Selasa, 16 Januari 2018 06:32 WIB

Kesehatan

Dikejar Target, Pekerja Rentan Anemia

Editor:

Foto : Ilustrasi Jawa Pos

INDOPOS.CO.ID - Gaya hidup yang dijalani orang-orang dengan produktivitas tinggi, terutama di perkotaan, cenderung mengarah pada hal yang tak sehat. ''Ada beberapa gaya hidup yang dipikir sehat, namun ternyata dapat memicu anemia. Salah satunya tren olahraga berat, seperti iron gym atau TRX (total body exercise),'' ungkap dokter spesialias olahraga dr. Michael Triangto, Sp.KO kepada INDOPOS, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, olahraga berat dapat memicu anemia pada mereka yang awalnya tak pernah berolahraga dan langsung melakukan olahraga dengan intensitas berat yang memicu hingga 80 persen detak jantung maksimal saat latihan. ”Keringat berlebih yang keluar membuat banyak elektrolit dan zat besi dalam tubuh yang terbuang,'' bebernya.

Selain olahraga berat, olahraga lari paling sering dijadikan solusi bagi pekerja urban. Ternyata, ini juga dapat memicu anemia karena menyebabkan banyak terjadinya benturan pada bagian kaki sehingga membuat sel darah dalam tubuh menjadi pecah atau dikenal dengan hemolisis, jika dilakukan berlebihan.

Kemudian, bagi para pekerja yang dikejar tenggat waktu, kebanyakan dari mereka tidak meperhatikan makanan atau cemilan apa yang ada di meja kerja dan langsung melahapnya tanpa pikir panjang. Bukan tak mungkin asupan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik.

Selain itu, minuman seperti kopi atau teh yang menemani camilan tak sehat dan membuat mata tetap melek pun cenderung menghambat penyerapan zat besi ke dalam tubuh. Ada juga gaya hidup yang pingin tampil langsing.

”Sehingga mereka mulai membatasi asupan makan agar dapat menurunkan berat badan dan mendapatkan bentuk tubuh ideal. Mereka juga rentan terkena anemia,” imbuhnya.

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak di kota besar juga rentan anemia. Konsultan gizi Jansen Ongko menjelaskan, pada fase awal penyakit, anemia pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala.

''Namun, jika terus berlanjut atau kadar Hb sangat rendah, kurangnya sel darah merah yang membawa oksigen menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik,'' ujar Jansen. Akibatnya, timbul berbagai gejala seperti anak menjadi mulai lemas, lelah, lesu, kulit terlihat pucat, kuku jari tangan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal bahkan dapat terjadi penurunan berat badan.

''Anak juga rentan terkena infeksi karena menurunnya sistem kekebalan tubuh,'' kata founder dari Lagizi Health & Nutrition Services itu. Anemia Defisiensi Besi (ADB) pada anak, jelasnya, akan memberikan dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. ''Selain itu berkurangnya kandungan besi dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan organ tubuh akibat oksigenasi ke jaringan berkurang,'' tukasnya. ADB juga berdampak buruk pada otak karena dapat menyebabkan transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi sehingga anak akan, mengalami penurunan daya konsentrasi, daya ingat rendah, dan tingkat IQ yang rendah. (dew)

Anemia Bisa Dicegah

  1. Anemia terjadi terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga cadangan zat besi untuk pembentukan sel darah merah berkurang yang menyebabkan kadar hemoglobin (Hb) darah kurang dari normal.
  2. Anemia tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja, tapi juga dapat menyerang anak balita dan usia sekolah. 
  3. Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan kejadian anemia defisiensi besi sebesar 48,1 persen pada kelompok usia balita dan 47,3 persen pada kelompok usia anak sekolah.
  4. Anemia pada anak, lanjutnya, juga dapat menimbulkan perilaku makan yang tidak biasa (yang disebut pica) seperti mengonsumsi es batu, tepung, tanah, rumput, dan daun-daunan.
  5. Kekurangan zat besi merupakan faktor utama AGB, sehingga untuk mencegahnya dengan cara mengajarkan dan membiasakan anak mengonsumsi makan sehat dan bervariasi. Pilih bahan pangan yang tinggi akan zat besi, folat, vitamin B12, dan vitamin C. 
  6. Zat besi paling banyak terkandung dalam kelompok lauk-pauk, seperti hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah diserap. Dari kelompok zat tepung, dapat berupa gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam. Dari kelompok sayuran terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan dari kelompok buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya.
  7. Untuk minuman, pilihlah minuman yang memiliki komposisi zat besi dan zink yang tinggi. Berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG), kebutuhan ideal anak usia sekolah adalah zat besi 10 mg dan zink 11,2 mg. Komposisi ini bisa dilihat kolom nutrisi di setiap minuman.

 

Berita Terkait

Yuk, Rileks dengan Es Krim

Kesehatan

Yuk Minum Kurma 7Dates

Kesehatan

Tak Ada Kasus Baru, Penderita Difteri Turun

Nasional

Efektif Cegah Kematian, Bayi Butuh ASI Eksklusif

Kesehatan

Tanpa Jarum Suntik, Sunat pun Tak Terasa Sakit

Lifestyle