Buru Provokator Rusuh Tanjungbalai

INDOPOS.CO.ID – Penggunaan media sosial yang tanpa batas memunculkan masalah mengkhawatirkan. Polri mendeteksi penyebab kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara terjadi karena disulut provokasi di media sosial. Penyebar provokasi  di media sosial itu sedang dikejar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa berdasarkan analisa Polri, kerusuhan itu disebabkan sesuatu yang sangat sepele. Yakni, provokasi di media sosial. Awalnya, memang ada pertengkaran antar tetangga yang cukup panas. ’’Ada warga keturunan yang bersuara cukup keras dan coba diselesaikan di Polsek,’’ paparnya.

Baca Juga :

Tujuh Remaja Jadi Tersangka Tanjung Balai

Saat perdebatan itu, ternyata di media sosial seseorang mengunggah informasi yang berbau provokatif. Warga yang sudah membaca atau mengetahui informasi itu kemudian berkumpul dan akhirnya secara sporadis membuat aksi kekerasan. ’’Rumah, vihara, klenteng dan mobil dibakar,’’ tuturnya.

Kapolri menghimbau pada pengguna media sosial untuk tidak menyebarkan isu negatif yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hal tersebut bisa jadi menyulut kerusuhan. ’’Kalau masyarakat terprovokasi, kasihan. Jadi tolong ada ancaman hukum bagi siapapun yang menyebarkan isu negatif seperti tu,’’ tegasnya.

Baca Juga :

Status Meliana Masih Terlapor

Polisi telah membentuk tim untuk melacak siapa saja pelaku provokasi itu. Bisa jadi, provokasi ini tidak dilakukan seorang diri, tapi beberapa pihak. ’’Tim ini sedang bekerja, tunggu saja,’’ paparnya ditemui di Bandara Halim Perdana Kusuma.

Kemarin, suasana pusat kota Tanjungbalai mulai menggeliat. Satu persatu pemilik toko mulai membuka usahanya karena pihak unsur FKPD ( Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) beserta FKUB dan MUI sudah melakukan peryantaan sikap bersama untuk mengantisipasi perstiwa itu dan menjamin situasi dalam keadaan kondusif.

Baca Juga :

Peristiwa Tanjung Balai Bukan Soal Agama

Gubernur Sumatra Utara Tengku Erynuradi yang datang ke Tanjungbalai, Minggu(31/7), meminta warga agar saling meminta maaf. ’’Nabi Muhammad SAW memaafkan umatnya sesama manusia hendaknya saling memaafkan. Nabi pernah dilempari dan dihina tetapi dia sabar suatu ketika yang melempar itu sakit nabi datang melihat orang yang melemparnya itu,’’ ujar Tengku Erynuradi.

Selain gubernur, ada pula Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut), Irjen Pol Raden Budi Winarso dan Pangdam I/BB Lodewyk Pusung. Mereka juga meninjau vihara, klenteng dan rumah Yayasan Sosial Kemalangan yang dirusak massa saat terjadi kerusuhan di Kota Tanjungbalai.

Sebelumnya Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan Sik menyatakan bahwa situasi keamanan dan ketertiban di  Tanjungbalai sudah terkendali. Massa tidak lagi bergerombol, kendati demikian polisi dan tentara masih disiagakan di vihara dan klenteng di Tanjungbalai untuk pengamanan dan mencegah kerusuhan susulan.

Sekretaris Daerah Tanjungbalai Abdi Nusa menyatakan, Pemkot Tanjungbalai sudah melakukan kesepakatan bersama unsur FKPD, M UI maupun FKUB. ’’Kita akan terus berupaya mengantisipasi agar persoalan itu tidak terulang kembali,’’ katanya.

Sementara Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghua Indonesia(PSMTI) Andi Asamara alias Taifing di halaman Vihara Triratna menyatakan, sangat menyesalkan pristiwa itu terjadi. Seharusnya tidak terjadi perbuatan anarkis merusak dan membakar Vihara. ’’Saya berharap hal-hal seperti keyadian ini tidak terulang,’’ harapnya.

Seperti diketahui, sedikitnya sembilan rumah ibadah umat Buddha terdiri dari Vihara dan Kelenteng di Kota Tanjungbalai dirusak serta dibakar dalam kerusuhan amuk masa yang terjadi Jum’at (29/7) malam sekira pukul 23.00 wib dan berakhir sekitar pukul 04.00 wib pagi. Tidak ada korban jiwa dalam peistiwa itu, bebera unit mobil, sepeda motor dan becak bermotor yang diparkir dijalaman Vihara Tri Ratna dan Yayasan Sosial kemalangan ikut dibakar dan dirusak. Tujuh orang pelaku penjarah berhasil diamankan di Mako Polres Tanjungbalai.

Vihara dan Kelentang yang dirusak diantaranya adalah Vihara Tri Ratna, Kelenteng Dewi Samudera, Kelenten Ki Ong Thua, Kelenteng Bhika Han Bihok berlokasi di jalan Asahan, Vihara Wat Chu Kang jalan Juanda, Kelenteng Hon Cun Chi Kung jalan Juanda ujung,  serta beberapa kelenteng yang terdapat di jalan Karya, jalan Jenderal Sudirman serta jalan Gazali Tanjungbalai Selatan.

Kerusuhan bermula dari protes atau keberatan seorang warga etnis tionghoa dengan suara adzan dari Masjid Al- Makshun di Jalan Karya Kelurahan Tanjubgbalai Kota I Kecamatan Tanjungbalai Selatan. Persoalan keberatan itu sebenarnya sudah dibicarakan di rumah warga tionghoa tersebut dan suaminya sempat minta maaf terhadap serombongan warga. Lalu, usai salat Isya dan dilanjutkan hingga ke kantor polsek setempat. Tanpa diduga  dengan protes itu sejumlah massa melakukan aksi pembakaran dan pengrusakan  vihara setelah gagal merusak rumah etnis tionghoa yang melayangkan protes tersebut.

Polres Tanjungbalai mengamankan M dan tujuh remaja yang diduga terlibat penjarahan saat aksi perusakan berlangsung. Ketujuh remaja yang diamankan berikut barang bukti, diantaranya pelat mobil, tabung gas elpiji, dan tape. Mereka adalah FR (15), HK (18), AA (18), MAR (16), MRM (17), AJ (21) dan MIL (10).  (adn/ilu/ted/wan/dyn/gun/idr)

Komentar telah ditutup.