Laba Bersih Astra Rp 7,11 Triliun

INDOPOS.CO.ID-Performa Astra International (ASII) belum menunjuk tanda-tanda membaik. Penyebabnya, kinerja bisnis alat berat dan pertambangan terus memburuk. Efeknya, laba bersih anjlok 12 persen menjadi Rp 7,11 triliun dibanding semester pertama 2015 di kisaran Rp 8,05 triliun.

Pendapatan bersih minus 5 persen menjadi Rp 88,20 triliun.?Raksasa otomotif nasional itu menderita rugi selisih kurs sebesar Rp 251 miliar, naik bila dibanding semester pertama 2015 sebesar Rp 74 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 5,4 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 5,3 triliun. Menilik kinerja itu, laba bersih per saham turun 12 persen menjadi Rp 176 per lembar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 199.

Baca Juga :

Dari sejumlah lini bisnis usaha, bisnis usaha alat berat dan pertambangan mengalami penurunan laba bersih terbesar. Bisnis alat berat dan pertambangan tekor 45 persen menjadi Rp 1,12 triliun. Lana bersih bisnis jasa keuangan turun 40 persen menjadi Rp 1,25 triliun. Sedangkan kontribusi laba bersih bisnis teknologi informasi melemah 3 persen menjadi Rp 73 miliar.

Adapun kenaikan laba bersih terbesar disumbang infrastruktur, logistik dan lainnya naik 156 persen menjadi Rp 174 miliar. Sedang bisnis agribisnis berkontribusi laba bersih tumbuh 78 persen menjadi Rp 631 miliar. Manajemen mengklaim tantangan semester pertama tahun ini berasal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap alat berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank (BNLI) masih akan dirasakan hingga akhir tahun.
”Jadi, tantangan berat itu telah menggerus kinerja astra Group,” tutur Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto.

Baca Juga :

Prijono melanjutkan, pihaknya berharap kinerja bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid. Itu akan menjadi penopang dan menyangga performa Astra ke depan. Karena bagimana pun, dengan ekonomi lesu, permintaan dan daya beli masyarakat ikut tertekan. ”Kami tetap positif melihat pasar,” ucap Prijono.
Pada penutupan perdagangan kemarin, saham Astra naik 0,68 persen ke level harga Rp 7.425 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 4.344 kali dengan nilai transaksi harian Rp 508,7 miliar. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan tercatat Rp 301 triliun, di bawah HM Sampoerna (HMSP) Rp 468 triliun, Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rp 437 triliun, Unilever (UNVR) Rp 365 miliar dan Bank Central Asia (BBCA) Rp 352 triliun. (far)

Komentar telah ditutup.