Alexa Metrics

Mike Mohede Aset Bangsa

Mike Mohede Aset Bangsa

INDOPOS.CO.ID-Kematian penyanyi muda berbakat Mike Mohede mengejutkan banyak pihak. Namun bagi pakar kesehatan dan penulis buku-buku kesehatan Hendrawan Nadesul, kematian prematur penyanyi penuh talenta itu, bukanlah tanpa sebab singkat. Dia menilai kematian muda seseorang bisa akibat sikap hidup fatalistik.

“Saya prihatin, bukan saja karena dia aset bangsa, terlebih mestinya tidak perlu terjadi kematian prematur semacam itu,” kata Hendrawan Nadesul yang ditulis di aku facebooknya. Akun facebook Hendrawan Nadesul itu mendapat banyak like.

Mengapa seharusnya tidak perlu terjadi? Nadesul mengatakan, di mata medis ada kejadian yang diistilahkan sebagai kematian prematur, mati muda, premature death, kematian sebelum waktu yang sesungguhnya. Misal karena sikap hidup fatalistic.

“Membiarkan penyakit, ancaman penyakit, sehingga terjadi peristiwa seperti sedang menggali liang lahat sendiri, bisa sebab ketidaktahuan, atau sikap pembiaran. Tidak selalu harus dibilang kejadian ini sudah kehendak Yang Maha Khalik untuk setiap premature death semacam ini,” tulisnya.

Orang yang tahu bahwa penyakit diabetik, atau hipertensi, atau kelebihan lemak dalam darah bisa berkomplikasi pada jantung, otak, dan ginjal, kemudian berakibat kematian. Namun bersikap membiarkan penyakitnya tidak diobati tergolong sikap fatalistic. “Jadi kehendak siapakah kematian akibat sikap pembiaran tidak mengatasi penyakitnya?Bisa juga karena tidak tahu, sesat pikir, dianggap penyakit bisa selesai hanya dengan berdoa,” ulasnya.

Di mata medis, siapa pun, betapa beriman sekalipun seseorang, kalau penyakit berkomplikasi jantung, otak, atau ginjal dibiarkan tanpa upaya mengobatinya, cepat atau lambat, tentu akan mengancam nyawa, Sikap pembiaran penyakit berlarut-larut sehingga mengancam nyawa, tentu bukan sikap yang direstui Maha Khalik.
Kalau sekarang, kata dia, serangan jantung, stroke, dan kerusakan ginjal menambah besar angka statistik menimpa kelompok umur yang lebih muda, juga bukan kehendak Yang Khalik. “Dulu orang baru bermasalah dengan jantung, otak dan ginjalnya setelah umur kepala enam. Sekarang semakin banyak yang sudah menimpa kelompok usia produktif 40-an, bahkan lebih muda. bebernya. Artinya proses memburuknya penyakit sudah dimulai pada usia yang jauh lebih muda,” bebernya.

Anak di negara maju, dengan pola makan menu mewah, fast food, junk food, dan gaya hidup yang keliru, dinding pembuluh darahnya sudah mulai dilapisi tumpukan lemak sejak usia remaja. Kalau menu dan gaya hidupnya yang menyokong pembentukan tumpukan lemak pembuluh darah dibiarkan, maka setiap tahun tumpukan plaque itu bertambah tebal 2 persen, atau pada umur 40-an sudah menyumbat lebih separuh penampang pembuluh darah jantungnya. Beruntung kalau bisa kedapatan dan dipasang cincin stent, sehingga ancaman kematian bisa dicegah. Bukan jarang yang kebobolan.

“Kondisi membiarkan ini yang memasukannya menjadi berisiko terserang jantung koroner, selain berisiko terserang stroke, dan atau ginjalnya sudah bermasalah,” kata Hendrawan.
Proses puluhan tahun menjadi semakin memburuknya sumbatan lemak pembuluh darah, sebetulnya bisa dihentikan jauh hari sebelum semakin menyumbat pembuluh darahnya, saat serangan jantung dan atau stroke terjadi. Ada cukup waktu untuk tidak membiarkan sumbatan pembuluh itu semakin tebal, lalu terjadi serangan jantung koroner, dan atau stroke, atau merusak ginjal, lalu merenggut nyawa.

“Jadi itu berarti, kalau ada orang yang hari ini terserang jantung koroner, dan atau stroke, dan atau ginjalnya bermasalah, itu lantaran membiarkan penyakit yang mendasari sehingga lemaknya semakin menumpuk pada dinidng pembuluh darah jantungnya, lalu menyumbat pembuluh darah jantung dan atau otak, tidak dihentikan. Di mata medis akibat semacam ini bukan kehendak Yang Di Atas, kalau kemudian mereka terserang jantung, dan akhrnya merenggut nyawa,” ulasnya.

Dikatakan, semua orang dengan risiko terserang jantung, stroke, gangguan ginjal, bisa sama sehatnya dengan orang yang tidak memikul bakat atau risiko itu, kalau saja mengendalikan semua faktor risiko, yakni mengendalikan penyakitnya, dan memilih gaya hidup yang menyehatkan.

“Sayangnya mereka tidak melakukan paya pencegahan itu karena ketidaktahuan, kalau bukan sikap pembiaran pada penyakitnya,” ungkapnya.

“Saya pernah diundang Ikatan Manajer Indonesia (IMI) Drs Handi Irawan 10 tahun lalu, bicara bagaimana hidup sehat di usia produktif kalangan manajer. Tapi berapa ratus saja yang mendengar. Harusnya ada program penyuluhan pemerintah, sejak usia sekolah, bagaimana gaya hidup dipilih, dan terbentuk perilaku hidup sehat sejak sekolah dasar, agar ancaman kematian ketika usia masih belia, tidak perlu terjadi. Dengan cara itu aset bangsa bisa dijaga,” saran Hendrawan Nadesul. (*)



Apa Pendapatmu?