Ditunjuk Jadi Gateway Dana Repatriasi

INDOPOS.CO.ID-Bahana TCW Investment Management dan Bahana Securities merupakan manajer investasi dan sekuritas yang ditunjuk pemerintah menjadi gateway dana repatriasi. Selaku manajer investasi gateway, perusahaan pelat merah di bidang sekuritas ini dapat memberikan solusi yang lebih komprehensif bagi para investor melalui layanan pengelolaan dana nasabah individual atau lebih dikenal dengan Kontrak Pengelolaan Dana (KPD).

Direktur Utama Bahana TCW Edward Lubis mengatakan, melalui KPD, investor akan leluasa berinvestasi pada produk-produk yang ada di pasar modal seperti obligasi, saham, dan reksa dana. Selain itu, para investor juga dapat berinvestasi ke sektor riil melalui Reksa Rana Penyertaan Terbatas (RDPT).

Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang dalam tahap melengkapi ketentuan tentang aturan Pengelolaan Dana Nasabah Secara Individual (PDNI). Sehingga, investor kelak dapat berinvestasi pada instrumen investasi seperti RDPT, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Real Estat (KIK DIRE), bahkan berinvestasi ke properti melalui perusahaan.

”Produk perbankan seperti tabungan dan deposito dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas. Sementara untuk memenuhi kebutuhan pengembangan aset, para investor dapat memilih berbagai produk pasar modal. Salah satu kelebihan Bahana TCW, memiliki akses kepada proyek-proyek yang dikerjakan BUMN sehingga para investor dapat berpartisipasi dan menginvestasikan dananya ke proyek-proyek tersebut,” urainya.

Baca Juga :

BUMN ini juga memiliki berbagai macam produk reksa dana seperti reksa dana berbasis saham, obligasi, campuran, pasar uang dan syariah. Reksa dana memiliki beberapa keunggulan seperti pajak yang lebih rendah dibandingkan dengan deposito dan sudah final serta memiliki denominasi dalam rupiah dan dolar AS sehingga memberikan banyak pilihan.

”Dana repatriasi diwajibkan diendapkan di dalam negeri minimal selama tiga tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun ini, penempatan pada obligasi pemerintah juga dapat menjadi pilihan. Instrumen investasi seperti obligasi pemerintah yang aman memberikan pendapatan lebih stabil dan biasanya disukai oleh investor yang memerlukan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya,” ungkapnya lagi.

Seperti diketahui, program tax amnesty atau pengampunan pajak telah memberi kesempatan kepada para wajib pajak untuk melaporkan dan membawa asetnya kembali ke Indonesia jika aset itu berada di luar negeri. Tarif tebusan yang ditetapkan pemerintah berkisar antara 2 persen dan 5 persen.

Ini tergantung dari periode pelaporan dan repatriasi aset tersebut. Jika aset tersebut hanya diinformasikan saja kepada Ditjen Pajak dan tidak dibawa pulang ke Indonesia, maka tarifnya lebih besar. Yaitu, berkisar antara 4 persen dan 10 persen. Ini juga tergantung pada periode pelaporannya.
Misalnya, seorang wajib pajak yang memiliki dana tunai di sebuah bank di luar negeri. Ketika menyatakan ada tambahan aset berupa dana tunai tersebut dan membawa dana itu masuk ke Indonesia, wajib pajak dikenakan tarif tebusan sebesar 2 pesen jika melapor pada periode pertama.

Selanjutnya, dana dari bank asing itu dipindahkan ke dalam negeri melalui bank persepsi yang telah ditetapkan pemerintah. Dana yang masuk itu dapat ditempatkan pada produk-produk perbankan yang ada di bank persepsi seperti deposito dan tabungan.

Selain menempatkan dana pada produk perbankan, wajib pajak juga dapat melakukan diversifikasi asetnya, wajib pajak juga dapat menjadi investor dengan menempatkan juga aset pada produk-produk di pasar modal. Penempatan aset di pasar modal itu dapat dilakukan melalui manajer investasi dan sekuritas yang ditetapkan pemerintah menjadi gateway dana repatriasi. (ers)


loading...

Komentar telah ditutup.