Kasus Hukum Pelecehan Seksual Terhadap Bocah Masih Berlanjut

indopos.co.id  – Proses hukum terkait kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur yang menimpa dua bocah SD yakni JE (4), JA (7) dan ER (6) oleh teman sepermainan yakni Hero –bukan nama sebenarnya (13) pada Sabtu (2/4) lalu masih berlanjut. Saat ini berkas perkara sudah diterima oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kutim, dan masih diteliti kelengkapannya.

Seperti diwartakan sebelumnya terungkapnya kasus ini bermula saat, seorang Ibu, Mira–bukan nama sebenarnya–warga Jalan Yos Sudarso IV, Sangatta Utara, Kutim, anak perempuannya Je (4) yang sedang bermain tak jauh dari rumahnya. Sekira pukul 15.00 Wita, Je pulang. Namun gerak-geriknya mencurigakan, terutama dari cara murid TK itu yang berjalan agak lain dari biasanya.

Baca Juga :

Angkat Sumber Radio Aktif

Mira pun bertanya dari mana saja Je bermain. Awalnya dia tidak menjawab. Tetapi setelah didesak, Je pun mengaku kalau dia sedang “bermain” bersama dua bersaudara Ja (7), Er (6), dan satu kawan lain yang usianya lebih tua, yakni Hero. Mira yang penasaran lantas menanyakan permainan apa yang dimaksud. Rupanya Je mempraktikkannya dan sontak membuat Mira kaget. Mira lalu memeriksakan Je ke bidan terdekat.

Kemudian pada Minggu (3/4), Mira melaporkan kasus itu ke unit PPA Polres Kutim. Polisi pun langsung melakukan penyelidikan dan mengamankan He. Setelah didesak, Hero mengakui perbuatannya. Dia juga menyebut menyodomi Ja dan Er yang berstatus murid SD.

Baca Juga :

Kasi Pidum Kejari Kutim, Amanda didampingi Jaksa dalam kasus ini, Muhammad Israq mengaku sebelumnya lebaran pihaknya sudah menerima berkas tahap I kasus ini dan hingga kini masih terus melakukan pemeriksaan. Dalam waktu dekat kata dia pihaknya akan melanjutkan ke tahap II yakni penyerahan barang bukti dan tersangka.

“Sementara masih proses banyak yang harus diteliti. Berkas ini sudah satu kali masuk, namun karena tak lengkap jadi dikembalikan (P-19) untuk dilengkapi,” sebutnya.

Terkait kasus ini proses hukum akan terus berjalan mengingat upaya diversi yang pernah ditempuh pihak penyidik kepolisian tidak berjalan mulus karena keluarga korban tidak terima atas perbuatan pelaku.

Sementara itu saat ini pelaku masih dititipkan di rumah aman yang dijaga oleh anggota Polres Kutim karena untuk proses penahananya tidak bisa berlaku.

“Sesuai UU Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak SPPA pada pasal 32 ayat 2 huruf (a) untuk anak usai dibawah 14 tahun tidak diperkenankan ditahan. Sementara pelaku ditangkap saat berusia 13 tahun 11 bulan,” ucapnya.

Terkait ancaman hukuman sesuai dengan berkas yang diajukan penyidik dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satlantas Polres Kutim yakni, Pasal 76 E UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, jo Pasal 82 Ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002, dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun. Sementara terkait vonisnya nanti juga bergantung putusan hakim dalam proses pengadilan namun mengacu pada Pasal 71 UU tentang SPPA, ada lima sanksi yang diberikan ke anak pelaku pidana yakni, peringatan, bersyarat (pembinaan di luar lembaga atau pelayanan masyarakat), pelatihan kerja, pembinaan dalam lembaga, terakhir baru penjara. “Penjara tetap jadi opso terkahir, karena untuk kasus anak diharapkan anak bisa berubah menjadi lebih baik, namun tetap dipenjara atau tidak nanti diputuskan di pengadilan,” singkatnya. (aj/*/dns/kppn)


loading...

Komentar telah ditutup.