Efek Brexit, Inggris Ganti PM

Indopos.co.id– Tampuk pemerintahan Inggris berganti hari ini. Jabatan perdana menteri (PM) yang melekat pada David Cameron sejak 11 Mei 2010 berpindah ke tangan Theresa May. Kemarin (12/7) kali terakhir tokoh 49 tahun itu memimpin rapat kabinet. Cameron dan keluarganya pun segera meninggalkan Downing Street 10.

Rapat kabinet pada hari terakhir sebagai PM itu menjadi momentum tepat bagi Cameron untuk berpamitan. Setelah itu, dia bakal menghadapi sesi tanya jawab terakhir parlemen atau Prime Minister’s Questions (PMQs) hari ini. Selanjutnya, Cameron menghadap Ratu Elizabeth II untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya secara resmi kepada sang pemimpin monarki.

Baca Juga :

Begitu Cameron meninggalkan Istana Buckingham, rangkaian pamitan berakhir. Dan, PM Inggris pun resmi berganti. Kini tongkat komando beralih ke tangan May. Tugas pertamanya sebagai penguasa baru Downing Street 10 ialah membentuk kabinet. Itu juga yang tertulis dalam surat perintah resmi dari kerajaan terhadap pengganti Cameron tersebut.

’’Saya merasa sangat tersanjung bisa melanjutkan pemerintahan ini. Saya berjanji akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) dengan sukses,’’ kata May setelah Cameron menjadwalkan hari terakhirnya sebagai PM. Di hadapan politikus Konservatif, alumnus Oxford University itu menyampaikan terima kasih kepada Cameron yang sekitar enam tahun terakhir menjadi pemimpin partai.

Baca Juga :

’’Sebagai PM, saya ingin memastikan bahwa kita meninggalkan UE,’’ tandasnya di markas partai. Politikus 59 tahun yang menjadi PM perempuan kedua setelah mendiang Margaret Thatcher itu bakal mengisi kabinetnya dengan tokoh-tokoh pro-Brexit (British Exit). Bahkan, kabarnya, dia akan membentuk kementerian baru yang khusus mengurusi Brexit.

’’Kita tidak bisa membohongi diri sendiri dengan menganggap seluruh rangkaian proses (Brexit) akan singkat atau lancar-lancar saja. Kita perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar membebaskan seluruh aturan, hukum, dan undang-undang kita dari mekanisme Brussels (UE),’’ papar perempuan penggila sepatu bermotif leopard tersebut. Oleh karena itu, dia membutuhkan figur pro-Brexit dalam pemerintahannya nanti.

Komentar telah ditutup.