Portugal Seret, Bukan Cuma Salah Ronaldo

Indopos.co.id- ”SETELAH pengalaman ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi,” ungkap Adam Szalai, bomber Hungaria, dikutip dari IFI Press. Szalai mengungkapkannya setelah mampu mengacak-acak pertahanan Portugal, Kamis WIB (23/6). Meskipun tidak mencatatkan namanya di papan skor, pemain berusia 28 tahun itu sudah memberi Fernando Santos pelajaran.

Pelajaran bahwa tidak tepat jika mengkambing hitamkan Cristiano Ronaldo di balik penampilan seret yang dialami Seleccao das Quinas – julukan Portugal – di Euro 2016 ini. Sebaliknya, satu celah di lini belakang harus jadi perhatian Santos. Terutama dengan keberadaan Ricardo Carvalho di posisi bek tengah Portugal.

Dengan usianya yang sudah 38 tahun, kecepatan lari Carvalho sudah ketinggalan dari bomber-bomber yang lebih muda usianya. Di laga kemarin, Szalai lebih dari lima kali memaksa mantan pemain Chelsea tersebut untuk adu sprint. Bahkan memancing Carvalho untuk melanggarnya, seperti kejadian sebelum Balázs Dzsudzsák mencetak gol dari tendangan bebas di menit ke-55.

Menurut catatan Opta, beberapa kali skema serangan Hungaria memanfaatkan celah yang tidak mampu di-cover dengan cepat oleh Carvalho. Beruntung hanya tiga gol yang mampu menjebol gawang Rui Patricio. Namun, tetap saja kebobolan tiga gol itu menjadi jumlah kebobolan terbanyak Portugal di dalam kurun waktu setahun terakhir.

Baca Juga :

Kali terakhir Portugal kebobolan dua gol adalah pada kualifikasi Euro 2016 melawan Armenia, di Yerevan, 13 Juni tahun lalu. ”Inilah isu utama yang menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Di satu sisi, kami sudah membaik dengan mencetak lebih dari satu gol. Di sisi lain, pertahanan kami malah semakin melemah,” keluh Santos, dikutip dari ESPN.

Padahal, apabila melihat dari penguasaan bola yang hanya 37 persen, tidak semestinya Hungaria mampu mencetak sampai tiga gol. Selain itu, Balázs Dzsudzsák dkk juga lebih berhasil mendekati area depan gawang Portugal. Itu bisa dilihat dari persentase hampir 60 persen tembakan skuad yang dibesut Bernd Strock itu yang mengarah ke gawang Patricio.

Baca Juga :

Najwa dan Percha Galakkan Literasi ke Milenial

Lambannya Carvalho yang sudah bermain di empat Euro itu semakin dipersulit performa buruk dua pemain defense Portugal lainnya. Eliseu misalnya. Menggantikan Raphael Guerreiro yang dibekap cedera otot, Eliseu malah menjadi titik terlemah kedua setelah Carvalho. Selain lemah dalam defense, Eliseu juga kurang berkontribusi naik ke pertahanan lawan.

Santos mengungkapkan, performa defense itulah yang membuatnya harus berpikir keras untuk menyeimbangkan permainan Portugal. Antara menyerang dan bertahan. ”Susah kami mendapatkannya (solusi untuk keseimbangan tim). Rasanya kami butuh jawaban yang senilai EUR 1 juta supaya mampu bermain sama bagusnya antara menyerang dan bertahan,” tuturnya.

ESPN menyebut, Renato Sanches bisa menjadi salah satu solusi bagi Santos dalam mengatasi kelemahan tersebut. Dengan posisi aslinya sebagai gelandang tengah, Sanches juga mampu dimainkan sebagai pivot di depan back four Portugal. Dengan usianya yang masih muda dan tenaga yang masih enerjik, pemain yang membela Bayern Muenchen musim depan itu tepat untuk menjadi motor Portugal dalam transisi dari bertahan ke menyerang. (ren)

Komentar telah ditutup.