Hadapi Perfect Storm, Optimistis Potensi Generasi Muda

INDOPOS.CO.ID – Posisinya sebagai Managing Director and Chief Operating Officer World Bank membuat Sri Mulyani rindu pada almamaternya. Kemarin (26/7), Ani, begitu mantan menteri keuangan tersebut akrab disapa, melepas kangen pada kampus tempatnya menimba ilmu dulu.

Perempuan yang telah malang melintang di dunia ekonomi dalam negeri tersebut didapuk menjadi pembicara dalam kuliah umum bertajuk “Yang Muda Yang Beraksi: Peran Pemuda untuk Mencapai Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif” di Universitas Indonesia, Depok. Ani menyebut kedatangannya pada almamaternya kali ini sebagai edisi home coming.

Baca Juga :

”Saya ingin kembali ke kampus tempat saya belajar dulu, home coming. Meski saya belajarnya di kampus Salemba, bukan di Depok, namun beberapa kali saya juga ngajar di Depok,” ujarnya di awal pidato. Pidato berlanjut dengan pemaparannya tentang dinamika yang terjadi pada perekonomian Indonesia yang sempat diterpa krisis ekonomi pada 1997-1998 silam. Sambil berbagi pengalamannya selama malang melintang di dunia ekonomi di tanah air, Ani juga memberikan penjelasannya tentang tugas dan wewenang yang dilakukannya selama menjadi petinggi di Bank Dunia.

Gejolak yang kini tengah dialami oleh ekonomi global juga tak luput dari isi pokok dalam pidato tersebut. Negara-negara berkembang, lanjutnya, sepanjang dua dekade belakangan yang digadang-gadang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia tengah dihadapkan pada tantangan berat. ”Ibarat badai yang datang bersamaan secara sempurna, atau perfect storm,” jelasnya.

Baca Juga :

Perempuan kelahiran Bandar Lampung, 53 tahun lalu itu menyebut perfect storm tersebut yakni berupa melemahnya ekonomi dan perdagangan dunia, perlambatan dan perubahan struktural ekonomi Tiongkok, rendahnya harga-harga komoditas, menurunnya aliran modal ke negara berkembang, meluasnya konflik dan serangan terorisme, serta perubahan iklim global.

”Negara-negara pengekspor komoditas, dengan jutaan penduduk miskin, mengalami pukulan paling keras. Sebanyak 40 persen revisi penurunan ekonomi dunia berasal dari kelompok negaranegara ini,” jelasnya. Kondisi tersebut pada akhirnya memerlukan kerja sama yang semakin erat dan kuat dan koordinasi kebijakan antar negara. Kerja sama tersebut diyakini dapat membangun kembali kepercayaan, dan menghilangkan halangan perdagangan dan investasi untuk menunjang produktivitas dan memulihkan pertumbuhan ekonomi.(dee)


loading...

Komentar telah ditutup.