Alexa Metrics

Hummels Jadi Pilihan Utama, Morata Entahlah…

Hummels Jadi Pilihan Utama, Morata Entahlah…

Indopos.co.id- Setiap kali bursa transfer musim panas dibuka, selalu saja ada fenomena pemain yang dijual kembali ke salah satu klub lamanya. Atau, istilah yang paling ngetrend-nya adalah transfer balik kucing. Saat bursa transfer musim panas ini, siapa saja pemain yang balik kucing?

”PENGALAMAN di (Borussia) Dortmund adalah segalanya, tetapi saya ingin mendapatkan yang lebih bersama klub ini (Bayern Muenchen, Red),” ucap bek Mats Hummels begitu mengumumkan keputusan terbesarnya untuk meninggalkan Borussia Dortmund yang sudah membesarkan namanya demi kembali ke Bayern, klub masa kecilnya.

Hummels mengungkapkannya dalam sebuah wawancara dengan Sport Bild. Bek yang bernama lengkap Mats Julian Hummels itu pulang kembali ke Bavaria setelah tujuh musim merasakan indahnya masa-masa di Ruhr bersama Dortmund. Masa-masa di mana namanya tidak lagi hanya jadi penonton di bench seperti saat dua musimnya di Die Roten – julukan Bayern.

Masa-masa ketika nama Hummels selalu dielu-elukan bak pahlawan oleh ribuan fans Dortmund  yang selalu memadati tribun Signal Iduna – homeground Dortmund. Masa-masa di mana pemain pupuk bawang itu menjelma menjadi seorang pemimpin dalam permainan sebuah klub papan atas Bundesliga. Kepergiannya ke rival beratnya ini terjadi semusim setelah lengannya dibebat ban kapten.

Fans Dortmund tentunya ingat sehebat apa bek setinggi 191 sentimeter itu ketika diboyong oleh Juergen Klopp – pelatih Dortmund saat itu. Hanya sekali Hummels mendapatkan jatah main di Bayern, apa yang bisa diharapkan dari Hummels kala itu. Hanya saja, lapangnya kesempatan bermain begitu dia menjadi bagian Dortmund membuat namanya melesat tajam.

Per musim, rata-rata Hummels bermain lebih dari 37 pertandingan. Hasilnya, Dortmund dibawa menjuarai Bundesliga dua kali pada musim 2010-2011 dan 2011-2012 plus trofi DFB Pokal 2011-2012.  Satu-satunya yang belum dia gapai adalah juara Liga Champions. Musim 2012-2013, Dortmund hanya mampu finish sebagai runner up Liga Champions setelah kalah 1-2 atas klub lamanya, Bayern.

Ini bukan soal kilau uang besar dari kepindahannya. Konon, Bayern harus merogoh koceknya di kisaran EUR 38 juta (Rp 548,2 miliar) demi mendapatkan kembali pemain yang tujuh tahun lalu pernah disia-siakannya. Hummels menegaskan keinginannya kembali menantang sejarah kelam masa mudanya  itu karena ingin menebus mimpi di Liga Champions.

Tidak peduli apabila pada musim-musim berikutnya berbalik menjadi musuh nomor satu dari pendukung Dortmund. ”Usai gagal mengangkat trofi juara Euro 2016, saya rasa hanya Liga Champions goal yang terbesar yang ingin saya gapai berikutnya. Saya bakal lakukan segalanya demi sesuatu yang selama ini saya impi-impikan terjadi dalam karir saya,” koar pemain yang bisa bermain sebagai bek kanan itu.

Hummels bukan satu-satunya pemain yang kembali ke klub lamanya setelah merangkai sukses di klub-klub sebelumnya. Carlos Tevez misalnya. Dua musim lalu Carlitos – julukan Tevez – kembali ke klub masa mudanya, Boca Juniors. Bedanya, talenta Tevez sewaktu masih di Boca tidak sampai disia-siakan seperti Hummels.

Sebelum kembali ke Boca, Tevez pernah bermain di klub tersebut pada rentang waktu antara 2001 hingga 2004. Dalam tiga musim, Tevez mampu bermain 75 kali dan mencetak 26 gol. Atau, per satu musimnya dia bermain 25 kali dan mencetak 8,66 gol. Trofi Primeira Division 2003 Apertura dan Copa Libertadores di tahun yang sama jadi kenangan manisnya.

Tevez hanya satu dari contoh pemain yang pernah sukses dan ingin kembali merangkai sukses di klub lamanya. Lebih banyak pemain yang kembali ke klub lamanya setelah sulit berkembang begitu bermain di klub lain. Didier Drogba misalnya. Selepas kepergiannya dari Chelsea musim panas 2012 ke klub Tiongkok Shanghai Shenhua, bukannya makin menjulang karirnya.

Sebaliknya, karirnya makin meredup. Setelah dari Shenhua, bomber Pantai Gading itu ganti ke Galatasaray. Meski mendapatkan satu trofi Super Lig musim 2012-2013, tetap saja Drogba merindukan masa-masa indahnya di Chelsea bersama Jose Mourinho. Reuninya berbuah trofi Premier League dan Piala Liga musim 2014-2015.

Kembali dengan trofi. Itulah yang diharapkan Hummels. Apalagi, dengan kembali ke Bayern ini dia bisa kembali berkolaborasi dengan pasangan mainnya di Die Mannschaft – julukan timnas Jerman, Jerome Boateng. ”Secara teoretis, dengan defense yang tangguh impian itu akan terealisasi. Jangan lupa di tim ini juga punya Manuel Neuer,” klaim Hummels menegaskan musim barunya di Bayern tidak akan gagal mendulang trofi.

Hummels dan Boateng diprediksi akan jadi pilihan utama der trainer Bayern Carlo Ancelotti di posisi dua menara kembar di lini belakang. Dilepasnya Mehdi Benatia ke Juventus menjadi isyarat dia tidak akan menjadi pelapis atau pemanas bangku cadangan di Bayern. Di atas kertas, prospek transfer balik kucing Hummels ini jauh lebih baik ketimbang Alvaro Morata.

Sama seperti Hummels. Morata juga produk binaan dari Real Madrid Castilla. Morata juga pernah disia-siakan El Real. Dua tahun pertamanya setelah naik pangkat dari Castilla ke tim utama pun lebih sering menjadi cadangan. Musim 2010-2011 dan 2011-2012 hanya tiga pertandingan yang pernah dia jalani bersama Real.

Makanya, musim panas 2014 pemain kelahiran Madrid 23 tahun lalu itu dilepas ke Juventus dengan nilai transfer sebesar EUR 20 juta (Rp 288,5 miliar). Bukannya kembali menjadi spesialis bench, bersama La Vecchia Signora – julukan Juventus – karir Morata melesat. Dalam dua musim, dia punya peluang bermain sebagai starter 50 persen.

Musim lalu, Morata hanya kalah jumlah gol dari Paulo Dybala dan Mario Mandzukic. Dybala 23 gol dan Mandzukic 13 gol. Wajar, karena dua pemain itu lebih sering jadi starter ketimbang Morata. Tapi, aksi-aksinya sudah cukup untuk membuat Real seakan menelan ludahnya sendiri dan membawa kembali Morata ke Santiago Bernabeu.

Yang jadi pertanyaan, akankah kepulangannya ke Madrid ini akan membuatnya jadi lebih baik? Akankah Morata menjadi pilihan utama di Real seperti Hummels yang digaransi tempat utama di bek tengah Bayern? Ini masalahnya. Morata bermain sebagai striker, dan di Real sudah ada trio BBC yang diisi Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo.

Musim lalu, trio BBC mampu mendulang 98 gol dari total keseluruhan 141 gol Real sepanjang musim lalu. Atau, menyumbang 70 persen gol Real. Lalu, kalau sudah ada trio BBC, di mana Morata akan bermain? ”Saya tidak perlu membuktikan apa-apa lagi, toh saya balik ke sini bukan lagi berstatus sebagai pemain Castilla,” sebut Morata, dikutip dari AS.

Gambarannya, Morata hanya datang untuk menjadi ban serep ketika salah satu di antara trio BBC ada yang mengalami cedera. Harga kepindahannya yang mencapai EUR 30 juta (Rp 432,8 miliar) hanya untuk membeli kursi bangku cadangan bagi pemain pengoleksi tiga gol untuk timnas Spanyol di Euro 2016 itu.

Dilansir dari Mirror, entrenador Real Zinedine Zidane buru-buru menyanggah prediksi terkait dengan masa depan Morata itu. ”Dia anggota tim ini. Dia kembali ke sini dan kami pun senang dapat memilikinya lagi. Dia produk akademi yang sudah paham seperti apa permainan Real. Yang pasti, kami senang mendapatkannya lagi,” tutur Zizou, sapaan akrab Zidane.

Sayangnya, Zidane enggan menyebut di posisi manakah dia akan memproyeksikan posisi yang terbaik bagi Morata. Sebagai striker? Atau ada inovasi Zizou lainnya untuk Morata selama di Real? ”Kami punya skuad yang banyak, dan semua pemain akan berarti penting bagi tim. Begitu juga dengan Morata. Lihat saja nanti,” tegasnya. (ren)



Apa Pendapatmu?