainnya yakni, adanya Anti-difteri Serum (ADS). ”ADS saat ini cukup untuk sekitar 40 pasien,” ujarnya. Walaupun jumlahnya terbatas, Jane menegaskan, stok ADS cukup.

Sebelumnya, sudah 43 orang meninggal dunia karena difteri sampai 20 Desember. Angka tersebut meningkat dibandingkan data Kemenkes pada November lalu yang masih 32 orang meninggal. Outbreak Respond Immunization (ORI) sebenarnya sudah dilakukan pemerintah untuk menangani kasus tersebut. Sayangnya program tersebut hanya menyasar anak-anak.

”Kalau untuk mencakup semua penduduk memang perlu penambahan dan pengaturan produksi dari Bio Farma,” ucap Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes dr Oscar Primadi. ”Untuk ORI jumlah vaksin yang dimiliki pemerintah untuk 34 provinsi,” ucapnya. Merujuk data Kemenkes, jumlah vaksin untuk ORI pada 2018 mencapai 30.381.678 vaksin. (lyn)

Berita Terkait

Tak Ada Kasus Baru, Penderita Difteri Turun

Nasional

Delapan Orang Dicurigai Difteri

Bekasi