RSUD Kota Bekasi Terlilit Hutang Rp 1 Miliar

BEKASI, indopos.co.id – Hasil audit yang dilakukan pihak Inspektorat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi menemukan transaksi hutang obat. Nilainya hutang RSUD mencapai Rp 1 miliar kepada pihak distributor obat.

”Kurang lebihnya nilai hutang RSUD ke distributor obat mencapai Rp 1 miliar setelah kami audit. Kalau hutang sebelumnya sudah dibayarkan semua oleh rumah sakit,” kata Kepala Inspektorat Kota Bekasi, Cucu Syamsudin kepada INDOPOS, Rabu (13/7) kemarin.

Baca Juga :

Kepri Gelar Doa untuk Bangsa

Hanya saja, Cucu berkelit ketika dikatakan dampak hutang itu mempengaruhi kosongnya stok obat yang ada di RSUD. Sebab, pihak distributor obat tidak mau mengirimkan obat lagi, bila dana hutang tersebut belum bisa dibayarkan. “Bukan karena hutang. Tapi karena memang tidak masuk dalam pembelian saja kok kondisi kekosongan obat ini,” imbuhnya.

Cucu menambahkan, hutang yang diderita rumah sakit itu bukan berarti tidak memiliki uang untuk membayar. Pihak RSUD dianggap hanya tidak matang dalam perencanaan pembelian stok obat setiap tahun anggaran. “Padahal mereka punya uang. Tapi dalam alokasi pembelian obat tidak matang. Jadinya kurang uangnya,” ucapnya.

Baca Juga :

Pemkot Surabaya Bangun Buffer Zone di Benowo

Selama ini, kata Cucu pembelian obat yang dilakukan pihak rumah sakit hanya untuk 900 item obat setiap tahunnya. Padahal, jenis obat yang dibutuhkan oleh pasien tidak semua tercatat. Sehingga, dalam perjalanannya obat yang diperlukan tidak ada. “Tidak ada inventarisir data obat pasien oleh RSUD. Jadi terkesan kekurangan terus,” ujarnya.

Misalkan, kata Cucu, dua item obat yang dicek langsung ternyata memang tidak ada. Kedua jenis obat itu diantaranya Jantung dan Kejang. Seharusnya, kata Cucu, obat tersebut harus disediakan mengingat penyakitnya beresiko. “Kami hanya mendapat dua laporan kalau dua obat itu yang kosong. Ternyata saya cek, memang kosong,” jelasnya.

Baca Juga :

110 Pulau Baru di NTB Ditemukan

Kedepan, kata Cucu, pihaknya segera merapihkan manajemen pengelolaan obat di RSUD. Sehingga, dalam anggaran perubahan bisa segera diselesaikan semua. Salah satunya, terkait standar operasional prosedur yang harus dilakukan pihak rumah sakit. “Terutama SOP yang harus ditekankan pihak rumah sakit,” ucapnya.

Sementara itu, ketika di komfirmasi menyangkut hutang obat ke pihak distributor, Humas RSUD Kota Bekasi, Usep Rahman berkelit. Dia beralasan hendak menanyakan dahulu ke rekannya bila menyangkut hutang rumah sakit. “Nanti yah mas, kalau urusan itu saya tanyakan dulu ke bagiannya langsung,” jelasnya singkat dalam sambungan telepon kepada INDOPOS.

Seperti yang diberikan sebelumnya, Direktur Utama RSUD Kota Bekasi Titi Masrifahati mengatakan, bila sekarang stok obat khusus penyakit jantung dan kejang sudah minim persediaan. Hal itu disebabkan, karena terkendala tekhnis pengiriman obat.

Selain itu, penyebab minimnya stok obat, kata Titi, disebabkan karena kedatangan pasien berobat selalu diatas rata-rata kedatangan obat. Semisal, seharusnya obat yang diprediksi akan habis dalam satu bulan, tetapi obattersebut malah sudah habis sebelum satu bulan. ”Permintaannya sangat banyak, tapi pengiriman obat cenderung lamban,” jelasnya dalam pesan singkat. (dny)

Komentar telah ditutup.