Belajar Banyak dari Olimpiade London 2012, Tontowi Lebih Fokus

INDOPOS.CO.ID – Tontowi Ahmad tak akan pernah bisa melupakan momen Olimpiade London 2012. Kala itu ia dan pasangannya, Liliyana Natsir, merupakan satu-satunya andalan Indonesia untuk meneruskan tradisi medali emas di kancah pesta olahraga multieven terbesar sejagat.

Besarnya tekanan sebagai tulang punggung skuad Merah-Putih menjadi salah satu hal yang membuat pasangan ini tak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Pasangan ini dihentikan oleh Xu Chen/Ma Jin (Tiongkok) di semifinal.  Tontowi/Liliyana juga gagal menyumbang perunggu karena kembali kalah dari Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark) di pertandingan perebutan tempat ketiga.

“Saat itu kami memang berandai-andai banget. Kami terlalu menggebu-gebu mau dapat emas. Kami menjadi harapan satu-satunya karena masuk semifinal sendirian. Karena terlalu berharap, saat kalah di semifinal itu kami langsung down. Padahal, kami masih punya tugas lagi di perebutan perunggu,” uangkap  Tontowi melaui pesan tertulisnya dari Sao Paulo (baca San Paulo, Red), Brasil, Rabu (3/8).

“Kami seharusnya fokus di satu demi satu pertandingan. Kalau sudah kalah di semifinal, kami harus bisa fokus menghadapi pertandingan selanjutnya. Tetapi kami malah tidak bisa tampil baik di perebutan perunggu. Padahal, rekor kami melawan Nielsen/Pedersen lumayan bagus,” tambah ayah dari Danish Arsenio Ahmad ini.

Baca Juga :

Olimpiade Bukan Ajang Demonstrasi

Kini, Tontowi mengaku sudah banyak belajar dari kesalahan di event empat tahun lalu tersebut. Oleh karenanya, pemain kelahiran Banyumas, Jateng 18 Juli 1987 ini tak mau terjebak lagi dalam situasi yang sama.Meskipun baru mengantongi satu gelar tahun ini di Malaysia Open Super Series Premier 2106, namun Tontowi/Liliyana masih menjadi pasangan ganda campuran terbaik negeri ini. Pasangan ramuan pelatih Richard Mainaky ini tak hanya berjalan sendirian menuju Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Mereka didampingi Praveen Jordan/Debby Susanto, juara All England 2016 yang bukan tak mungkin akan membuat kejutan.

Selain itu, Indonesia juga punya andalan di sektor lain seperti ganda putra yang diwakili pasangan rangking dua dunia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Juga ada pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari yang memiliki peluang meraih medali. “Kondisi sekarang memang lebih baik. Kita punya beberapa andalan. Realitas ini cukup berpengaruh juga. Saya merasa termotivasi. Saya tidak mau kalah sama yang lain. Saya ingin yang terbaik,” jelas Tontowi.

Ia juga menjelaskan, persiapan kali ini sudah bagus. Karantina di Kudus, misalnya, bahkan menjadi momen yang sangat membantu pemain menyegarkan pikiran,” ungkapnya.

Jelang hari H, Tontowi memang terlihat lebih rileks dibanding dengan Olimpiade sebelumnya. Ia sering berbagi cerita dengan Ahsan. Keduanya memang dekat sejak sama-sama menjadi penghuni klub Djarum. Baik Tontowi maupun Ahsan menyandang target yang tak bisa dibilang ringan.

“Saya dan Ahsan memang dekat dari waktu di klub dulu. Kami sering sharing bareng seperti yang pernah Ahsan posting di Instagram. Waktu itu di Australia Open Super Series 2016, kami kalah di babak awal, padahal dulu kami biasa pulang di akhir turnamen. Semoga di Olimpiade kali ini kami bisa sama-sama berhasil,” tuturnya.

Meskipun tak lagi muda, namun Tontowi mengaku di olimpiade kali ini, semangatnya masih tinggi untuk merebut emas. Usia bukanlah penghalang baginya. “Harus dijaga mindset-nya. Kalau mikirnya tua, fisik jadi gampang capek. Hidup ini penuh perjuangan. Kalau kita mau sukses, kita harus berusaha. Kita tidak boleh santai-santai. Di dalam diri saya, sebetulnya saya adalah pejuang keras. Semoga saya bisa mewujudkan mimpi menjadi juara Olimpiade,” pungkas Tontowi. (bam)

Komentar telah ditutup.