Alexa Metrics

Paul Pogba Samai Histeria The King

Paul Pogba Samai Histeria The King

INDOPOS.CO.ID – Histeria akan kehadiran Paul Pogba ke Manchester United ini menegaskan satu hal. Bagaimana para pemain Prancis memberikan pengaruh besar kepada Premier League.  Sebelum Pogba, beberapa Frenchman meraih kemasyhurannya di tanah Inggris era Premier League. Yang paling diingat tentu saja Eric Cantona. Bersama The King, julukan Cantona, United meraih trofi Premier League empat kali, Piala FA dua kali, dan FA Charity Shield tiga kali.

Cantona adalah pemain Prancis pertama di masa Premier League. Mendarat dari Leeds United 6 Desember 1992 dengan harga GBP 2,24 juta (Rp 38,86 Miliar) Cantona memberikan dampak besar buat tim asuhan Sir Alex Ferguson itu.   “Cantona menghipnotis seisi Old Trafford. Stadion ini bersorak penuh kegembiraan untuknya setiap kali kaki Cantona menyentuh bola,” puji Sir Alex kepada Frenchman kesayangannnya itu.

Cantona kemudian menjadi sosok yang paling sukses melambungkan nama Premier League. Kontroversi yang paling terkenal dilakukan Cantona mungkin tendangan kung-fu kepada pendukung Crystal Palace sehingga Cantona dihukum delapan bulan.  Namun ada juga influence Cantona yang hingga kini masih dikenang. Yakni para pewaris nomor tujuh, nomor keramat United hingga tren kerah jersey yang ditinggikan.

Setelah Cantona, demam Frenchman serupa pun hadir di St.James Park lewat kelincahan David Ginola. Gaya dribbling Ginola yang meliuk-liuk menaklukkan lawan plus sikapnya yang flamboyan membuat Ginola meraih nama harum.  Ginola pun punya julukan Il Magnifico atau Si Megah. Walau faktanya tak ada gelar liga domestik yang diberikan pemain kelahiran Gassin, Prancis itu kepada Newcastle.

Premier League kian tenggelam dengan histeria usai Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 di tanah airnya. Penggawa timnas Prancis yang sukses di bawah Aime Jacquet pun kemudian beberapa diantaranya hijrah ke Premier League. Misal Marcel Desailly (Chelsea) dan Didier Deschamps (Chelsea).

Desailly yang bermain selama enam musim di Premier League mengatakan ketika hijrah dari AC Milan musim panas 1998, pada awalnya tak tahu banyak soal Chelsea. Namun kepada The Guardian Desailly mengaku preseden soal Premier League rupanya salah total.

“Ego saya terbanting ketika akhirnya saya menyadari betapa kerasnya liga ini. Saya harus menghadang penyerang berbadan besar seperti Dion Dublin juga Duncan Ferguson yang ternyata juga punya kelincahan,” tutur pemain yang meraih trofi Liga Champions bersama Milan itu.

Nah, kisah sukses Prancis secara kolektif terbesar didapat dari perjalanan Arsenal. Sang arsitek Arsene Wenger yang menukangi The Gunners, julukan Arsenal, sejak musim 1996-1997 memboyong talenta-talenta terbaik Prancis ke Premier League.

Pria kelahiran Strasbourg itu bahkan dikenal dengan kentalmya French connection di tubuh tim London Utara itu pada era 2000-an awal. Pemain seperti Patrick Viera, Robert Pires, William Gallas, Emmanuel Petit, Thierry Henry, Nicolas Anelka, dan Sylvain Wiltord sukses memberikan gelar bagi Arsenal. Bahkan Arsenal dan Wenger musim 2003-2004 tak terkalahkan. Rentetan rekor tak kalah ala Arsenal itu terhenti pada 24 Oktober 2004 oleh United.

Seperti diberitakan Manchester Evening Standard kemarin (31/7) sukses Prancis mencapai final Euro 2016 lalu pun tak lepas dari andil Premier League. Faktanya 14 dari 23 penggawa Prancis pernah dan masih bermain di kompetisi yang diklaim paling glamour di kolong jagad saat ini.

Dimulai di bawah mistar ada kapten dan kiper Tottenham Hotspur Hugo Lloris juga Steve Mandanda (Crystal Palace). Di lini belakang nama Laurent Koscielny (Arsenal), Bacary Sagna (Manchester City), dan Eliaquim Mangala (Manchester City). Bergeser ke lini tengah ada nama Morgan Schneiderlin (Manchester United), Dimitri Payet (West Ham), N’Golo Kante (Leicester City), Yohan Cabaye (Crystal Palace), dan Moussa Sissoko (Newcastle).  Di unit penyerangan terdapat nama Anthony Martial (Manchester United) dan Olivier Giroud (Arsenal).

Sedang mantan atau jebolan pemain Premier League di antaranya Patrice Evra (Manchester United) dan Paul Pogba (Manchester United). Bahkan sang pelatih Prancis Didier Deschamps meski hanya semusim, 1999-2000, pernah bergabung dengan klub London Barat Chelsea.

Lantas apa yang membuat para pemain Prancis seperti kerasan dengan iklim kompetisi di Premier League? Kepada AFP mantan pemain Newcastle dan Tottenham Hotspur David Ginola mengatakan ada beberapa hal.

Meski pada awalnya para pemain Prancis terbata-bata dalam berbahasa Inggris, lambat laun mereka bisa beradaptasi. Kemudian invasi pemain Prancis yang semakin deras pada akhir 1990-an bertahan hingga kini.   “Pada dasarnya ada pergeseran bahasa, budaya, dan semacamnya. Lalu kemudian para pemain Prancis ini beradaptasi dengan segala upaya,” tutur pria berusia 49 tahun itu.

Tak bisa dipungkiri seandainya tawaran menggiurkan terbesar dari Premier League adalah uang. Kemudian coverage siaran televisi Premier League ke seluruh penjuru dunia membuat pemain kian bersemangat.  Ginola mengumpakan seandainya ada dua tawaran dari klub Spanyol selain Real Madrid dan Barcelona serta klub papan tengah Premier League, maka dengan cepat pemain akan memilih bergabung di klub Premier League.

“Di Inggris, sepak bola bukan sekedar permainan sebelas lawan sebelas di lapangan persegi berwarna hijau. Tapi sepak bola sudah memasuki semua aspek kehidupan orang Inggris,” tutur Ginola. “Sepak bola adalah raja di Inggris,” tambah Ginola.

Sementara itu, mantan pemain Fulham asal Prancis Steed Malbranque menyatakan kebiasaan buruk para pemain Prancis. Yakni sering membantuk koloni sendiri di timnya.  Karena kendala bahasa, para Frenchman itu sering hanya mau berkomunikasi dengan pemain yang sama bahasanya. Dari kebiasaan itulah, para pemain Prancis saling menularkan pengaruh dalam timnya.

Malbranque kemudian memahami akhirnya mengapa Wenger merasa sreg dengan sesama pemain Prancis. Yakni karena pelatih yang tahun ini 20 tahun bersama Arsenal sangat paham karakter dan kultur pemain Prancis. Dan dengan mudah Wenger mendireksi para pemainnya. (dra)



Apa Pendapatmu?