Tidak Substansial, Kasus Wayan Mirna Masih Berdebat Soal Barang Bukti

INDOPOS.CO.ID– Persidangan pembunuhan Wayan Mirna Salihin kembali hanya membahas masalah yang tidak terlalu substansial. Sepanjang persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat Kamis (28/7), kuasa hukum Jessica Kumala Wongso hanya menyoroti jumlah kopi bersianida dan kopi pembanding yang dimasukkan ke dalam botol sebagai barang bukti.

Jaksa penuntut umum (JPU) awalnya meminta keterangan saksi dari Resmiati selaku guest reception officer (GRO) kafe Olivier, Grand Indonesia. Mia, panggilannya, bertugas untuk mencatat semua tamu yang datang. Mia yang bertugas mengantar Hani dan Mirna itu sempat mendatangi meja 54 tempat Mirna sudah kejang-kejang. ’’Iya, warna cangkir itu sudah kuning,’’ ujar dia ketika ditanya.

Baca Juga :

Profesi Hukum Perlu Tingkatkan Kompetensi

Namun, Otto Hasibuan selaku kuasa hukum Jessica meminta keterangan dari Nur Indra Purnama Sari. Dia adalah pelayan yang bertugas mengangkat gelas berisi sianida itu menilai bahwa isinya tidak seperti kopi susu pada umumnya. Sebab warnanya kuning muda dan baunya menyengat. ’’Waktu saya angkat, memang bau,’’ terangnya.

Devi Siagian, manajer kafe Olivier pun kembali diminta untuk memberikan keterangan oleh Otto. Saat itu, dia ditanya mengenai dua botol yang dijadikan barang bukti. Devi menyebut bahwa dia memasukkan kopi pembanding ke dalam botol San Pellegrino sesuai dengan permintaan Polsek Tanah Abang. Kopi pembanding itu dimasukkan untuk dibawa ke Puslabfor Mabes Polri.

Baca Juga :

Itulah yang dijadikan Otto untuk menyerang JPU. Menurutnya, pada persidangan awal, JPU mengajukan barang bukti yang disebut adalah kopi bersianida. Sementara menurut pengakuan Devi, botol San Pellegrino itu adalah berisi kopi pembanding yang tidak beracun. ’’Berarti jaksa salah dong mengajukan bukti,’’ ujar dia.

Ucapan itu pun memantik perseteruan. Baik Otto maupun Ardito Muwardi selaku ketua tim JPU memiliki asumsi masing-masing. Menurut Otto, barang bukti yang diajukan berbeda. Pada berita acara, barang bukti yang diserahkan adalah dua gelas yang terdiri satu gelas kopi bersianida dan satu gelas kopi pembanding, serta satu botol kopi berisi kopi bersianida.

Baca Juga :

Sementara itu berdasar hasil Puslabfor, barang bukti yang ada, adalah dua botol yang terdiri atas satu botol berisi kopi bersianida dan satu botol lagi berisi kopi pembanding, serta satu gelas bekas kopi bersianida. ’’Ini malah tidak sama,’’ cetusnya.

JPU pun memberikan penjelasan bahwa perbedaan itu karena ada dua penyertaan. Untuk berita acara, itu memang sesuai dengan apa yang ada. Namun ketika diserahkan ke Puslabfor, maka gelas berisi kopi pembanding dimasukkan ke dalam botol agar tidak tumpah ketika dibawa.

Sesuai persidangan, menurut Otto, barang bukti tidak boleh dipindah sembarangan. Meski yang menuangngnya adalah polisi. menurutnya, tanpa berita acara, hal itu sudah merusak barang bukti. ’’Itu tidak genuine lagi,’’ ujar dia lagi.

Pengacara senior itu menilai barang bukti tidak bisa dipindah sembarangan. Selain itu, ketika ditanya diantara kedua botol itu mana yang asli, JPU juga tidak mengetahuinya. ’’Masa jaksa tidak tahu. Kan itu bukti dia,’’ tambah dia lagi.

Otto mengaku kecewa dengan hakim. Menurutnya, hakim harus tegas karena itu adalah barang bukti utama. Bahkan dia mempertanyakan kenapa saksi yang lebih mengetahui yang mana botol yang tidak asli.

Sementara Ardito Muwardi selaku ketua JPU menilai, ada dua penyitaan. Sehingga ketika awalnya memang ada dua gelas dan satu botol. Lalu ketika ingin dibawa ke Puslabfor, polisi meminta agar kopi pembanding dalam gelas dimasukkan saja ke dalam botol. ’’itu nanti yang menjelaskan orang dari puslabfor,’’ kilahnya. (nug/jpnn)

Komentar telah ditutup.