Identitas Bermasalah, WNA Terancam Dipenjara

INDOPOS.CO.ID – Suasana persidangan di salah satu ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Bogor berlangsung kondusif. Sidang itu berkaitan dengan identitas 9 imigran dari Tiongkok yang bermasalah. Hakim Ketua, Agung Sulistiyono memulai sidang dengan memanggil salah satu terdakwa untuk maju ke kursi panas, kemarin.

Dalam pelaksanaannya, sidang ditengahi oleh dua orang penerjemah bahasa Tiongkok yang duduk di samping untuk berkomunikasi antara Hakim, Jaksa Penuntut Umum, dengan terdakwa. Kemudian, Hakim Ketua meminta keterangan tentang identitas terdakwa.

Salah satu anggota Pengawas Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Bogor, Wahyudi yang menjadi saksi pertama dalam persidangan mengatakan bahwa penangkapan yang dilakukan pada tanggal 20 Juni 2016 lalu di kawasan Villa Duta sudah direncanakan. Hal itu berdasarkan koordinasi antara Kepolisian dan Imigrasi yang telah dilaporkan sebelumnya.

“ Tujuan operasi penangkapan dilakukan kepada para Imigran tiongkok waktu itu. Namun, saat ditanyai paspor, ke-9 orang ini tidak tahu di mana paspor mereka,” terangnya.

Baca Juga :

Crane Proyek Tol BORR Seksi IIIA Patah

Setelah interogasi dilakukan hakim, Jaksa Penuntut Umum Gunawan W menanyakan kesungguhan saksi dalam menjawab keberadaan paspor mereka. Wahyudi bersikukuh mereka menjawab tidak tahu keberadaan paspornya.

Jaksa Pentuntut Umum lainnya kemudian mengeluarkan barang bukti berupa beberapa paspor ke-9 terdakwa. Saat ditanyai, Wahyudi pun tetap menjawab tidak melihat paspor mereka ditunjukkan pada saat operasi penangkapan.

Baca Juga :

Wahyudi kemudian mengatakan, setelah operasi penangkapan dilakukan, para Imigran kemudian diserahkan kepada para penyidik untuk diperiksa. Sebanyak 22 orang di antaranya telah dideportasi, dan yang tersisa adalah 9 orang yang kini sedang dalam pemeriksaan PN Bogor.

Selaras dengan Wahyudi, pengawas lain pun mengatakan hal yang tidak jauh berbeda dengannya. Ia mengaku bahwa tidak menemukan paspor mereka pada saat penangkapan. Setelahnya, semua imigran diserahkan kepada para penyidik.

Selesai kedua saksi diperiksa, Kepala Seksi Status Imigrasi Hendra Noviardi menjadi ahli di dalam persidangan untuk memberikan keterangan perbedaan paspor dan visa. Penjelasannya soal paspor yang dikeluarkan oleh Imigrasi.

“Paspor itu untuk menunjukkan identitas yang dibuat oleh pejabat berwenang di suatu negara untuk melakukan perjalanan antar negara, sedangkan visa itu untuk memberikan ijin perjalanan kepada seseorang untuk mengunjungi negara tertentu dalam periode tertentu,” jelasnya kepada hakim.

Hakim kemumdian mempersilahkan Hendra maju ke meja untuk mengecek paspor salah satu terdakwa. Ia diminta untuk menjelaskan perjalanan yang sudah dilakukan terdakwa sebelum ke Indonesia.
“ Berdasarkan keterangan paspor, terdakwa ke Indonesia dalam jangka waktu 6 bulan dan kadaluarsa pada tanggal 21 Agustus 2016,” ujarnya. Di dalam paspor salah satu imigran asal tiongkok itu pun terdapat keterangan perjalanan – perjalanan yang telah dilakukan sebelumnya dari Mei 2015.

Beberapa negara yang telah dikunjungi pemilik paspor terkait, dalam hal ini salah satu terdakwa, telah melakukan perjalanan ke Malaysia, Thailand, Singapura, India, dan kali ini ke Indonesia.

Beres dimintai keterangan, Ahli pun dipersilakan duduk kembali dan terdakwa didampingi salah satu penerjemahnya kembali ke kursi panas untuk dimintai kejelasan berdasarkan keterangan para saksi dan ahli.
Sidang pun berjalan terus hingga larut malam sekitar pukul 21.30. Banyaknya jumlah terdakwa membuat hakim harus mempercepat proses persidangan mengingat efisiensi waktu.

Untuk putusan, jaksa penuntut umum memberikan tuntutannya kepada 9 orang WNA tersebut berupa hukuman kurungan maksimal selama dua bulan jika tidak membayar denda maksimal sebanyak Rp. 20 Juta. Hal tersebut berdasarkan Pasal 116 bahwa setiap orang asing yang tidak melakukan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 tentang keimigrasian. (dka/pkl2)

Komentar telah ditutup.