Tujuh Tahun Lagi, Pemerintah Stop BBM Impor

indopos.co.id – Mimpi Indonesia agar mandiri dalam penyediaan energi segera terwujud. Selesainya pembangunan sejumlah kilang bahan bakar minyak (BBM) pada 2023 membuat kapasitas produksi BBM Pertamina mencapai 2 juta kiloliter per hari.

Saat ini kapasitas produksi solar Pertamina melebihi kebutuhan harian. Di antara total produksi kilang 60 ribu barel per hari, Pertamina mampu menghasilkan solar 50 ribu barel per hari. Artinya, terjadi surplus produksi solar 10 ribu barel per hari.

Karena konsumsi solar domestik menurun, Pertamina memutuskan mengubah kelebihan produksi solar 10 ribu barel per hari tersebut menjadi avtur. ’’Tahun ini kami tidak impor solar,” kata Direktur Hulu Pertamina Rachmad Hardadi di Jakarta.

Kapasitas produksi solar meningkat sejak kembali beroperasinya kilang milik Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban pada akhir tahun lalu. Selain itu, kilang Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) di Cilacap mulai beroperasi Agustus tahun lalu.

Baca Juga :

Berdasar data Pertamina, penurunan impor solar tahun ini mencapai 2,9 juta barel. ’’Jumlahnya terus menurun ketika semua kilang selesai dibangun,” terang Hardadi.Di sisi lain, konsumsi solar domestik saat ini anjlok karena kewajiban penggunaan biodiesel (B2o). Bahan bakar solar yang saat ini beredar memang tidak 100 persen hasil hidrokarbon. Sebanyak 20 persen di antaranya merupakan fame yang dihasilkan industri kelapa sawit.

’’Karena penggunaan biodiesel, produk kami (solar, Red) terdepresiasi,” jelasnya.

Baca Juga :

Harga BBM Turun, Bukan Pencitraan

Penurunan konsumsi solar juga disumbang kelesuan industri pertambangan. Karena itu, bila tidak diputuskan untuk diubah menjadi avtur, kelebihan produksi solar 10 ribu barel per hari bisa saja diekspor.

Tahun depan kapasitas kilang BBM Pertamina bertambah besar. Yakni, hasil dari sejumlah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang saat ini dilaksanakan. Selain proyek RFCC di Cilacap, Pertamina memperbarui kilang di Balikpapan, Bontang, dan Tuban.

Kapasitas kilang Pertamina diproyeksi naik menjadi 1,1 juta bph pada 2019 setelah RDMP Balikpapan selesai. Lalu, kilang Tuban yang dibangun Saudi Aramco diprediksi selesai pada 2021 dan membuat kapasitas produksi meningkat menjadi 1,4 juta bph. Setahun kemudian, RDMP Cilacap selesai dengan kapasitas 1,420 juta bph.

Dari RDMP Cilacap, tambahannya terkesan kecil karena hanya 20 ribu bph. Namun, dia menjelaskan bahwa kompleksitas kilang menjadi jauh lebih besar. ’’Kalau tidak ada sesuatu, pada 2023 sudah tidak perlu impor BBM lagi,’’ pungkasnya. (dim/c5/noe/adi)

Komentar telah ditutup.