Rabu, 17 Januari 2018 09:40 WIB

Bisnis

SP JICT : Peralihan Vendor, Perusahaan Rugi Miliaran

Editor: Redjo Prahananda

Foto : Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Proses peralihan vendor operasional di Jakarta International Container Terminal (JICT) mendapat perhatian Serikat Pekerja (SP) perusahaan tersebut.

Hitungan sementara mereka, perusahaan tempat mereka bekerja rugi milaran rupiah, dampak dari kinerja pelayanan merosot.

Sekretaris Jenderal (SP JICT) Firmansyah Sukardiman,  mempertanyakan proses peralihan vendor operasional di pelabuhan petikemas tersebut.

"JICT rugi Rp 8,7 milyar selama 12 hari vendor baru Multi Tally Indonesia (MTI) beroperasi. Belum lagi kerugian pengguna jasa mencapai Rp 40 milyar. Padahal, nilai proyeknya hanya Rp 14 milyar pertahun," ujar dia, Minggu (14/1).

“Kenapa Direksi bela mati-matian dengan memecat 400 karyawan, supaya MTI langgeng, mengalihkan kapal-kapal dan mendatangkan back up operator dari Pelindo II? Ini yang terjadi di JICT sekarang," imbuhnya.

Lebih lanjut Firmansyah mengaku khawatir dengan kondisi perusahaannya.  Terlebih lagi,, dampak kerugian bagi pelanggan, perusahaan dan keamanan negara sangat besar.

"Direksi memindahkan bongkaran 4 kapal petikemas ke terminal lain. Agar JICT terlihat tidak terlalu repot dengan adanya vendor baru," dia menjelaskan.

Firmansyah menambahkan, dwelling time Pelindo II tercatat naik 6 hari karena dampak vendor baru JICT. Ditambah kemacetan truk pengangkut petikemas berjam-jam.

"Dwelling time jelas terdampak. Produktivitas JICT hanya 10-15 mph (move per hour). Jauh dari standar pemerintah (26 mph). Antrian truk mencapai 32 jam dan kapal-kapal delay hingga 44 jam,"

"Sejak MTI beroperasi, ada lebih dari 14 kecelakaan kerja. Fatalnya, ada 2 petikemas impor yang sudah sampai gudang tapi salah pemilik. Ini bahaya. Pelabuhan kan keamanan negara,” imbuh Firmansyah.

Dia menegaskan, SP JICT merasa perlu bersuara terkait vendor baru MTI. Menurutnya, sama sekali tidak pantas Direksi membela habis vendor yang tidak kompeten.

"Kalau vendor tidak cakap kinerjanya, harusnya ada evaluasi. Ini jelas sangat janggal. JICT dan pengguna jasa sudah rugi milyaran, produktivitas pelabuhan anjlok dan program pemerintah serta kemanan negara terancam. Tapi Direksi JICT bersama Pelindo II malah back up habis-habisan," papar dia.

Sementara itu Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Ucok Sky Khadafi menduga dampak pergantian vendor JICT ada kaitannya dengan kasus yang sedang disidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Ini pergantian vendor JICT heboh, tapi seolah jadi kamuflase agar publik lupa kasus perpanjangan kontrak yang sedang disidik KPK. Dalam kasus tersebut, negara dirugikan Rp 4,08 trilyun," ujarnya. 

Ucok juga menyesalkam adanya  PHK massal 400 karyawan outsourcing JICT. Sebelumnya, mereka ikut aksi di KPK untuk mendorong kasus perpanjanhgan kontrak supaya terus berjalan.

"KPK harus mengusut terus kasus perpanjangan kontrak JICT. Serta mengusut stakeholder yang terlibat.  Apakah ada persekongkolan jahat atau tidak. Dalam kasus e-KTP, persekongkolan jahat ditanggung renteng," ” pungkasnya. (dai)

Berita Terkait