Minggu, 23 September 2018 07:48 WIB
pmk

Fokus

Syamsul Fajri, Ulama Muda Banua yang Pernah Jadi Imam di Dua Benua

Redaktur:

indopos.co.id - Hafalan Alquran dan suara merdu membuat Syamsul Fajri rajin didaulat memimpin jemaah salat. Tak hanya di Kalimantan Selatan, dia bahkan pernah menjadi imam di Mesir dan Australia. Suatu hari di Ramadan tahun 2008, Syamsul Fajri berjalan kaki dari asramanya di kawasan Zahr Nasr Cityu, Kairo ke masjid terdekat. Panitia masjid tersebut menunjuknya untuk sebuah tugas mulia: menjadi imam Tarawih. Tugas itu bisa dikatakan langka, mengingat Fajri – demikian ia kerap disapa – bukanlah seorang warga Arab setempat. Dia tidak menguasai bahasa Arab sebagai Bahasa ibu. Ribuan kilometer dari sana, anak pasangan Ahmad Rifa’I dan Haslah ini bahkan dilahirkan di Tamunti, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong, 21 September 1987 silam. Meski bukan orang Arab, Fajri  dianugrahi otak yang encer dan suara yang merdu serta pengetahuan agama yang berakar dari masa kecilnya. Pendidikan formalnya tidak jauh-jauh dari madrasah. Sekolah dasar dan menengah di MIN dan MTsN Pugaan, dan kemudian sekolah menengah atas di Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah, Amuntai, Hulu Sungai Utara. Lulus dari Rakha di tahun 2016, Fajri mengikuti tes hafalan Alquran untuk melanjutkan ke Universitas di Kairo, Mesir. Hebatnya, dari ribuan peserta yang mengikuti tes, Fajri berhasil menjadi yang terbaik. Prestasi yang didapatkannya semasa sekolah di Rakha, membuatnya tak kesulitan. Semasa mondok, dia langganan juara di pelbagai bidang penguasaan Alquran. Kesempatan belajar di Mesir tak disia-siakan Fajri. Dia belajar dengan tekun. Predikat jayyid (baik) disabetnya pada tahun pertama di Al-Azhar dan kemudian meningkat di tahun-tahun berikutnya. Tak pelak, Fajri cukup populer sebagai mahasiswa yang cemerlang di Al-Azhar.  Hanya setahun, sejak resmi berstatus mahasiswa Al-Azhar, dia didaulat masjid Arrahman, sebuah mesjid yang populer di lingkungan itu untuk menjadi imam Tarawih. Di Mesir, biasanya tarawih memang membawakan surah Alquran selama 30 hari. Selama tiga tahun berikutnya, Fajri kemudian rutin menjadi imam di masjid itu hingga tahun 2011, tahun yang penuh gejolak politik di Mesir yang kemudian melahirkan revolusi di negeri yang terletak di bantaran sungai Nil itu. Ada sedikit perbedaan yang terlihat pasca revolusi yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak itu. Kepada wartawan Fajri mengatakan pemerintah mulai menertibkan para khatib dan da’I di Mesir.  Caranya dengan menentukan isi khutbah yang sama di seluruh mesjid yang berada  di bawah naungan pemerintah. ”Tujuannya untuk menghindari penyebaran pemahaman-pemahaman yang ekstrim dan berbau radikal di masyarakat Mesir,” jelas Fajri. Meski demikian, bukan karena perubahan atmosfir sosial –keagamaan di Mesir yang membuatnya berhenti menjadi imam Tarawih di Masjid Ar-Rahman, melainkan karena harus fokus mendaftar untuk study S2, juga di Mesir. Menempuh pendidikan tinggi di rantau orang,  membuat Fajri sadar dia tidak bisa mengandalkan beasiswanya. Dalam mencari nafkah, Fajri sepertinya memang berprinsip selama halal, dia mau saja melakoninya, bahkan untuk menjadi pramusaji. Untung saja, biaya hidup di Mesir, tidak begitu tinggi. Semasa S2 di dua kampus yang berbeda, di Al-Azhar dan American Open University, Fajri mencari nafkah dengan menjaga sebuah toko buku di Kairo. Di tahun 2013, Fajri menyunting Fitriyani Hawary, mahasiswi S1 Al-Azhar yang juga satu almamater di pesantren Rakha. Setahun kemudian, lahirlah buah hatinya, Abdurrahman Farih Ni'ami. Di tahun 2014 itu pula, datang tawaran dari sebuah komunitas Islam di Australia yang menginginkan imam untuk tarawih di masjid mereka. Oleh kampusnya, Fajri diutus selama sebulan penuh untuk menjadi imam Tarawih di sebuah masjid di Alice Spring. Di masjid yang berjarak 3 jam waktu tempuh dari Sydney ini, banyak jemaah imigran dari Pakistan, Banglasdesh, India, Prancis dan juga Mesir. Selama sebulan di benua Australia, Fajri tinggal di asrama. Dia melihat tak kalah dengan Mesir, gairah beragama di Australia sedang tumbuh. “Buktinya mereka semangat Tarawih, walaupun 30 juz sebulanan,” ucap Fajri. Tahun ini, Fajri absen menjadi imam Tarawih. Dia harus berjibaku menyelesaikan tesis S2-nya. Dia menulis studi kritik Kitab Ghayah al Ihkam fi Ahadits al Ahkam karangan Imam Muhibbuddin at Thabari sebagai bahan penelitiannya. Selagi, itu, Fajri juga menunggu istrinya selesai kuliah. Apakah ada keinginan untuk mengabdi di Banua? “ Kalo tesis sudah selesai ya secepatnya pengen pulang dan mengabdi untuk umat di tanah air khusus nya dan  di manapun juga,” ucapnya seraya mengatakan pengalaman menjadi Imam di dua benua sedikit banyak menumbuhkan semangatnya untuk mengabdikan ilmunya. “Mau jadi apa, tergantung saja,  yang penting mengajar,” senyum pemuda rendah hati yang rencananya pulang Ramadan  ini.  (by/ran)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

IKLAN