Senin, 24 September 2018 12:57 WIB
pmk

Headline

Inikah Perubahan Drastis untuk USD?

Redaktur:

indopos.co.id - Rupiah mengalami pemulihan hebat terhadap Dolar pada penutupan sesi pertama di pekan perdagangan baru ini. USDIDR merosot lebih dari 1.50% menjadi sekitar 13,370 karena Dolar terpukul secara umum di pasar valas meninjau laporan ketenagakerjaan non pertanian (NFP) AS yang dirilis pekan lalu sangat mengecewakan. Berdasarkan laporan ini, ekonomi AS hanya menerima tambahan 38.000 lapangan tenaga kerja baru sepanjang bulan Mei. Ekspektasi suku bunga AS tentu saja menjadi semakin mundur, dan ini positif untuk mata uang serta ekonomi pasar berkembang karena mengurangi vulnerabilitas terhadap arus keluar modal tiba-tiba. "Apabila ekspektasi suku bunga AS terus diundurkan, dampaknya akan positif untuk Rupiah di jangka waktu menengah dan akan menjadi titik balik signifikan mengingat segala tekanan yang dihadapi seluruh mata uang pasar berkembang selama bulan lalu," kata Chief Market Analyst FXTM, Jameel Ahmad dalam keterangannya kepada indopos.co.id Selasa (7/6). Dolar memulai perdagangan pekan ini dengan mencoba merebut kembali momentum setelah mengalami penurunan ekstrem karena laporan NFP AS yang sangat buruk pada penutupan pekan lalu. Banyak pihak yang mungkin mempertanyakan apakah ini akan menjadi faktor penentu yang mengubah situasi bagi Dolar karena tidak ada alasan yang jelas mengapa lapangan pekerjaan di Amerika Serikat hanya meningkat 38.000 pada bulan lalu, yang tentu saja mengganggu ekspektasi suku bunga AS. Walaupun ini hanya satu laporan NFP, penciptaan lapangan pekerjaan di bulan Mei yang merosot ke level terendah dalam hampir enam tahun terakhir dan sinyal masalah ekonomi yang tidak terduga ini hampir pasti membatalkan peluang peningkatan suku bunga AS di bulan Juni. Karena terganggunya ekspektasi suku bunga Federal Reserve, sebagian besar mata uang global mengalami pemulihan signifikan terhadap USD. Mata uang pasar berkembang kemungkinan besar akan menyambut gembira berita tentang pupusnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Ekonomi pasar berkembang khawatir akan peningkatan suku bunga AS karena mengancam terjadinya arus keluar modal. Para investor sangat ingin mengetahui bagaimana Federal Reserve mengevaluasi hasil NFP yang mengecewakan ini. Jadi, Janet Yellen sepertinya akan membahas prospek ekonomi dan kebijakan moneter hari ini di Philadelphia. Selain sebagian besar mata uang global, Emas juga meningkat tajam karena melemahnya USD dan memantul sekitar $40 sehingga mendekati $1250. Penghindaran risiko masih terasa di pasar, Dolar masih dapat terus melemah apabila ada kejelasan bahwa kenaikan suku bunga AS kembali ditunda, selain itu ada ketidakpastian menjelang referendum Uni Eropa. Mengingat tiga faktor tersebut, Juni mungkin akan menjadi bulan yang baik untuk harga Emas. Ini adalah titik balik yang tak terduga apabila kita mengingat bahwa Emas dapat saja merosot ke level support sekitar $1200 apabila pasar meyakini bahwa Fed benar-benar akan meningkatkan suku bunga di musim panas ini. Karena investor menarik posisi USD mereka setelah hasil NFP yang buruk, EURUSD melonjak agresif dan bergerak dari level terendah empat bulan sekitar 1.11 menuju 1.1380. Pasar secara umum tidak memahami sama sekali tentang prospek suku bunga AS di tahun 2016. Setelah hasil NFP yang sangat buruk pada Jumat siang kemarin, Euro mengalami sensitivitas tingkat tinggi. Jika prospek suku bunga AS terus ditunda, EURUSD kemungkinan akan semakin menguat di jangka waktu menengah. Ini sepenuhnya di luar dugaan mengingat beberapa hari lalu pasar semakin meyakini bahwa Fed akan meningkatkan suku bunga AS dua kali di tahun 2016. GBP mungkin satu-satunya mata uang yang semakin melemah terhadap USD karena muncul indikasi tambahan bahwa pihak "Keluar" semakin kuat menjelang referendum Uni Eropa yang akan diselenggarakan sekitar dua minggu lagi. Saat pekan perdagangan dibuka, GBP anjlok karena berita di akhir pekan yang menyiratkan bahwa tidak ada jaminan "Bertahan di Uni Eropa" akan menjadi hasil yang pasti dari referendum mendatang. The Daily Telegraph mengadakan survei terhadap sekitar 19.000 pelanggan yang mengindikasikan bahwa 69% dari responden berencana memilih "Keluar" pada referendum 23 Juni. Walaupun ukuran sampel ini sama sekali tidak mewakili populasi Inggris Raya, namun survei ini meningkatkan kekhawatiran pekan lalu bahwa referendum mendatang ini tidak bisa diremehkan. Ketidakpastian investor sepertinya akan tetap tinggi menjelang referendum. Investor harus terus waspada menghadapi volatilitas tinggi GBP seperti yang kembali terjadi pada jam-jam awal perdagangan hari Senin. (rmn)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN