Kamis, 20 September 2018 06:32 WIB
pmk

Fokus

Batik Jarak Tembus Pasar dengan Harga Puluhan Juta

Redaktur:

indopos.co.id - Jarak kembali menjadi perhatian. Daerah yang dulu terkenal dengan lokalisasinya, kini telah berubah menjadi daerah penghasil batik. Batik dengan motif yang menonjolkan daun jarak tersebut dikerjakan oleh masyarakat Jarak di bawah binaan Rumah Kreatif. Keberhasilan Rumah Kreatif, tidak lepas dari kerja keras Mulyadi Gunawan, 43,. Pria yang akrab disapa Pengki tersebut dengan sukarela ingin merubah imej Jarak menjadi daerah yang positif. Dan, menurut pria berdarah tulen Jawa itu, dibutuhkan usaha dengan sabar dan telaten. Pasalnya, untuk membuat batik yang memiliki nilai jual tinggi itu tidak mudah. ”Pada awalnya, masyarakat Jarak acuh dan memandangnya sebelah mata. Mereka melihat batik sebagai produk yang tidak mungkin memenuhi ekonomi mereka sehari-hari,” ungkap Pengki ditemui indopos.co.id ketika Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meninjau usaha ekonomi mandiri di Rumah Kreatif di Jalan Kupang Gunung Timur, Kelurahan Putat Jaya, Sawahan, Surabaya, belum lama ini. Tetapi, itu tidak menjadikan Pria kelahiran Surabaya,12 November 1973 itu patah arang dan menyerah. Berbekal ilmu yang ia peroleh secara otodidak, Pengki mengajarkan bagaimana proses membatik dari cantingan, mendesain batik hingga pewarnaan. Ia mengungkapkan, masyarakat Jarak belajar membatik di rumah kreatif. Itu, menurutnya, dilakukan setiap hari. Lambat laut informasi usaha mandiri tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Dikatakan pria putera kedua dari tiga bersaudara pasangan Alm. Seger dan Mujiyati, 60, pada awal dibuka rumah kreatif hanya diikuti oleh 10 orang saja. Kini sedikitnya ada 50 warga yang aktif membatik di rumah kreatif. ”Ini berkat perhatian Pemkot Surabaya yang membeli satu rumah bekas karaoke menjadi Rumah Batik,” katanya. Pria yang dikarunia dua orang anak dari buah perkawinannya dengan Haris Setyorini, 25, mengatakan, masyarakat terdampak mendapatkan pelatihan membatik di rumah kreatif, sementara Rumah Batik digunakan untuk menampung dan memasarkan batik. Diungkapkan Pengki lagi, saat ini hasil membatik masyarakat Jarak mampu menembus pasar regional. Pasalnya, batik Jarak tersebut dibawa oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya ke pameran di se-antero negeri ini. ”Kita pernah tembus di pasaran hingga 100 potong batik. Itu dari jenis batik sederhana hingga high class yang harganya mencapai Rp 50 juta,” beber Pengki sumringah. Sesekali membuka pesan singkat di telepon selularnya pria dengan potongan rambut gondrong dan keriting tersebut mengungkapkan, aktifitasnya membatik warga Jarak kini semakin maju. Beberapa kemajuan itu, menurutnya berupa pewarnaan baru hingga desain yang lebih sulit. Namun, lanjut Pengki, kesulitan baru tersebut  kerap menyita waktunya. Bahkan, ia harus rela mengorbankan waktu untuk melatih batik di tempat lain. Pasalnya, selain Jarak ia juga melatih membatik untuk masyarakat lanjut usia(Lansia) di Kara, daerah di kota Surabaya. ”Dalam 2 bulan masyarakat Jarak sudah kuasai teknik dasar membatik dari desain, canting, tembok hingga pencelupan. Kini untuk dapat desain yang lebih menonjol mereka kini belajar teknik pewarnaan dasar, lorot, canting lagi,” ungkapnya. Kini, dikatakan Pengki sembari mengajak koran ini untuk melihat praktek membatik di rumah kreatif lambat laut hasil penjualan batik Jarak mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Jarak. Dia mengaku sangat berbangga hati dengan usahanya selama ini. Menurut Pengki, hasil penjualan batik Jarak tidak secara frontal dapat membantu ekonomi masyarakat Jarak, seperti ketika lokalisasi Dolli buming. Akan tetapi, kini masyarakat dapat merasakan hasil jerih payahnya dari batik. Diungkapkan Pengki, tidak ada pemotongan dari hasil penjualan batik. Masyarakat, hanya secara sukarela menyisihkan hasil penjualan batik untuk kas Rumah kreatif. ”Kini masyarakat Jarak mengerjakan batik di rumah masing-masing. Bahan dari mereka sendiri, tapi ketika ada kesulitan warga Jarak akan mengundang saya. Oleh karenanya hasil penjualan sepenuhnya dikembalikan ke masyarakat,” pungkas Pengki. (nas)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN