Sabtu, 22 September 2018 10:16 WIB
pmk

Politik

Ramadhan: Tiga Phisikologi Ekonomi Akan Dongkrak Dua Digit Pertumbuhan

Redaktur:

Jakarta, indopos.co.id -- Sudah menjadi hal umum setiap mendekati bulan Ramadhan dan Idul Fitri harga barang dan pangan merangkak naik.

Hal umum ini, nyaris tidak ada yang mencoba untuk mengurai apa parameter pemicu dan mengapa dalam realisasinya kenaikan barang dan pangan tidak banyak mempengaruhi daya beli kebutuhan saat Ramadhan dan Idul Fitri.

Faktor kenaikan harga ceteris paribus, faktor lain tidak berubah. Karena naik atau tidaknya harga, penjualan dianggap tetap naik.

"Artinya, barang jasa dengan target kuantitas yang ditetapkan pelaku ekonomi saat Ramadhan dan Idul Fitri angka penjualannya tinggi," kata Affan Rangkuti, pengamat ekonomi alumni UIKA Bogor melalui rilisnya, Sabtu (04/06/2016).

Lanjutnya, ini menarik, ketika faktor konsumsi lebih determinan dibanding investasi dan berjaga-jaga. Tiga faktor prilaku ekonomi yang digambarkan keynes, saat Ramadhan dan Idul Fitri dideterminasi faktor konsumsi.

"Hukum permintaan dan penawaran yang biasanya berbeda dalam perpektif antara rumah tangga (konsumen) dengan industri (produsen) pada saat titik dan kondisi itu terjadi pencapaian titik kesepakatan. Kesepakatan ini terjadi karena syarat ceteris paribus tidak terpenuhi," kata Affan Rangkuti yang juga tercatat sebagai salah satu pejabat di Kementerian Agama Pusat.

Kondisi ini terjadi karena terjadinya peningkatan kesalehan sosial, ZIS meningkat dan harapan perolehan Tunjangan Hari Raya (THR). Dua indikator ini yang menjadikan hukum penawaran lebih unggul dibanding permintaan.

Affan yang juga Pengurus Besar Ormas Islam Al Washliyah ini juga mengatakan bahwa biaya produksi tetap (stok) harga jual mengalami kenaikan dan diikuti permintaan yang tinggi. Faktor pendongkrak ekspektasi para pelaku ekonomi industri (produsen) adalah peningkatan kesalehan sosial (ZIS) dan THR. "Inilah kondisi pasar istimewa dimana posisi hukum penawaran lebih unggul dari permintaan yang berlaku sesaat," katanya.

Peran pemerintah tentu sangat dibutuhkan dalam menjaga hukum penawaran agar tidak dimanfaatkan produsen dengan liar disaat kondisi yang memang tepat untuk memanfaatkan kondisi itu.

"Ada etika, moral, dan akhlak dalam berbisnis. Ini yang menjadi dasar phisikologi bersama dalam membangun sistem perekonomian disaat Ramadhan, Idul Fitri. Dan alangkah lebih baik lagi jika phisikologi ekonomi ini dijalankan dan menjadi tiga budaya ekonomi nusantara. Saya yakin, pertumbuhan ekonomi kita akan tembus dua digit," kata Affan. (***)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN