Alexa Metrics

Rusia dalam Kepungan Doping

Rusia dalam Kepungan Doping

Indopos.co.id- Dunia Olahraga Rusia sedang diterpa isu miring. Doping, doping, dan doping. Tema itu terus menghantui dunia olahraga negara tersebut. Setelah cabang olahraga (cabor) atletik terkena sanksi dan bakal absen di Olimpiade karena kasus yan sama, kini seluruh kontingen Rusia direkomendasikan Badan Anti Doping Dunia (WADA) untuk dicoret dari keikutsertaan di Olimpiade Rio 2016.

Rekomendasi tersebut dilluncurkan WADA Selasa Kemarin (19/7) kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC). Penyebabnya tidak lain hasil dari investigasi tim khusus WADA pimpinan profesor hukum asal Kanada, Richard McLaren.

Dalam laporan setebal 103 lembar itu, Mclaren dan tim menemukan bukti Rusia sedikitnya telah melakukan pemalsuan 312 sampel tes doping. Yang bikin heboh, disebutkan aksi tersebut di bawah kendali pihak pemerintahan Rusia.

“Dokumen yang kami kumpulkan ini membuktikan, kasus ini telah demikian parah. Bukan hanya melibatkan pemerintahan Rusia di bidang olahraga, namun juga melibatkan badan keamanan negara mereka,” ucap Sir Craig Reedie, Presiden WADA seperti dilansir Los Angeles Times.

Kecurangan itu dilakukan secara sistematis di labotarorium Badan Anti Doping Rusia di Moskow. Disebutkan juga, aksi memalukan itu sudah berjalan sejak 2011.

Di sanalah sampel para atlet Rusia yang positif doping disiasati sedemikian rupa agar tetap bisa lolos mengikuti Kejuaraan Internasional. Caranya bisa dengan ditukar menggunakan sampel lain maupun dengan menambahinya dengan cairan zat tertentu.

Semua ini diungkapkan sendiri oleh wistleblower WADA. Sang wistleblower tidak lain adalah mantan Direktur Laboratorium Badan Anti Doping Rusia, Dr Grigory Rodchenkov. Pria tersebut menjabat direktur laboratorium selama sepuluh tahun yakni sejak 2005 hingga 2015.

November tahun lalu dia memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Saat itu sedang ramai-ramainya kasus Badan Anti Doping Rusia diduga membakar 1400 sampel urine yang disinyalir milik para atlet Rusia yang positif doping. Setelah mengundurkan diri, Rodchenkov memilih tinggal di Amerika Serikat (AS) untuk menjaga keselamatan dirinya.

Belakangan kepada New York Times, dia mengakui perbuatan tersebut. Rodchenkov mengatakan timnya di laboratorium terpaksa melakukan itu karena mendapat tekanan dan ancaman dari pihak keamanan negara (FSB).

Selain itu, Rodchenkov juga mengaku telah terlibat dalam pemalsuan 100 sampel urine selama gelaran Olimpiade musim dingin 2014 yang dilaksanakan di Sochi, Rusia. Rodchenkov bahkan mengatakan terlibat dalam mensuplai minuman keras maupun obat-obatan terlarang kepada atlet Rusia di tengah berjalannya even.

Di akhir gelaran, Rusia menjadi juara umum dengan mengumpulkan 33 medali. Atas jasanya ikut andil mengantar Rusia Juara, Rodchenkov dianugerahi gelar kehormatan secara langsung oleh presiden Rusia, Vladimir Putin.

Melalui menteri olahraga mereka Vitaly Mutko, Rusia sudah membantah secara tegas tuduhan yang mengatakan pemerintah Rusia terlibat praktik kotor tersebut. Namun demikian, Mutko juga menyatakan tetap mendukung langkah WADA yang terus melakukan bersih-bersih kasus doping di negaranya.

“Aku katakan sekali lagi, tidak ada skema doping yang dilakukan negara di Rusia ini,” ucap Mutko dilansir NZT.

Di lain sisi, para atlet atletik Rusia sendiri kini tidak tahu harus berbuat apalagi untuk mewujudkan mimpi bertanding di Olimpiade Rio. Pada usaha terakhir mereka  membawa sanksi federasi Atletik Internasional (IAAF) ke Penagadilan Arbitrase Olaharaga (CAS), usaha mereka juga agal.

CAS Kamis kemarin sudah memutuskan bahwa sanksi yang diberikan IAAF kepada seluruh atlet maupun organisasi di bawah naungan Federasi Atletih Rusia sah secara hukum. Kenyataan ini membuat atlet atletik Rusia mulai putus asa. Mereka tetap merasa keputusan ini tidak adil. Mereka juga mengeluarkan kalimat-kalimat frustasi di hadapan media.

Peraih dua emas olimpiade lompat galah Yelena Isinbayeva mengatakan, persaingan atletik di Olimpiade tahun ini tanpa Rusia tidak akan meriah. “Semua medali yang mereka dapat akan terasa palsu,” ucap perempuan 34 tahun tersebut.

Di Olimpiade London 2012, kontingen Atletik Rusia menjadi pengumpul medali terbanyak kedua dengan total 16 medali. Tepatnya tujuh emas, empat perak, dan lima perunggu. Raihan itu hanya kalah dari AS yang mendapat sembilan emas, 12 perak, dan tujuh perunggu. Itu kali ketiga berturut-turut Rusia menjadi runner up pengumpul medali terbanyak di cabor atletik ajang olimpiade. (irr)



Apa Pendapatmu?