Headline

Eks Petinggi BPPN Bakal Jadi Tersangka Dugaan Koropsi

Redaktur:
Eks Petinggi BPPN Bakal Jadi Tersangka Dugaan Koropsi - Headline

INDOPOS.CO.ID- Kasus dugaan pembelian hak tagih (Cessie) PT Adyesta Ciptatama oleh PT Victoria Securities Indonesia Corporation (VSIC) akhirnya bakal memasuki babak baru. Kejaksaan Agung (Kejagung) sudah mengantongi tersangka kasus korupsi yang diduga merugikan negara ratusan miliar itu. ”Calonnya (tersangka-red) sudah ada, Arianto Tanudjaja, tinggal penetapannya saja,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Arminsyah di Gedung Bundar Kejagung, Jumat (29/7). Menurutnya, Arianto diduga masih berada di luar negeri, sehingga tak menutup kemungkinan proses hukumnya akan dilakukan secara in absentia (tanpa kehadiran tersangka-red). ”Kita sedang pertimbangkan itu (in absentia), tapi penyidik juga tak berhenti untuk menghadirkan yang bersangkutan,” ujarnya. Arianto merupakan mantan petinggi di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang pernah menjabat Analis Kredit. Meski sempat dikabarkan menghilang, Arianto tak kunjung ditetapkan sebagai buronan. Jampidsus mengaku masih ada beberapa hal yang belum terpenuhi untuk menyeret petinggi BPPN tersebut, sebagai buronan. ?”Masih ada (persyaratan) yang belum lengkap, jadi dia belum ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang),” jelas Armin. Namun, Armin belum menjelaskan persyaratan yang dimaksudnya belum lengkap. Ia hanya memastikan, bahwa ?Arianto tengah diupayakan oleh penyidik untuk dihadirkan ke Gedung Bundar. ”Penyidik masih butuh keterangan dia. Karena dia lah yang mengolah kasus ini. Dia kunci orang BPPN dan yang menghubungkan hingga terjadinya pembelian cessie tersebut,” ungkapnya. Selain Arianto, penyidik juga mencurigai lima orang saksi lainnya terlibat. Mereka di antaranya Mukmin Ali Gunawan, Lis Lilia Djamin, Suzana Tanojo, Rita Rosela dan Aldo. Saat ini, penyidik sudah mencegah mereka untuk bepergian ke luar negeri. Bahkan, juga memperpanjang masa pencegahan Mukmin Ali Gunawan. ?Pencegahan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyidik dalam melakukan pemeriksaan. Adapun, kasus ini berawal saat PT Adyaesta Ciptatama (AC) meminjam kredit ke Bank BTN, untuk membangun perumahan di Karawang seluas 1.200 hektare (ha). Bank BTN, lalu mengucurkan kredit sekitar Rp469 miliar, dengan jaminan sertifikat tanah seluas 1.200 ha. Masalah muncul, ketika krisis moneter (Krismon) terjadi, BTN pun tak urung menjadi salah satu bank masuk program penyehatan BPPN. Badan ini, selanjutnya melelang kredit-kredit tertunggak termasuk aset PT AC berupa tanah 1.200 ha. ?Lelang digelar, PT First Capital ?sebagai pemenang dengan nilai Rp69 miliar, tapi First Capital belakangan, membatalkan pembelian dengan dalih dokumen tidak lengkap. Kemudian, BPPN melakukan program penjualan aset kredit IV (PPAK IV), 8 Juli 2003 hingga 6 Agustus 2003 dan dimenangkan oleh PT VSIC dengan harga yang lebih murah lagi, yakni Rp26 miliar. PT AC telah mencoba menawar pelunasan kepada Victoria dengan harga di atas penawaran BPPN, yakni Rp266 miliar. Tapi VSIC menaikkan harga secara tidak rasional sebesar Rp1,9 triliun. (ydh)?

TAGS

Berita Terkait

Headline / Tujuh Politisi Hadapi Hadapi Tuntutan JPU

Headline / Gubernur Aceh Nonaktif Divonis 7 Tahun Penjara

Banten Raya / Korupsi, 70 PNS di Banten Dipecat

Nasional / Kasus Korupsi Saat Ini Demi Kepentingan Politik


Baca Juga !.