Kamis, 22 November 2018 06:14 WIB
pmk

Headline

Bagi Saya, Narkotika Lebih Menyeramkan…

Redaktur:

Ditugaskan menjadi menteri koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan, Luhut Binsar Panjaitan memegang peranan besar dalam menjaga keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan Indonesia. Belum genap setahun menjabat, sejumlah kebijakan strategis dia jalankan. Mulai penanganan narkotika, terorisme, penuntasan masalah Papua, sampai tax amnesty. Berikut petikan wawancara wawancara Indopos dan Jawa Pos dengan Luhut Panjaitan Selasa (7/6) di kantornya. Seberapa berbahayakah narkotika sampai perlu diberlakukan status darurat narkoba? LP: Kalau ditanya itu, saya tegaskan, narkoba super bahaya. Saat ini jumlah pengguna narkoba di Indonesia sudah 5,9 juta orang. Itu yang ketahuan, yang tidak terdeteksi bagaimana? Apa yang harus dilakukan? Saya rasa semua harus bertindak. Semua tokoh agama, pendidik, masyarakat harus bergerak bersama. Sebab narkoba itu sudah menjerat siapa pun, dari agama apa pun,  jabatan apa pun dan kelas apa pun. Mau Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau atheis sekali pun sudah ada yang terjerat narkoba. Saya rasa tidak ada yang mengklaim kelompoknya steril. Bupati dan kolonel pun sekarang terjerat narkoba. Teman saya ada yang (jenderal) bintang tiga, dua anaknya kena narkoba. Saya mengimbau kita semua duduk bersama, melihat apa yang salah dari bangsa ini. Tiap hari 30-50 orang mati karena narkoba. HIV yang punya konektivitas dengan narkoba pun semakin meningkat. Di Papua yang terjangkit ada 2,4 persen, Papua Barat 3,2 persen, dan Jakarta 1,03 persen. Itu kan sudah epidemik. Narkotika sudah menjadi hantu tersendiri di tengah masyarakat? Ya! Menurut saya narkoba ini persoalan penting yang harus dipikirkan bersama-sama. Teroris memang berbahaya, tapi bagi saya narkoba jauh lebih menyeramkan. Korban teroris tidak ada apa-apanya dengan narkotika. Drugs is very-very dangerous. Ini lebih kejam dari terorisme. Kalau begini terus, bagaimana anak-anak muda kita. Saya juga mikirin cucu saya. Makanya saya terus keliling memkampanyekan ini. Saya ajak semua tokoh bersatu melawan narkoba. Belakangan Bapak sering kampanye ke pondok pesantren? Itu saya lakukan karena kerisauan saya. Pernah saya datang ke sebuah ponpes di Jember, di akhir acara saya ditarik dan diajak bicara empat mata oleh pengasuh pesantren. Beliau bilang, dalam salatnya melihat wajah saya. Beliau memohon agar saya benar-benar turun menyikapi narkoba yang mulai masuk ke pesantren. Bagaimana ceritanya narkoba bisa masuk ke pesantren? Ternyata narkoba masuk melalui santri. Dia dibujuk, dikasih barang yang katanya bisa membuat kuat dzikir. Awalnya, satu-dua kali mereka diberi ekstasi atau sabu. Berikutnya setelah kecanduan mereka disuruh beli oleh pengedarnya. Ini sangat bahaya. Tak hanya ke pesantren, ke gereja-gereja juga. Termasuk di kampung saya. Semua tempat kini bisa dimasuki narkotika. Saat ini terjadi pro dan kontra terhadap penanganan penyalagunaan narkoba, mereka direhab atau dipenjara? Kalau dia pengedar harus kita penjara. Tapi kalau dia pengguna, kita masih upayakan untuk rehab. Yang jadi pertanyaan bagaimana kalau penggunanya 3-4 kali tertangkap. Itu yang masih kami cara jawabannya. Kalau kita masukan mereka semua ke penjara, lapas (lembaga pemasyarakatan) kita tidak muat. Malah akan terjadi masalah di penjara kita. Selama ini pemakai dan pengedar masih abu-abu? Memang iya, kadang tipis sekali. Makanya semuanya harus turun tangan karena Presiden juga telah menyatakan darurat narkoba. Kadang kita sulit membedakan orang itu sudah jera atau belum. Freddy Budiman (terpidana mati kasus narkoba) misalnya. Dari dandanannya (terkesan agamis) kami sempat mengira dia telah sadar. Eh ternyata saya dapat laporan dia masih mengendalikan narkoba setelah dipindahkan dari Lapas Gunung Sindur ke Nusakambangan. Jadi pemerintah menyikapi ini lebih ke arah represif, pencegahan atau jalan dua-duanya? Kalau pengedar harus ditindak tegas (dengan nada tinggi). Dari sisi pencegahan, kita punya masalah dengan perbatasan. Banyak daerah perbatasan yang rentan menjadi pintu masuk narkotika dan tidak bisa terdeteksi. Bagaimana Bapak menyikapi itu? Itu benar. Sebagai negara kepulauan pintu masuk memang menjadi masalah kita. Sebenarnya kita butuh uang agar punya satelit untuk mengontrol itu. Tapi dana untuk itu tidak sedikit, butuh USD 700 juta. Kalau ekonomi kita bagus, lima tahun lagi mungkin bisa. Sekarang ini kan ekonomi dunia lesu dan kita ikut terdampak. Dengan kondisi seperti ini berarti tingkat kerawanan kita masih tinggi? Sangat tinggi. Makanya kita harus bersama menyelesaikan masalah ini. Janganlah berkelahi, apalagi untuk urusan yang tidak penting. Jadi apa langkah jangka pendek yang dilakukan pemerintah? Saya kira BNN sudah bekerja sangat bagus. Tapi perang terhadap narkoba perlu lebih masif dan bersama. Sebab pelaku-pelaku bisnis narkoba juga berupaya mempengaruhi pejabat kita. Mereka memberi iming-iming uang yang cukup besar. Bisa ngiler juga kalau dipengaruhi uang besar. Kita juga terus kejar kejahatan narkoba dari sisi tindak pidana pencucian uang (TPPU). (gun)

TOPIK BERITA TERKAIT: #boks 

Berita Terkait

IKLAN