Selasa, 22 Mei 2018 01:47 WIB
citraland

Jakarta Raya

Kasus Kredit Bank Mandiri, Kejagung Bidik Tersangka Korporasi

Redaktur: Riznal Faisal

Gedung Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Foto: Yudha Krastawan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kejaksaan Agung (Kejagung) mengisyaratkan akan menetapkan tersangka korporasi dalam kasus penyalahgunaan kredit Bank Mandiri tahun 2011 senilai Rp 550 miliar. Langkah ini akan ditempuh sebagai upaya pengembalian kerugian negara.

Sebagaimana diketahui, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutus Dirut PT Central Stell Indonesia (CSI) Erika Widiyanti dan anak buahnya, Mulyadi Supardi, bersalah dalam kasus penyalahgunaan kredit Bank Mandiri. Pengadilan juga memutuskan uang pengganti kerugian negara dibebankan kepada PT CSI.

"Putusan itu akan kami pelajari kembali, kami analisa kembali. Yang namanya perkara ini kan berjalan, tentu akan kami jadikan pertimbangan (penetapan tersangka korporasi)," kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, M Adi Toegarisman di Kejagung, Senin (16/4).

Adi memastikan, pihaknya tidak akan mengabaikan fakta hukum yang dibuktikan di persidangan. Oleh karena itu, Kejagung segera menyikapi putusan tersebut dengan mempertimbangkan langkah hukum lain, yakni dengan menetapkan korporasi sebagai tersangka. Langkah ini diambil guna mengantisipasi kerugian negara tidak dibayarkan oleh korporasi.

"Kita tidak akan mengabaikan fakta persidangan. Kita akan siapkan langkah hukum sesuai porsinya," ujar Adi.

Erika Widiawati divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Sementara karyawan PT CSI Mulyadi Supardi dikenakan hukuman kuringan 5 tahun 6 bulan dan denda Rp 200 juta atau kurungan 3 bulan.

Kasus ini bermula ketika PT CSI, perusahaan yang bergerak di bidang peleburan besi bekas menjadi besi beton dan besi ulir untuk bahan bangunan yang didirikan lasa 2005, mendapatkan fasilitas kredit dari salah satu Bank BUMN selama tahun 2011 hingga 2014. Kredit PT CSI dari bank itu pada 2011 mencspai ratusan miliar.

"Total kredit sekitar Rp 500 miliar," ujar Direktur Penyidikan Jampidsus Warih Sadono.

Pihak Kejagung menilai PT CSI dalam mengajukan permohonan kredit kepada bank tersebut dengan menggunakan data dan laporan keuangan tidak akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Kapuspenkum Kejagung M Rum, PT CSI menyajikan laporan keuangan tidak secara seutuhnya, tidak menyajikan neraca keuangan dengan sebenarnya, yakni berupa arus kas, besaran utang kepada pemegang saham, serta adanya informasi pembayaran dividen dan pembayaran utang kepada pemegang saham. (ydh)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kasus-kredit-bank-mandiri #kejagung 

Berita Terkait

IKLAN