La Nina Disebut Tentukan Arah Inflasi

INDOPOS.CO.ID – Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi paruh kedua tahun ini akan dipengaruhi fenomena hujan berkepanjangan (la nina). Kondisi itu bakal mengurangi pasokan dan mendongkrak harga bahan pangan. Nah, risiko inflasi dalam jangka pendek akan bersumbu pada fenomena La Nina.

La Nina dalam amatan badan meteorologi, klimatologi dan geofisika (BMKG) mulai aktif sejak Juli hingga penghujung tahun ini. Sejumlah harga komoditas akan terkena dampak. Misalnya, produk hortikultura seperti bawang, cabai merah dan beras. Kejadian itu mirip peristiwa serupa edisi 2008 dan 2010 silam. ”Jadi, risiko tingkat inflasi pangan akan ditentukan cuaca ekstrem,” tutur Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Kamis (4/8).

Baca Juga :

Menurut Agus, guna mengantisipasi lonjakan harga, BI dan pemerintah akan mengambil sejumlah langkah. Salah satunya melalui sinergi dengan pemerintah daerah (pemda) dan petani di daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan.

Langkah itu telah dilakukan dengan pemerintah daerah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng). Khususnya, dalam hal penyediaan bantuan fasilitas untuk menanam bawang putih. ”Kami telah memberi bantuan kapasitas petani untuk menanam bawang putih pada 8 kabupaten di Jateng. Panen perdana awal Oktober mencapai 300 ton,” ulas Agus.

Baca Juga :

Core Cipete Resmikan The Red Corner

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) itu melanjutkan, BI mematok inflasi di kisaran 4 plus minus 1 persen. Proyeksi itu berlaku baik untuk tahun ini maupun tahun depan. Kemudian target itu akan diturunkan pada periode 2018 mendatang menjadi 3,5 plus minus 1 persen. ”Nah, untuk ?menjaga rancangan dan rangkaian inflasi itu, perlu menjadi perhatian secara kolektif,” tegas Eks Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri (BMRI) tersebut.

Selanjutnya, koordinasi pengendalian inflasi akan dilakukan BI bersama pemerintah dalam kerangka tim pemantauan dan pengendalian inflasi daerah (TPID). Langkah pengendalian inflasi itu misalnya menjaga ketersedian pasokan antar waktu di daerah, memastikan kelancaran distribusi pangan dengan membangun konektivitas, mendorong efisiensi tata niaga komoditi pangan, dan mempercepat pembangunan infrastruktur. (far)

Baca Juga :

AWS Pop-up Loft Mulai Debutnya di Jakarta


loading...

Komentar telah ditutup.