Sabtu, 22 September 2018 06:17 WIB
pmk

Politik

Hasil Seminar Nasional MPR dan PB NU, Asing Tak Mau Indonesia Maju

Redaktur:

indopos.co.id - Bangsa asing berupaya gigih agar Indonesia tidak mengalami kemajuan yang pesat. Alhasil, berbagai isu yang dapat memecah belah terus digulirkan secara masif. Oleh sebab itu, generasi muda bangsa jangan sampai terpengaruh dan harus berdiri kokoh menghadapi tantangan zaman. Menurut Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang, sosialisasi mengenai empat pilar berbangsa dan bernegara memang perlu secara terus menerus dilakukan pada generasi muda-muda Indonesia. Karena empat pilar tersebutlah yang membuat bangsa Indonesia sampai saat saat ini masih berdiri kokoh, dan tegak menghadapi tantangan zaman. “Pihak asing sangat tidak ingin bila Indonesia maju. Untuk itu generasi muda jangan sampai terpengaruh dengan isu-isu yang dapat memecah belah bangsa Indonesia,” ungkapnya saat memberikan sambutan acara seminar nasional yang digelar MPR RI dan PBNU bertema ‘Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Empat Pilar MPR RI’ di Gedung Syeikh Abdurani Mahmud, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (14/6). Dalam acara tersebut, hadir Ketua PB NU KH Said Aqil Siradj, Rektor UIN Pontianak H Hamka Siregar, Ketua PC NU Kota Pontianak, H Ahmad Faruki, Wali Kota Pontianak, H Sutarmidji dan Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar, M Zeet. Oso, sapaan akrab Oesman Sapta Odang, menuturkan, sejatinya semua pemuda-pemudi Indonesia sudah tahu akan empat pilar tersebut, tapi isi serta pengamalannya yang perlu ditingkatkan. Saat ini, lanjutnya, banyak sekali kepentingan asing yang mengintervensi kepentingan bangsa Indonesia dan anak muda yang sudah mulai hilang mengenai wawasan kebangsaannya. Melihat hal itulah, kata Senator asal Kalbar itu, sebagai pejabat yang memiliki tanggung jawab, dirinya menganggap perlu untuk terus melakukan sosialisasi. “Di sini kita menegaskan 4 pilar. Dengan itu semua jelas dan mengerti soal filosofinya, tinggal mengenal isinya, jangan terlalu ruwet, Pancasila itu mudah (dimengerti, red) dengan perbuatan yang besar, karena inilah pertahanan terakhir bangsa,” tuturnya. Dia menambahkan, sesama agama diadu domba, sesama etnis diadu domba, partai hingga para pemangku kepentingan saling sindir. “Saya hanya ingin mengingatkan satu pesan, saya bukan siapa-siapa, saya anak dipinggir laut. Yang perlu diingat adalah pengalaman, jadi jangan sampai berfikir tidak ada tempat,” tuturnya. Sebelumnya, Oso menggelar acara buka puasa bersama dengan 200 anak yatim di Masjid Mujahidin, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Senin (13/6) malam. Hadir di acara tersebut jajaran petinggi daerah, antara lain Kapolda Kalbar, Kajati, Danrem serta tokoh-tokoh masyarakat. (aen)


TOPIK BERITA TERKAIT: #mpr-ri 

Berita Terkait

Jokowi Kutip 5 Petuah di Pidato Sidang Tahunan MPR

Nasional

SBY Absen di Sidang Tahunan

Nasional

IKLAN