Jumat, 19 Januari 2018 02:51 WIB

Banten

Beroperasi Dekat Markas Polisi, Gudang Pengoplos Gas Tidak Terdeteksi

Editor:

KEBOBOLAN - Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto dan Direktur Tipideksus Mabes Polri Brigjen Pol Agung Setya saat konferensi pers pabrik gas oplosan, Jumat (12/1).

INDOPOS.CO.ID - Geram, lantaran tidak bisa mendeteksi beroperasinya gudang pengoplos gas bersubsidi membuat Mabes Polri berencana memeriksa jajaran Polsek Cipondoh dan Polres Metro Tangerang Kota dalam waktu dekat.

Penyelidikan internal itu dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya anggota Korps Bhayangkara ini terlibat dalam pengamanan gudang ilegal pengoplos gas yang digerebek Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Mabes Polri.

Apalagi lokasi gudang tersebut hanya berjarak satu kilometer (km) dari Mapolsek Cipondoh. Bahkan, akses gudang yang setiap hari membawa ribuan gas bersubsidi melewati samping Markas Polsek Cipondoh yang berlokasi di Jalan KH Hasyim Ashari, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

”Kami akan lakukan pemeriksaan internal, siapa tau ada anggota yang ikut terlibat. Ini perlu kami lakukan, karena posisi gudang pengoplos gas ilegal ini dekat dengan kantor polisi. Kok anggota di sini sampai tidak tahu ada perbuatan melanggar hukum di wilayah mereka,” tegas Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto kepada wartawan termasuk INDOPOS saat mendatangi lokasi gudang pengoplos gas ilegal di Kota Tangerang, Jumat (12/1).

Diungkapkan Setyo juga, untuk pemeriksaan internal itu pihaknya akan melakukan pemanggilan pekan depan. Adapun pejabat kepolisian Kota Tangerang yang akan diperiksa adalah Kapolsek Cipondoh, Kanit Reskrim Polsek Cipondoh, Kapolres Metro Tangerang Kota, Kasat Reskrim dan Kasat Intelkam Polres Metro Tangerang Kota dan beberapa petinggi kepolisian lainnya.

”Dari mereka nanti akan diketahui ada atau tidak anggota polisi yang ’bermain’. Jika ada pelanggaran itu kami akan berikan sanksi kepada anggota yang terlibat. Kami juga akan meminta keterangan dari pemilik gudang ini ada atau tidak anggota kami yang ikut bermain,” cetusnya juga.

Apalagi saat kali pertama tiba di lokasi pengoplos gas bersubsidi itu, jenderal bintang dua ini juga kaget karena akses masuk ke lokasi gudang itu melintasi samping kiri Mapolsek Cipondoh. Jadi, dia menduga tindak pelanggaran hukum itu selama ini aman karena melibatkan oknum anggota polisi.

”Kalau pakai jalur lain jalannya sulit, karena posisi gudang dekat rawa-rawa. Jadi masuknya dari samping Mapolsek Cipondoh, dan langsung masuk ke TKP. Pasti ada kecurigaan ke arah sana, tetapi itu harus kami buktikan dulu secara internal,” jelasnya lagi.

Sementara, Direktur Tipideksus Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Agung Setya mengungkapkan terbongkarnya aksi pengoplosan gas di Kavling DPR Blok C, Kelurahan Nerogtog, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang Kamis (11/1) siang oleh jajarannya berawal adanya kelangkaan gas.

Dari sana timnya disebar ke seluruh wilayah Jabodetabek untuk menelusuri adanya pengoplosan gas tersebut. Dari kegiatan tersebut akhirnya pihaknya berhasil menemukan gudang yang dijadikan tempat pengoplosan bahan bakar untuk memasak rumah tangga tersebut.

”Begitu tahu ada tempat pengoplos gas terbesar, kami langsung bergerak. Cukup sulit untuk masuk ke sini, karena ada sirene yang berbunyi kalau ada orang asing mendekat. Jadi penggerebekannya kami lakukan lewat samping. Satu pelaku kami tangkap. Dia merupakan pemilik gudang sekaligus bos pengoplosan ini,” ungkapnya.

Dari hasil penyelidikan, Agung menjelaskan, pangkalan gas ilegal milik Franky itu mampu memproduksi 1.000 tabung gas ukuran 12 kg dan 50 kg setiap hari dengan omzet mencapai Rp 1,8 miliar/bulan. Modusnya memindahkan gas dari tabung isi 3 kg ke tabung gas ukuran 12 kg dan 50 kg.

Gas oplosan 12 kg dan 50 kg itu lantas didistribusikan ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Banten. ”Pelaku mampu menyerap 5 ribu gas 3 kg untuk disuntikkan ke gas 12 kg dan 50 kg sebanyak 1.000 tabung/hari. Franky juga berani bayar lebih mahal harga gas melon dari agen yang sebenarnya Rp17 ribu menjadi Rp 21 ribu/tabung.

Artinya, kata dia juga, pelaku sudah punya niat untuk melakukan pengoplosan. Tabung gas 12 kg hasil oplosan itu dijual pelaku Rp 141 ribu sampai Rp 146 ribu dari harga normal Rp160 ribu/tabung. Untuk gas 50 kilogram, pelaku menjualnya Rp 500 ribu padahal harga pasarnya itu Rp 600 ribu/tabung,” tuturnya.

Selain menangkap Franky, 30, pemilik gudang sekaligus pemilik usaha pengoplosan gas, dari sana polisi juga menyita barang bukti berupa 4.200 tabung gas 3 kg, 396 tabung gas 12 kg, dan 110 tabung gas 50 kg. Turut disita 4 unit mobil Grand Max, 13 unit mobil box Suzuki Carry, 4 unit dum truk merek Mitsubishi dan 4 unit mobil Mitshubisi Colt.

Atas perbuatannya itu, Franky dijerat pasal 62 jo pasal 8 ayat 1 huruf a Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta pasal 53 huruf d UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tentang tata niaga minyak bumi dan/atau gas bumi tanpa izin usaha niaga. Pelaku terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar.

Di tempat yang sama, bos pengoplos gas bersubsidi Franky menuturkan berani melakukan kecurangan itu karena tergiur keuntungan besar. Apalagi, dia mengetahui tata cara menyuntikan isi gas 3 kg ke tabung 12 kg dan 50 kg secara manual.

Dia juga mengaku, aksi pengoplosan gas ilegal ini telah berjalan tiga bulan dengan mempekerjakan 60 orang. Agar tidak dicurigai adanya kegiatan terlarang, dirinya memilih lahan yang berada di dekat rawa-rawa yang persis berada di belakang Markas Polsek Cipondoh. (cok)

 

Berita Terkait

Pengedar Tembakau Gorila Ditangkap

Bekasi

Terlalu, Uang Kencleng Masjid Dicolong

Depok

Penjahat Gondol Uang Ratusan Juta di Minimarket

Jakarta Raya

Penjahat Gondol Uang Ratusan Juta di Minimarket

Jakarta Raya

Parah! Besi Kapal LPG Berlabuh Dicuri

Jakarta Raya