Senin, 28 Mei 2018 06:00 WIB
citraland

Internasional

Ada 2,5 Juta Pemilih Bodong di Pemilu Malaysia

Redaktur:

PESTA RAKYAT-Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia dan kandidat PM partai oposisi Pakatan Harapan Mahathir Mohamad (kanan) tersenyum selama konferensi pers di Putrajaya, Jumat (4/5) menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) ke-14 pada 9 Mei. MOHD RASFAN/AFP

INDOPOS.CO.ID – Pemungutan suara Malaysia tak sampai sepekan lagi. Saat partai-partai peserta General Election Ke-14 (GE14) sibuk berkampanye, lembaga-lembaga pengawas pemilu menyorot keabsahan daftar pemilih. Sementara itu, 751 personel kepolisian yang terdaftar sebagai pemilih via pos memberikan suara kemarin (4/5).

Komisi Pemilu alias Election Committee (EC) menyebutkan, GE14 bakal diikuti sekitar 15 juta pemilih. Dari jumlah itu, ternyata sekitar 2 juta pemilih tidak beralamat.

”Sekitar 500 ribu yang lain tidak sah karena alamatnya banyak yang kembar.” Demikian bunyi keterangan tertulis badan reformasi pemilu Bersih dan Engage sebagaimana dilansir Reuters.

Chan Tsu Chong, salah seorang petinggi Bersih, mengatakan bahwa data EC mencantumkan tiga toko kecil di kawasan Wangsa Maju, Kuala Lumpur, pada satu alamat. Juga, pada alamat itu, ada 17 pemilih. Padahal, menurut kasir salah satu toko, tidak ada orang yang tinggal di sana.

”Toko ini tidak ada penghuninya. Seluruh pegawai dan pemiliknya pulang setelah tutup,” katanya seperti dikutip The Straits Times.

Fakta itu membuat Bersih mempertanyakan keabsahan data EC. ”Sepertinya, ada skenario besar untuk merekayasa suara di kawasan pinggiran seperti ini,” tuduh Chan dalam jumpa pers kemarin.

Bagi Bersih dan Engage, EC adalah kepanjangan tangan rezim Perdana Menteri (PM) Najib Razak. Karena itu, mereka perlu menyoroti kinerja lembaga yang seharusnya independen tersebut.

Selain pemilih yang tidak beralamat atau alamat yang sama, Bersih dan Engage juga menemukan pemilih yang berusia 121 tahun. Artinya, dia lahir pada 1897. ”Ini perlu ditelusuri kebenarannya,” ujar Chan. Sebab, dalam data EC, juga tertera nama sejumlah pemilih yang sebenarnya sudah meninggal dunia. Tapi, nama mereka tercantum sebagai pemilih yang sah.

Namun, Bersih tidak mau menyebut siapa pun sebagai dalang di balik kecurangan tersebut. Apalagi, kecurangan sepertinya hampir selalu terjadi dalam pemilu Malaysia. Kemarin EC tak mau menanggapi laporan Bersih dan Engage. Menurut mereka, dua lembaga tersebut cenderung berpihak kepada oposisi. Karena itu, wajar jika keduanya menjelekkan EC.

Di Bukit Aman, Kuala Lumpur, pemungutan suara berlangsung sejak pukul 08.00 waktu setempat. Pemilu lebih awal itu diikuti para pemilih yang terdaftar sebagai postal voter. Mereka memberikan suara lebih dulu karena bertugas pada hari pemungutan suara 9 Mei. Karena itu, suara mereka yang terkumpul kemarin disampaikan kepada EC via pos.

Selain polisi, yang terdaftar sebagai postal voter adalah panitia pemilu, aparat militer, awak media, serta para pegawai sembilan lembaga dan departemen pemerintah. Sembilan lembaga dan departemen itu, antara lain, Badan Penegak Hukum Maritim Malaysia, departemen kesehatan, dan departemen imigrasi. Begitu pula staf penjara, pemadam kebakaran, pegawai pertahanan sipil.

Kemarin EC kembali menelurkan kebijakan baru. Tepatnya larangan. Yakni, larangan mengunggah foto kertas suara dan dokumen lain yang terkait dengan GE14 ke dunia maya. Terutama melalui media sosial. ”Itu cara kami untuk menjaga transparansi dan kerahasiaan pilihan rakyat,” kata Sri Mohd Hashim Abdullah, chairman EC. Mereka yang melanggar, imbuh dia, akan dijerat UU Pelanggaran Pemilu 1954. (hep/c11/dos)


TOPIK BERITA TERKAIT: #internasional 

Berita Terkait

Kaca Lepas, Kopilot Tersedot Keluar Pesawat

Internasional

Ratusan Kerangka Korban Tumbal Ditemukan

Internasional

IKLAN