Buru Marketing Sales Rp 4,5 Triliun

JAKARTA, indopos.co.id – Manajemen PT Summarecon Agung (SMRA) optimistis mengoleksi pra penjualan marketing senilai Rp 4,5 triliun. Kondisi itu naik tipis 3 persen dibanding perolehan tahun lalu. Optimisme perusahaan didasari data medio Juni tahun ini, pra penjualan marketing telah terakumulasi Rp 1,4 triliun.

Untuk menggapai proyeksi itu, perusahaan akan memaksimalkan waktu tersisa. Apalagi, perseroan telah meluncurkan sejumlah produk baru seperti di Bandung merilis 104 unit rumah tapak dengan banderol mulai Rp 1,9 miliar. Itu lanjutan dari klaster B’tari diperkenalkan tahun lalu. Selain itu, juga telah meluncurkan satu klaster baru bertajuk Tesla di Summarecon Serpong sebanyak 406 unit dengan harga Rp 1,2 miliar hingga Rp 2 miliar.

”Data per Juni menjadi modal berharga untuk menggapai target. Dalam situasi ekonomi belum sepenuhnya lepas dari gejolak, kami justru tetap mengalami pertumbuhan,” beber Direktur Utama Summarecon Agung Adrianto Adhi.

Dari total pra penjualan semester pertama itu, Summarecon Serpong (SS) menyumbang 54 persen, Summarecon Bekasi (SB) 9 persen, Summarecon Kelapa Gading (SKG) 5 persen, Summarecon Karawang (SK) 16 persen dan Summarecon Bandung (SB) 16 persen. Untuk serapan belanja modal (Capex) telah mencapai 30 persen dari alokasi Rp 2,7 triliun.

Di mana, peruntukan belanja modal lebih banyak dipakai pengembangan infrastruktur proyek properti pada lima kota tersebut. Belanja modal itu didanai dari kas internal dan pinjaman bank. Serapan capex tidak digunakan untuk menambah lahan.

Apalagi, Summarecon Bandung November tahun lalu telah melakukan penjualan, diikuti Summarecon Serpong, dan Karawang. ”Kini alokasi capex untuk membangun produk-produk tersebut,” ulas Adrianto.

Baca Juga :

Kacamata Kayu

Saat ini, cadangan lahan (landbank) emiten dengan sokongan tiga pilar utama berupa pengembangan properti, properti investasi serta leisure atau hospitality itu mencapai 2.200 hektare (ha). Dari total landbank itu, terbesar berada di Serpong seluas 600 ha, Bekasi 400 ha, Bandung 350 ha, Karawang 35 ha, Bogor 400 ha dan sisanya tersebar di sejumlah wilayah.

Sementara perusahaan memastikan membagi dividen Rp 5 per saham untuk tahun buku 2015. Selain dividen, laba bersih tahun lalu dialokasikan untuk dana cadangan dan laba ditahan, guna memperkuat permodalan dan ekspansi bisnis perusahaan dibidang properti.

Sepanjang tahun lalu, perusahaan mencatat pendapatan turun 2 persen menjadi Rp 5,62 triliun, laba kotor turun 5 persen menjadi Rp 2,91 triliun dan laba bersih ikut minus 38 persen menjadi Rp 860 miliar. (far)

Komentar telah ditutup.