Alexa Metrics

BI Catat Capital Inflow USD 8,5 M

BI Catat Capital Inflow USD 8,5 M

INDOPOS.CO.ID-Bank Indonesia (BI) mencatat tren peningkatan capital inflow (aliran dana asing masuk ke dalam negeri). Sejak awal tahun, capital inflow terakumulasi sejumlah USD 8,5 miliar. Sedang secara bulanan tepatnya Juni ke Juli ada aliran dana masuk menjadi USD 3,23 miliar.

BI mengklaim, kondisi itu menunjukkan sentimen positif. Menjadi pertanda kondisi ekonomi dalam negeri tengah mengalami perbaikan. Sekaligus dipersepsi positif oleh pemodal asing. ”Momentum ini harus dipertahankan dan dijaga secara konsisten,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung.

Aliran dana asing itu bilang Juda efek positif penundaan kenaikan suku bunga The Fed (the federal reserve) bank sentral Amerika Serikat. Di mana, untuk kali kesekian The Fed tidak buru-buru menaikkan suku bunga.

Penundaan dilakukan untuk mengerem penguatan dolar Amerika Serikat (USD) secara cepat. Akselerasi penguatan USD dikhawatiran memperburuk perekonomian AS pasca referendum (Brexit) British Exit -keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Kesabaran peningkatan suku bunga The Fed, dalam amatan BI, merangsang pelaku pasar membelokkan dana-dana taktis ke negara berkembang (emerging market), tidak terkecuali Indonesia. Itu dilakukan untuk mereguk imbal hasil investasi lebih menjanjikan. ”Investor melihat peluang terbuka di pasar negara berkembang,” imbuhnya.

Capital inflow itu diprediksi semakin deras karena pada saat bersamaan, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty (UU Tax Amnesty). Tax amnesty membuat para wajib pajak (WP) dari luar negeri ikut andil terhadap peningkatan capital inflow melalui repatriasi aset. ”Jadi, aliran masuk modal asing itu diperkuat program tax amnesty dan faktor global,” ulasnya.

Di samping itu, secara makro, fundamental ekonomi domestik menunjuk statistik positif. Karakteristik baik itu lalu dinilai pemodal sebagai tanda positif. Karena itu, Indonesia dilirik untuk mendapatkan aliran dana bersamaan dengan negara berkembang lain macam Filipina dan India. Inflasi berada di angka 4 persen dan defisit transaksi berjalan 2,2 persen membuat likuiditas terjaga.

”Defisit transaksi berjalan, inflasi, nilai tukar dan pasar modal juga positif. Ini membuat Indonesia menjadi sangat seksi untuk membiakkan investasi,” selorohnya. (far)



Apa Pendapatmu?