Selasa, 16 Januari 2018 06:34 WIB

Kesehatan

Waspada, Difteri Mirip Radang Tenggorokan

Editor:

Ilustrasi. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Penularan penyakit difteri yang dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang telah menelan puluhan korban, membuat masyarakat panik. Data terbaru dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) melaporkan difteri terjadi di 142 kota/kabupaten, 600 kasus dan 38 di antaranya meninggal dunia.

Gejala difteri hampir sama dengan radang tenggorokan. Seperti yang dialami Alissa Sabrina, 16. Awalnya putri dari Fitri Sabarudin ini merasakan sakit di tenggorokan, susah menelan dan juga demam. ”'Pas ke dokter THT pertama dibilang suspek difteri, karena aku ke poliklinik kecil jadi disuruh ke rumah sakit yang besar yang punya alat lengkap buat Swab,”' ujar Fitri.

Fitri juga mengungkapkan, ciri-cirinya difteri mirip dengan radang tenggorokan pada umumnya. ”Kayak radang biasa gitu, demam dan sakit kalau nelen. Bedanya kalau radang biasa merah kan ya, nah kalau anakku putih gitu radangnya,'” imbuhnya.

Selain itu, lanjutnya, saat di Swab untuk diambil sample tenggorokan anaknya berdarah. ”'Menurut dokter UGD, anak saya 95 persen positif difteri, tapi tetap musti nunggu hasil pemeriksaan Swab-nya. Lumayan lama nunggu hasil Swab, lima harian baru keluar dari lab. Alhamdulillah setelah keluar hasil Swab dinyatakan negatif. Hanya radang akut,” tukas wanita berhijab itu.

Kendati demikian, untuk berjaga-jaga dirinya langsung melakukan vaksin difteri kepada dua anaknya yang lain. Untuk diketahui, untuk mencegah penyebaran difteri pada 11 Desember lalu Kementrian Kesehatan (Kemenkes) mencanangkan vaksin difteri serentak di tiga kota yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Tapi nyatanya, ada yang belum mendapatkan vaksin. ”'Saya nungguin vaksin difteri untuk cucu saya. Tapi sampai sekarang belum kedengeran kabarnya,'' ujar Wati, warga Setiabudi, Jakarta Selatan. Kendati cucunya sudah diimunisasi lengkap saat balita namun dia berharap vaksinasi tetap dilakukan. ”'Kalau dilihat difteri itu serem ya, semoga vaksinnya cepat dilaksanakan,'' harapnya.

Sebenarnya, difteri adalah penyakit kuno, sudah ditemukan sejak abad 5 sebelum masehi (SM). Bahkan pada abad 6, difteri pernah menjadi epidemik di seluruh dunia. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan ditemukan vaksin, difteri mulai menghilang.

”'Masyarakat sudah lengah karena menyangka penyakit ini sudah tidak ada. Kalau kita tidak waspada, terjadilah kasus difteri seperti sekarang ini,'' ujar Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K) konsultan infeksi tropik, dari FKUI RSCM pada diskusi ’Ngobras’ di Jakarta, baru-baru ini.

Infeksi difteri disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae. Bahan vaksin difteri dibuat dari toksoid bakteri tersebut, yang akan memicu tubuh membentuk kekebalan terhadapnya.

Bila tak segera ditangani, penderita difteri dalam 2-3 hari akan terbentuk pseudo-membran berwarna putih di tenggoorokan dan tonsil (amandel) penderitanya. ”Lendir bisa menutup saluran napas sehingga sesak. Bila lendir terus turun ke saluran napas bawah, akan menimbulkan sakit berat bahkan kematian,'' tandasnya.

Komplikasi terjadi akibat toksin yang dihasilkan bakteri difteri. Selama kuman masih ada, toksin akan terus dihasilkan. ”'Akhirnya menyerang jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung. Kematian 5-10 persen,'' katanya.

Dijelaskan juga oleh Prof.Dr.Sri Rezeki Sp.A(K) dari FKUI, setelah vaksinasi DPT di usia anak-anak lengkap, tetap harus diulang setiap 10 tahun sekali, sampai usia dewasa. "Karena kekebalannya akan terus turun sehingga harus diulang," katanya.

Untuk menghindari penularan difteri, pastikan jarak aman dengan tidak terlalu dekat dengan penderita atau orang yang diduga menderita difteri (lebih dari 1,5 meter). Agar lebih aman lagi, gunakan masker. (dew)

Berita Terkait

Yuk Minum Kurma 7Dates

Kesehatan

Dikejar Target, Pekerja Rentan Anemia

Kesehatan

Tak Ada Kasus Baru, Penderita Difteri Turun

Nasional