Jumat, 19 Januari 2018 02:39 WIB

Bisnis

Tanpa Dasar Aturan, Pekerja Keberatan Perbantuan Operator Pelindo II di JICT

Editor: Redjo Prahananda

Foto : Ilustrasi TruckMagz

INDOPOS.CO.ID - Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (SP JICT) keberatan dengan adanya perbantuan operator Pelindo II. 

Pasalnya dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB), PT JICT tahun 2013-2015 yang masih berlaku sampai sekarang, tidak ada dasar aturan perbantuan tenaga kerja dari Pelindo II ke JICT.

Mereka menyampaikan surat keberatan ke Direksi JICT atas perbantuan operator derek lapangan (RTGC)
Pelindo II di terminal petikemas tersebut.

Permintaan Direksi tersebut untuk mendukung perbaikan  operasional JICT.  Karena vendor operator RTGC baru yakni PT Multi Tally Indonesia (MTI)  belum dapat memberikan kinerja optimal.

Ketua SP JICT Hazris Malsyah
mengatakan selain tidak ada dasar aturan,  dalam PKB PT JICT di  Pasal 52 ayat (1), pekerja hanya dapat diperbantukan ke Indonesia Port Corporation Group, Hutchison Port Holding Group, Kopegmar dan Kopkar JICT untuk promosi dan peningkatan karir diperbantukan. “Di luar itu akan dikonsultasikan dengan Serikat Pekerja," tegas Hazris, Sabtu (13/1).  

Selanjutnya proses hukum perbantuan Operator RTGC Pelindo II di JICT pada tahun 2014  sedang diperiksa oleh institusi Pengadilan Hubungan Industrial dan Pengadilan Negeri.

Kasus ini terdaftar dalam register perkara Nomor  137/PDT.SUS.PHI/2017/PN.JKT.PST dan Nomor 403 /PDT.G/2017/PN.JKT.UTR.

"Ironisnya, Direksi JICT bertindak sebagai penggugat dalam 2 kasus tersebut sehingga mereka wajib menghormati proses hukum yang sedang berjalan sampai ada putusan berkekuatan hukum tetap," jelas Hazris.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika hal itu tetap dilaksanakan, tindakan tersebut terindikasi melawan hukum. “Untuk itu SP JICT meminta Direksi untuk menghentikan upaya permintaan bantuan operator RTGC Pelindo II," ujar Hazris.
Lebih lanjut ia mengatakan, bila

operasional lapangan JICT terganggu karena kinerja rendah MTI, seharusnya ada evaluasi menyeluruh terhadap vendor yang telah dimenangkan Direksi. 

"Dampaknya saat ini operasional JICT memburuk dan memperparah dwelling time. Selain itu terjadi lebih dari 14 kecelakaan kerja sejak MTI beroperasi.

“Anehnya tanpa evaluasi, malah Direksi JICT melakukan back up untuk vendor baru dengan mendatangkan operator Pelindo II. Ini menjadi pertanyaan ada apa sebenarnya,"  ujar Hazris mengakhiri. (dai)

Berita Terkait