Asing Incar Farmasi RI

JAKARTA, indopos.co.id – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) membawa oleh-oleh dari kunjungan di tiga kota di Tiongkok. Yakni, Qingdao, Hangzhou, dan Shanghai. Perusahaan farmasi asal Negeri Panda itu menyampaikan minat untuk menanamkan modal di Indonesia. Pemerintah pun akan mengawal minat tersebut hingga tahap realisasi. Apalagi minat itu diidentifikasi setelah revisi daftar negatif investasi (DNI).

’’Timing-nya tepat karena setelah revisi DNI. Apalagi saat ini, pemerintah berupaya meningkatkan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan,’’ katanya (19/6).

Baca Juga :

Kolaborasi Kredivo dan Permata Bank

Menurut dia, ada empat perusahaan di sektor farmasi yang hadir dalam pertemuan di Shanghai, Tiongkok. Perusahaan-perusahaan tersebut menyampaikan sejumlah pertanyaan mengenai regulasi terbaru, terutama kepemilikan asing serta peraturan penunjang.

Saat ini, lanjut dia, pemerintah menyusun road map dan action plan untuk mengembangkan industri farmasi dan alat kesehatan; meningkatkan produksi vaksin, produk alam, industri bahan baku obat; serta mengoptimalkan bioteknologi. Selain itu, pemerintah meningkatkan suplai alat kesehatan produk dalam negeri seperti furnitur rumah sakit, implan ortopedi, perangkat elektromedical, diagnostics instruments, diagnostics reagents, dan yang lain.

Baca Juga :

Pemerintah juga memiliki program jaminan kesehatan nasional yang berpotensi meningkatkan kebutuhan obat dan alat kesehatan. Namun, 96 persen bahan baku yang digunakan industri farmasi diperoleh melalui impor. Karena itu, pemerintah berupaya mendorong industri bahan baku obat dalam negeri dengan cara membuka 100 persen industri itu untuk asing.

’’Bapak presiden mengharapkan pada 2019 pemenuhan kebutuhan bahan baku obat dalam negeri bisa mencapai 50 persen,” ungkapnya.(ken/c5/oki/jpnn)

 

Komentar telah ditutup.