Alexa Metrics

Paris setelah Kekalahan Les Bleus di Final Euro 2016

Paris setelah Kekalahan Les Bleus di Final Euro 2016

Indopos.co.id- Kekalahan melawan Portugal di partai puncak Euro 2016 membuat Prancis bermuram durja. Bukan hanya pemain atau penonton di Stade de France, melainkan juga para volunter, petugas keamanan, polisi, dan tentu saja seluruh warga Prancis.

M Ilham, Paris

PARIS dijuluki kota cahaya. Kala malam tiba, kota itu terang benderang oleh cahaya lampu dan meriah sepanjang waktu. Dan, diyakini lebih bercahaya kalau timnas Prancis juara Euro 2016. Tapi, Les Bleus –julukan Prancis– kalah oleh Portugal. Di Stade de France, Saint-Denis, kemeriahan pesta juara Portugal pun tak terasa. Pesta kembang api hanya sejenak dan sama sekali tidak membuat malam itu lebih terang. Saat Cristiano Ronaldo dkk merayakan gelar juara, fans Prancis dengan langkah gontai keluar dari stadion.

Saat keluar dari stadion pukul 00.30 waktu setempat, koran ini melihat hanya segelintir fans Portugal yang masih berada di area tersebut. Fans Prancis bersih. Saat menuju stasiun metro Saint-Denis Porte de Paris, hanya segelintir fans tuan rumah yang tersisa. Ketika fans Prancis sudah pulang ke rumah dan berusaha melupakan kegetiran, para volunter, petugas keamanan, polisi, dan pengawas metro masih bekerja. Wajah muram tak bisa mereka sembunyikan. Namun, mereka tetap bekerja agar disebut sebagai tuan rumah yang baik.

Tak seperti biasa, saat hari H pertandingan, kereta metro beroperasi hingga pukul 02.00. Tapi, dini hari itu berbeda. Masih pukul 01.00, tapi tinggal beberapa jalur metro yang beroperasi. Banyak yang sudah istirahat. Akibatnya, penumpang memilih berhenti di stasiun besar terdekat agar memungkinkan mencari taksi atau jalan menuju penginapan. Di Gare du Nord, salah satu stasiun besar, yang juga merupakan stasiun bagi beberapa jalur metro, sempat terjadi perdebatan lama antara polisi plus petugas metro dengan para calon penumpang. Sebab, jalan menuju metro line 5 yang berujung di Bobigny dan Place d’Italie ditutup. ’’Ini aneh. Padahal, di hari biasa, saya pernah pulang pukul 01.00 pada hari pertandingan sebelumnya dan masih beroperasi,’’ kata Gelson Nunes, fans Portugal. ’’Kalau saja mereka menang, pasti keretanya sampai pagi,’’ ujarnya, tersenyum.

Saat keluar dari stasiun, tak ada kemeriahan. Hanya ada beberapa fans Portugal. Itu pun tidak banyak yang melakukan yel-yel. Pada pukul 02.00, pendukung Portugal mulai berkumpul di Champs-Elysees. Mereka menguasai area itu dan berpesta. Sejumlah warga lokal ikut bergabung.  Kawasan Champs-Elysees yang biasanya menjadi lokasi pesta malam itu tak gemerlap sama sekali. Tak ada kembang api. Cahaya pun redup. Polisi mulai terkonsentrasi di lokasi tersebut.

Menjelang dini hari, makin banyak orang yang berkumpul di lokasi yang biasanya dijadikan pawai pada Bastille Day itu. Pesta kembang api yang direncanakan akhirnya gagal. ’’Seharusnya akan indah apabila kami merayakan Bastille Day dengan trofi Euro 2016 di tangan. Akan ada pesta yang gila-gilaan, dan kota ini tidak akan tidur sampai pagi. Tapi, dengan kondisi ini, saya memilih pulang dan tidur,’’ kata Loic Eppailard, warga Laumiere, Paris. Apa pun yang terjadi, pada 13-14 Juli, Paris akan bercahaya. Mereka merayakan Bastille Day. Itu hari paling sakral dalam sejarah Prancis modern. Selebrasi dipusatkan di Champs-Elysees. Juga pesta kembang api di Champs de Mars alias area Eiffel. (*/c17/ca)



Apa Pendapatmu?