Alexa Metrics

Musim Terakhir Bagi Klub Raksasa di La Liga Dalam Transfer Beli Pemain

Musim Terakhir Bagi Klub Raksasa di La Liga Dalam Transfer Beli Pemain

INDOPOS.CO.ID – Musim ini bakal menjadi musim terakhir bagi dua raksasa La Liga, Real Madrid dan Barcelona, bisa ”berfoya-foya” di bursa transfer dengan membeli pemain-pemain yang dibanderol harga sundul langit.

Itu setelah Otoritas pajak Spanyol, Hacienda, mengumumkan adanya perubahan pada sistem pajak yang harus diterima oleh LFP, operator La Liga.

Dulunya, pemain hanya membayar 15 persen dari total gaji dimana itu termasuk image rights mereka. Klub kemudian memasukkannya kedalam Pajak Pertambahan Nilai sebesar 25 persen.

Artinya, Cristiano Ronaldo yang menerima EUR 17 juta (Rp 247,03 miliar dengan kurs EUR 1= Rp 14.531) per musim itu merupakan pendapatan bersih. Adapun jika ditambah pajak, Real berarti menggaji winger berjuluk CR7 tersebut dengan nominal EUR 21,25 juta (Rp 308,79 miliar).

Sekarang, klub harus mengikuti pajak tertinggi di Spanyol, yakni 46 persen. Dengan demikian, ada tambahan EUR 7,82 juta (Rp 113,63 miliar) yang harus dibayar Real kepada negara. Jika ditambah, Real mengeluarkan EUR 24,82 juta (Rp 360,67 miliar).

Pajak ini belum ditambah fee yang diminta oleh agen ketika proses negosiasi transfer atau perpanjangan kontrak.

Jika saja Real berhasil memboyong Paul Pogba dari Juventus dengan harga EUR 117 juta (Rp 1,7 triliun), maka setidaknya mereka membutuhkan dana tambahan hingga EUR 17 juta untuk membayar pajak Pogba. Belum termasuk komisi dari sang agen, Mino Raiola.

AS melaporkan bahwa Spanyol mulai melakukan investigasi terhadap klub-klub yang berada di level La Liga dan Segunda Division dengan 50 pemain diperiksa secara acak. Imbasnya, beberapa pemain pun harus mengeluarkan kocek lebih besar.

Tak pelak, keputusan ini direspon negatif oleh banyak pihak. Direktur La Liga, Javier Gomez berujar bahwa aturan ini membuat bintang-bintang :La Liga bisa beralih ke seluruh penjuru dunia dengan destinasi yang paling banyak dituju adalah Premier League Inggris.

”Isu ini adalah kabar sedih bagi La Liga dan sepak bola Spanyol secara keseluruhan,” keluh Gomez kepada AS. ”Kita tidak akan bisa menjadi kompetitif karena klub harus mengeluarkan biaya mahal untuk mendatangkan pemain bintang,” lanjutnya.

Sementara Direktur Finansial Persatuan Pemain Spanyol atau AFE, Ignacio Chinarro, memperingatkan bahwa aturan ini bisa berdampak serius kepada kesehatan keuangan klub-klub kecil maupun yang bermain di kasta dibawahnya.

”Kami sudah bekerja berbulan-bulan bersama pemerintah untuk merumuskan aturan ini,” tutur Chinarro. ”Artikel 92 UU Perpajakan jelas menyebut bahwa 15 persen gaji pemain bisa dibayarkan melalui klub,” paparnya.

Namun, Spanyol sepertinya memiliki dasar tegas dalam menegakkan aturan tersebut. Negeri Matador berkaca kepada penggelapan pajak yang dilakukan oleh Lionel Messi beserta ayah, Jorge Horacio Messi, selama periode 2007-2009.

Akibatnya, negara pun mengalami kerugian hingga EUR 4,1 juta (Rp 59,57 miliar) serta hukuman penjara selama 21 bulan.

Messi dan ayahnya urung menjalani hukuman di hotel prodeo karena hukum di Spanyol menyebutkan bahwa orang baru bisa dipenjara jika masa hukumannya minimal dua tahun atau 24 bulan.

Saat itu, banyak yang menyayangkan keputusan pengadilan sekaligus membela Messi. Salah satunya adalah Presiden LFP Javier Tebas.

Tebas mengatakan dengan hukuman ini, Messi bisa saja berubah pikiran untuk pergi. ”Namun, aku yakin dia tidak bersalah,” tutur Tebas kepada ESPN. (apu)



Apa Pendapatmu?