BPN Pesimistis Proyek Tol Desari Selesai 2019

indopos.co.id – BPN Kota Depok menyatakan pesimis jika Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Pusat dapat menyelesaikan masalah pembebasan lahan untuk pembangunan Tol Depok-Antasari (Desari) di wilayah Cinere. Hal itu karena warga pemilik lahan masih bertahan memasang nominal ganti untung yang sangat tinggi. Dan juga harus melakukan perpindahan pipa gas milik PT Pertamina.

”Jika mereka bilang selesai dibayarkan sampai 2019, itu pasti tak akan tercapai. Jangan Tol Desari, masalah Tol Cijago saja masih terkatung-katung sampai sekarang. Kepesimisan kami ini karena pembebasan lahan itu sekarang mulai dinaikan harganya sama si pemilik,” tegas Kepala Kantor BPN Kota Depok, Dadang M Fuad kepada indopos.co.id, ketika dikonfirmasi, kemarin (17/07).

Baca Juga :

Pergeseran Tanah, Satu Rumah Nyaris Ambruk

Menurutnya, persoalan berat pembangunan Tol Desari di wilayah kota peyanggah ini karena mahalnya harga tanah dan ketersediaan lahan menjadi perhatian oleh pemangku kepentingan. Sehingga, untuk mengejar target pembangunan fisik yang direncanakan tidak akan berjalan mulus. Lebih lanjut, Dadang menjelaskan, masalah kesemerautan pembebasan tanah itu akibat tidak adanya ketetapan harga lahan dan bangunan oleh Pemkot Depok. Akibatnya patokan harga tinggi oleh pemilik lahan pun dilakukan untuk mendapatkan keuntungan lebih.

Terutama masalah itu terjadi di wilayah pusat kota yang aksesnya berdekatan dengan DKI Jakarta. Dikonfirmasi terpisah, Kepada Sub Direktorat Pengadaan Tanah, Ditjen Bina Marga Pusat, Herry Marzuki menuturkan, bahwa Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), yakni PT Wasphutowa bersedia menalangi sisa pembebasan lahan pembangunan Tol Desari di Cinere.

Baca Juga :

Kata dia, total anggaran yang dipersiapkan mencapai Rp1 triliun lebih. Dengan dana talangan itu pihaknya optimis masalah pembebasan lahan tol Desari akan dapat diselesaikan. ”Wasputhowa mau bayar, totalnya aja Rp500 miliar sampai Rp700 miliar. Ya pasti selesai karena dana talangan yang disiplan sampai triliunan,” ungkapnya. Seperti diketahui, ruas Tol Depok-Antasari dikerjakan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Waspphutowa.

Panjang jalan yang menghubungkan Jakarta hingga Depok ini mencapai 21,54 kilometer dengan lima seksi. Biaya investasi diperkirakan mencapai Rp2,99 triliun. Namun dalam perjalanannya pembangunan tol itu terhalang karena nilai ganti rugi yang diajukan masyarakat sangat kecil dari nilai yang diberikan PT Waspphutowa. Dan itu pula yang membuat warga pun tak mau menjual lahan mereka untuk pembangunan jalan bebas hambatan. (cok)

Baca Juga :

loading...

Komentar telah ditutup.