Selasa, 22 Mei 2018 01:53 WIB
citraland

Fashion

Era Cantik Belle Époque dalam Karya Yenty Tan

Redaktur:

DESAIN ALA BARAT - Sejumlah model memperagakan rancangan busana karya Yenty Tan bertema “Belle Époque” di Jakarta, kemarin. Foto: Iwan Tri Wahyudi/INDOPOS.CO.ID

INDOPOS.CO.ID - Melihat sejarah barat, terutama yang terjadi di Perancis, Belle Époque yang dikutip dari bahasa Perancis “La Belle Époque”, bermakna literasi “Era Cantik”.

Era ini berlangsung dalam rentang waktu 1895 hingga 1914 dan menjadi zaman keemasan bangsa barat yang ditandai dengan kemakmuran, inovasi teknologi, kemajuan ilmiah, kemasyuran seni dan seni budaya.

Inilah yang menginspirasi karya Yenty Tan bertajuk Belle Époque lewat deretan koleksi busana pengantin dan busana cocktail dalam balutan selera masa kini.

''Di bidang mode, pada era ini, bukan hanya kalangan borjuasi Perancis saja yang merasakan kehidupan mewah, dan serbaluks. Kaum kelas bawah seperti petani pun merasakan peningkatan taraf hidup. Mencicipi kemakmuran. Mampu mengenakan pakaian yang indah,'' kata Yenty.

Sebagai desainer yang telah beberapa kali mempertunjukkan koleksinya dalam peragaan bersama, inspirasi Yenty Tan kali ini menjunjung mode era Belle Époque yang dituangkan ke dalam 12 gaun cocktail dan 12 busana pengantin sebagai koleksi terbarunya.

Inspirasi gaun-gaun di masa kejayaan Belle Époque itu dengan cermat dikutip oleh perancang lulusan ISWI ini  dalam citra kemewahan, kemegahan dan aristokrasi dengan tampilan bergaya masa kini. Lebih ringkas dan berdaya pakai tinggi.

Bahan-bahan halus semacam satin duchess, lace, tulle digunakan sang Desainer untuk menggambarkan karakter perempuan yang datang dari kalangan atas.

Gaun dengan rok bustle (sumpalan/padding) yang akrab di masa lalu bersalin rupa menjadi terusan sleveless berpotongan flare, rok lurus melebar di bawah, dalam nada warna lembut seperti abu-abu, putih, dan keperakan.

Kekinian terasa ketika Yenty memberanikan diri ikut menampilkan gaun-gaun panjang tembus pandang yang tengah menjadi arus mode masa kini dalam warna biru muda, nude, dan moka. Bersejajar dengan kiblat mode, tidak membuat Yenty kehilangan jati dirinya.

Menghadirkan kerah-kerah tinggi ala zaman Victoria yang menjadi signature style Yenty, menjadi faktor pembeda dengan desain-desain yang tengah marak di kalangan masyarakat.

Sang Perancang juga pandai menggoda mata penonton untuk sejenak berhenti di bagian atas busana.

Mutiara  besar dan kecil diuntai menjadi sebuah mini cape yang dipadankan dengan terusan yang berpotongan ketat di bagian atas dan melebar di bagian bawah.

Yenty menggunakan teknik lipat, lipit dan tekuk yang dijahit tindas dan dimunculkan di bagian torso, bagian punggung, bagian dada dan pinggang untuk memutakhirkan busana.

Teknik yang dibuat juga hanya memanfaatkan ketrampilan tangan yang membutuhkan ketelitian tinggi dalam menanganinya. Hasilnya, bisa anda lihat sendiri. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN