Jumat, 25 Mei 2018 03:46 WIB
citraland

Nusantara

Cari Pemimpin Bersih, Rakyat Jangan Pilih Kucing Dalam Karung

Redaktur:

PERSIAPAN-Seorang petugas tengah menyusun kotak suara. Foto: dok

INDOPOS.CO.ID - Masyarakat dinilai sudah cukup cerdas dalam memilih calon pemimpinnya di Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur (Pilgub NTT). Karena, di era milenial seperti saat ini, arus informasi mengalir begitu cepat dan bisa dengan mudah dikonsumsi oleh lapisan masyarakat manapun.

Dari informasi tersebut, masyarakat bisa melihat rekam jejak masing-masing calon pemimpinnya. Meskipun, ada masa di mana seorang manusia juga melalui fase pertobatan untuk masuk ke dimensi kehidupannya yang baru. ”Dan dari sisi agama, selayaknya kita bisa menghormati fase pertobatan yang dilakukan oleh orang lain. Pun para calon pemimpin yang hendak maju di perhelatan pilkada,” ujar Romo Yohanes Kristo Tara, OFM dari Paroki Laktutus, Keuskupan Atambua, NTT, yang juga Ketua Umum Forum Pemuda Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formada) NTT, Minggu (22/4).

Menurut dia, rakyat NTT membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki kapasitas dan integritas yang kuat. Bukan sekadar gubernur, tetapi pemimpin yang memiliki visi besar untuk mengakselerasi pembangunan secara cepat dan terarah. ”NTT butuh pemimpin yang mampu menemukan alternatif-alternatif lain dalam mempercepat pembangunan suatu daerah,” ujar Romo Kristo.

Dia menambahkan, proses demokrasi perlu dikawal oleh semua pihak, termasuk tokoh-tokoh agama. Gereja misalnya, selalu berharap agar seluruh proses Pilgub menjadi ajang bagi partai politik dan para calon untuk beradu gagasan tentang visi, misi dan strategi pembangunan.

Romo Kristo menegaskan, Pilgub juga menjadi momen untuk memberikan pencerahan politik kepada masyarakat. Harus dipastikan bahwa konstituen menentukan pilihannya secara rasional.

Untuk itu, Romo Kristo menyarankan para calon mesti mengeksplorasi seluruh rekam jejaknya kepada rakyat agar tidak memilih ‘kucing dalam karung’. Isu korupsi misalnya, menjadi catatan penting dalam proses demokrasi kali ini.

Dengan tertangkapnya salah satu Calon Gubernur NTT oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi noktah hitam proses Pilgub, sekaligus peringatan keras bagi masyarakat agar tidak salah memilih seorang pemimpin.

Kerusakan NTT, lanjut Romo Kristo, salah satunya disebabkan oleh praktik korupsi yang begitu massif terjadi hampir di semua jenjang birokrasi. ”Saya percaya, masyarakat NTT sudah cerdas untuk bisa memilih siapa pemimpinnya yang dapat membersihkan birokrasi dari budaya korupsi yang sudah berlangsung sekian lama,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Romo Kristo, serahkan semuanya kepada masyarakat, siapa calon pemimpin yang layak membawa NTT keluar dari kemiskinan, kebodohan dan praktik korupsi. ”Dari melihat rekam jejak yang ada di diri para cagub, pasti masyarakat sudah punya pilihan yang baik untuk menentukan siapa sosok pemimpinnya kelak yang mampu membawa perubahan NTT ke arah yang lebih baik, lebih bersih dan pembangunannya lebih maju dari sebelumnya,” pungkas Romo Kristo.

Seperti diketahui, Pilgub NTT 2018 diramaikan pasangan Cagub antara lain Benny K. Harman-Benny A Litelnoni (Harmoni), Esthon L. Foenay-Christian Rotok, Marianus Sae-Emmilia Nomleni dan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi. (bri/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilgub-ntt 

Berita Terkait

IKLAN