Penyalahgunaan Lahan, Dinas Perumahan ‘Tutup Mata’

INDOPOS.CO.ID – DINAS Perumahan DKI Jakarta harus jeli melihat maraknya penyalahgunaan lahan di lingkungan rumah susun (rusun). Pasalnya, banyak oknum yang membangun hunian liar demi meraup keuntungan pribadi dan kelompok. Demikian ditegaskan Ketua DPD Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara) DKI Jakarta Agus Firmansyah kepada INDOPOS, kemarin.

Menurut Agus, banyak penyalahgunaan lahan rusun yang dibiarkan dalam kurun waktu lama. Padahal, lahan di lingkungan rusun tidak boleh berdiri bangunan selain unit rusun yang dibangun oleh pemerintah.

“Contohnya, Rusun Petamburan. Banyak rumah semi permanen dan gubuk liar yang dibangun oleh oknum pribadi dan kelompok. Ini dibiarkan lebih kurang 15 tahun. Pastinya oknum yang membangun itu berkoordinasi dengan oknum aparat di dinas perumahan. Rumah-rumah semi permanen dan gubuk-gubuk liar di sana disewakan dan diperjualbelikan,” beber Agus.

Melihat persoalan ini, Agus menyayangkan kinerja Dinas Perumahan DKI Jakarta yang membiarkan penggunaan lahan di lingkungan rusun secara illegal. “Harus ada yang bertanggungjawab atas pelanggaran ini. Padahal pemprov masih membutuhkan lahan untuk melengkapi sarana prasarana di lingkungan rusun,” tegas dia.

Baca Juga :

Ironisnya, kini Pemprov DKI tengah galak merelokasi penghuni bantaran kali dan permukiman liar ke rusun. Seiring dengan program normalisasi aliran kali dan mengembalikan fungsi lahan sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

Karena itu, Agus mendesak gubernur DKI Jakarta agar bertindak tegas terhadap maraknya penyelahgunaan lahan di lingkungan rusun. “Bila dibiarkan maka bisa terjadi perpindahan hunian liar dan membuat lingkungan rusun menjadi kumuh. Ini seperti bom waktu bagi pemprov. Menyelesaikan satu permasalahan tapi membiarkan permasalahan lain berkembang pesat,” tandas dia.

Baca Juga :

Di sisi lain, Lurah Petamburan M Rodi mengakui adanya penyalahgunaan lahan lingkungan rusun oleh oknum dan kelompok tertentu. Menurut Rodi, pada dasarnya lahan hijau yang ada di lokasi tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangun sarana yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.

Seperti membangun pasar sehat. “Selama ini, kami sering menertibkan lokasi pasar tradisional yang berada di depan rusun itu karena menggunakan lahan bantaran kali dan berada di atas saluran gendong. Setiap pagi, aktivitas pasar itu menimbulkan kemacetan. Semestinya bisa direlokasi ke lahan di lingkungan rusun, ketimbang digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok,” pungkas Rodi. (rul)


loading...

Komentar telah ditutup.