Rabu, 26 September 2018 08:40 WIB
pmk

Fokus

Schneider Electric “Go Green in the City 2016” Pacu Kreativitas Mahasiswa Dunia untuk Ciptakan Solusi Efisiensi Energi di Perkotaan

Redaktur:

indopos.co.id - Schneider Electric menyelenggarakan seleksi final edisi ke-enam Go Green in the City (GGITC), kompetisi global yang berfokus pada solusi inovatif untuk mewujudkan smart cities. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, 9 tim finalis dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia telah terpilih sebagai finalis.
Mereka memaparkan konsep lengkapnya di depan dewan juri yang terdiri dari Riyanto Mashan selaku Country President Schneider Electric Indonesia, Harris M. Yahya selaku Kasubdit Penerapan Teknologi Energi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dan Kanisius Karyono, S.T., M.T. selaku Dekan Fakultas Information and Communication Technologies dan Ketua Program Studi Sistem Komputer Universitas Multimedia Nusantara.
Efisiensi energi di perkotaan merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Hal ini disebabkan oleh arus urbanisasi yang melanda berbagai wilayah dunia. Di tahun 2050 diperkirakan perkotaan akan menjadi pusat kehidupan sebagian besar warga dunia, yaitu sejumlah 2,5 miliar jiwa.
Hal ini juga didukung dengan maraknya era digitalisasi yang juga membutuhkan energi yang begitu besar, dimana di tahun 2020 diprediksi akan ada 50 miliar perangkat yang saling terkoneksi melalui internet. Begitu pula dengan arus industrialisasi, yang dipercaya akan menyerap energi 50% lebih besar di tahun 2050.
Seluruh fenomena ini terpusat di perkotaan. dimana penggunaan energi di perkotaan dipastikan akan meningkat dengan tajam. Diperlukan sinergi penggunaan energi yang efisien dan cerdas sehingga perkotaan dapat tetap memberikan kenyamanan bagi penghuninya di tengah ledakan jumlah penduduk kota.
Riyanto Mashan menanggapi, “Berangkat dari fenomena ini, dibutuhkan sebuah ekosistem yang saling mendorong lahirnya solusi-solusi cerdas dalam memaksimalkan efisiensi energi. Mahasiswa adalah bagian penting dari ekosistem ini, untuk menghasilkan ide-ide baru yang membuka peluang bagi pengkonsumsian energi secara lebih cerdas dan efisien, khususnya di perkotaan.”
“Bagi Schneider Electric, kompetisi GGITC yang sudah kami gelar setiap tahun sejak 2009 merupakan kunci penting bagi lahirnya inovasi, suatu hal yang sejak awal telah menjadi DNA bagi perusahaan kami. Mahasiswa dapat berkontribusi pada pemetaan langkah-langkah digitalisasi, dekarbonisasi dan desentralisasi energi yang saat ini dibutuhkan dunia demi menciptakan lingkungan perkotaan yang tidak hanya efisien secara energi, namun juga ramah lingkungan. Dengan kata lain, kami senantiasa mengupayakan adanya sebuah open innovation yang berkelanjutan di segala level,” lanjut Riyanto.
Mulai dari tanggal 15 Januari hingga 15 April 2016, para mahasiswa di tingkat sarjana, pasca sarjana atau MBA dari seluruh dunia diajak untuk ikut serta dalam tantangan yang diberikan dalam kompetisi ini. Melalui tim yang terdiri dari dua orang, dimana salah satunya harus berjenis kelamin wanita, mereka wajib mengirimkan satu studi kasus yang mengilustrasikan ide solusi pengelolaan energi inovatif untuk Kota Pintar, dengan berfokus pada salah satu dari empat topik dasar tantangan bisnis, yaitu: Strategi dan Teknologi, Produk Reuse & Recycle, EcoDistrict MicroGrid, dan Low Tech Lab.
Yang menarik, tahun ini dibuka pula topik No Boundaries, dimana para mahasiswa dapat bebas berinovasi sesuai dengan peluang efisiensi energi yang mereka anggap relevan dengan kehidupan perkotaan. Hasilnya, jika biasanya peserta kompetisi ini didominasi oleh jurusan bisnis dan teknik, tahun ini latar belakang keilmuan peserta menjadi lebih beragam, dari fisika, bioprocessing, dan lain sebagainya.
Akhirnya, ide-ide yang lahir juga menjadi semakin unik dan berwarna.
Dari tahun ke tahun, minat mahasiswa Indonesia terhadap kompetisi ini terus meningkat. Hal ini menunjukkan semakin besarnya keterlibatan dan ketertarikan dari para mahasiswa muda untuk menemukan solusi-solusi dalam menghadapi tantangan energi saat ini. Sangat membanggakan bahwa tahun ini, Indonesia merupakan negara dengan pendaftar terbanyak, yaitu sebanyak 229 tim.
Harris M. Yahya menyampaikan, “Kementerian ESDM sangat mendukung kegiatan ini, karena kompetisi GGITC memiliki visi dan misi yang sejalan untuk menciptakan inovasi dan gerakan menuju pengelolaan energi yang cerdas dan berkelanjutan, yang dalam hal ini turut merangkul minat dan kontribusi dari generasi muda. Hari ini kami melihat begitu banyak ide yang sangat kreatif, yang mencerminkan gairah di tengah generasi muda untuk ikut berkontribusi dalam melahirkan inovasi.”
Setelah proses pendaftaran, penyaringan dan mentoring oleh tim Schneider Electric, terpilih 9 tim finalis, yaitu:
1. Tim Alzyngris dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan konsep “ThermoElectroFible”
2. Tim Pontoon dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan konsep “Sea Waves Power Plant”
3. Tim Eureka dari Universitas Gajah Mada dengan konsep “ART (Artificial Tree)”
4. Tim Alay asal Universitas Gajah Mada dengan konsep “Heuristic Cost Saving”
5. Tim C3 dari Universitas Indonesia dengan konsep “Charge City with Coffee”
6. Tim Scarf dari Universitas Indonesia dengan konsep “Droplock Turnstile Gate”
7. Tim Jagoan dari Institut Teknologi Bandung dengan konsep “Eskalator Pengelola Energi”
8. Tim Risaikel.com dari Universitas Brawijaya dengan konsep “Risaikel.com”, dan
9. Tim Indo Energy Heroes dari gabungan Universitas Indonesia & Universitas Lampung dengan konsep “Salt Water Lamp”
Setelah masing-masing finalis mempresentasikan proposal mereka di hadapan dewan juri, akhirnya Tim Scarf dari Universitas Indonesia dengan konsep “Droplock Turnstile Gate” berhasil keluar sebagai pemenang pertama. Sementara itu, Tim Indo Energy Heroes dari gabungan Universitas Indonesia & Universitas Lampung dengan konsep “Salt Water Lamp” dan Tim Alzyngris dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan konsep “ThermoElectroFible” masing-masing meraih posisi kedua dan ketiga.
Tahun ini, Schneider Electric Indonesia menyediakan total hadiah mencapai Rp55 juta untuk 3 tim pemenang, dan juga kesempatan untuk melakukan wawancara kerja di Schneider Electric Indonesia. Selanjutnya, pemenang pertama dan kedua dari Indonesia akan berkompetisi dengan negara para pemenang dari negara Asia lainnya di Go Green in the City tingkat East Asia Regional pada tanggal 10 Juni 2016.
Lalu, dua belas tim terbaik dari seluruh dunia akan diberangkatkan ke Paris (Perancis) dari tanggal 19 hingga 23 September 2016 untuk berkompetisi di tahap final Go Green in the City 2016. Satu tim yang juara akan berkeliling dunia dengan fasilitas VIP bersama Schneider Electric untuk mengunjungi berbagai infrastruktur milik Schndeider Electric serta menjalin jaringan kerja dengan karyawan dan manajemen tingkat tinggi Schneider Electric. (rmn)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN