Tarif Parkir Tak Terkontrol

PALU, indopos.co.id – Jejeran sepeda motor terparkir di pinggir-pinggir jalan sudah menjadi salah satu pemandangan biasa ketika memasuki malam menjelang puncak perayaan Idul Fitri.

Para juru parkir dadakan atau liar seakan muncul di mana-mana. Tak tanggung-tanggung, tarif parkir pun seolah tak terkontrol. Pasalnya, para juru parkir menarik tarif sudah melebihi yang ditetapkan sesuai peraturan daerah (Perda) yang tembus mulai dari Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, Rp 15 ribu, bahkan mencapai Rp 20 ribu per kendaraan.

Baca Juga :

Angkat Sumber Radio Aktif

Seperti yang terjadi di Kompleks Pertokoan Hasanuddin, Kota Palu. Pantauan Radar Sulteng Selasa malam (5/7), menjelang puncak perayaan Idul Fitri 1437 H tahun 2016.

Padahal, tarif parkir yang diminta menjadi berlipat-lipat dari ketentuan Perda yang hanya Rp 1.000 untuk kendaraan roda dua (motor), dan Rp 2.000 untuk roda empat (mobil).

Baca Juga :

Hampir di setiap sudut jalan, mulai dari Jalan Hasanuddin I depan Bank Danamon hingga bundaran jam kota, semuanya dipenuhi lahan parkir. Kemudian Jalan Togian serta jalan-jalan di sekitarnya. Tampak pula petugas kepolisian dari Polres Palu dan petugas Dishubkominfo Kota Palu, terus mengatur arus kendaraan agar tidak terjadi kemacetan.

“Saya kaget, waktu mau keluar tadi. Begitu saya ambil motor saya disuruh bayar Rp 15 ribu. Ini kan sudah sangat merugikan. Kalau Rp 5 ribu, ya mungkin masih wajar-wajarlah,” kata Mufida, pengunjung yang baru saja keluar dari Kompleks Pertokoan Hasanuddin malam itu.

Keluhan juga dilontarkan Fadlin. Warga Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi, itu mengatakan bahwa dia baru saja membayar tarif parkir Rp 10 ribu. Tarif parkir tersebut sangat tinggi kata dia dan cukup meresahkan. “Lama-lama uang cuma habis untuk bayar parkir. Apalagi saya masih singgah di tempat lain juga. Dan sudah tentu bayar parkir lagi. kalau bisa janganlah terlalu mahal seperti ini,”harapnya.

Sementara itu, juru parkir yang berada di kawasan tersebut mengaku bahwa itu sudah harga yang dipatok pihak pemilik lahan. Hasilnya kata juru parkir yang tidak ingin diketahui namanya tersebut, akan dibagi dengan pemilik lahan.

Menurut pengakuannya pula, harga Rp 10 ribu sudah termasuk dengan biaya tanggung jawab mereka, apabila helm pengunjung tercecer atau hilang.

“Kami akan ganti rugi helmnya pengunjung yang hilang, yang penting hilang di wilayah lahan parkir kami. Makanya kami mintakan tarifnya Rp 10 ribu,“ terangnya.

Sementara itu, pantauan Radar Sulteng di tempat lainnya seperti kawasan Palu Plaza Jalan Danau Poso, belakang Grand Mall Palu, Pasar Bambaru Jalan Teuku Umar, untuk kendaraan roda dua berkisar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu, roda empat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu.

“Keterlaluan tarif parkir yang diberlakukan sampai Rp 10 ribu, kenapa pemerintah lakukan pembiaraan,” kata Dodi warga Jalan Towua di Palu Plaza, Senin malam (4/7).

Warga lain menuturkan, tidak semua tempat perbelanjaan yang memberlakukan parkir terlalu tinggi. Ada beberapa juru parkir yang mengenakan kartu dan rompi parkir tetap memberlakukan tarif parkir sesuai tarif yang ditetap Perda Rp 1.000 untuk motor dan Rp 2.000 untuk mobil, seperti yang di pusat perbelanjaan Bumi Nyiur Swalayan Jalan S Parman, dan di Mal Tatura Palu. “Ada juga yang masih wajar tarif parkirnya,” ungkap Micheal warga Jalan Towua.

Sebelumnya, Kepala Dishubkominfo Kota Palu, Ajenkris dikonfirmasi mengatakan, terkait tarif parkir melebihi tarif yang ditetapkan dalam Perda Kota Palu, seakan melegalkan pungutan parkir yang tidak sesuai tarif yang ditetapkan sesuai Perda Parkir Kota Palu. Ajenkris mengatakan, tarif parkir di atas tarif parkir yang ditetapkan juru parkir wajar-wajar saja karena momen lebaran dan hanya setahun sekali. “Ini kan momen lebaran, sekali setahun. Tidak ada salahnya berbagi rezeki setahun sekali,” ungkapnya santai. (mul/cr1)


loading...

Komentar telah ditutup.